Sejarah Kota Padang (22): Eny Karim, Tokoh Berasal dari Tapanuli? Lika Liku Menelusuri Sejarah Masa Lampau

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Eny Karim adalah tokoh penting di Sumatera Barat maupun di Sumatera Utara. Namun, sejauh ini sangat sulit mendapatkan data dan informasi tentang Eny Karim. Informasi tentang Eny Karim yang ada di Wikipedia terbilang minim jika dibandingkan dengan kiprahnya. Adakah data dan informasi tentang Eny Karim terjadi missing link?

Eny Karim (wikipedia_
Menelusuri data dan informasi tentang Eny Karim sangat melelahkan. Petunjuk bahwa Eny Karim berasal dari Tapanuli sudah saya temukan beberapa tahun yang lalu ketika menulis serial artikel Kota Medan. Petunjuk ini juga muncul ketika menulis serial artikel Kota Bandung. Lantas apakah dalam serial artikel Kota Padang ini dapat menambah keterangan siapa dan bagaimana Eny Karim?

Di dalam Wikipedia, dengan melihat sepintas namanya, Eny Karim disebut seorang putri padahal Eny Karim adalah putra. Ini menunjukkan bahwa mengidentifikasi siapa Eny Karim memang tidak mudah. Suatu teka-teki. Untuk kelengkapan sejarah nasional, tantangan untuk menjawab teka-teki tersebut masih menggoda meski penelusurannya terbilang cukup berlika-liku.

Tokoh Penting

Eny Karim pernah menjabat Menteri Pertanian dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II, antara 24 Maret 1956 dan 14 Maret 1957. Dalam upaya normalisasi gerakan PRRI (pertentangan pusat dan daerah) yang dideklarasikan tanggal 15 Februari 1958 (desas desusnya sudah ada sejak akhir 1956), Eny Karim merupakan satu-satunya pejabat pemerintah pusat yang paling kompeten. Selanjutnya, dalam kapasitasnya sebagai pejabat di Departemen Dalam Negeri. Eny Karim juga pernah menjadi Gubernur Sumatera Utara pada periode 8 April 1963 sampai 15 Juli 1963. Lantas siapa Eny Karim?

Pada artikel sebelum ini siapa Dr, Abdoel Hakim yang pernah menjabat sebagai Wali Kota Padang sudah hampir tuntas ditelusuri data dan informasinya. Publikasi data dan informasi Dr. Abdoel Hakim sendiri sebelumnya bahkan sangat-sangat minim. Di Wikipedia saja hanya tertulis satu kalimat, yakni: ‘Dr. Abdoel Hakim atau disingkat A. Hakim adalah seorang dokter yang kemudian menjadi wali kota Padang periode 1947—1949’. Padahal dokumen dasar riwayat hidup Dr. Abdoel Hakim nyaris setebal buku. Dokumen dasar riwayat hidup Eny Karim ternyata juga cukup tebal. Mari kita sarikan

Eny Karim?

Het nieuws van den dag voor NI, 27-11-1902
Anggaplah (hipotesis) Eny Karim ayahnya adalah seorang dokter bernama Dr. Abdoel Karim. Surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-11-1902 melaporkan sejumlah siswa di Doktor Djawa School dipromosikan ke tingkat lima dan ke tingkat empat. Siswa yang dipromosikan ke tingkat empat (diantaranya) Abdoel Hakim van Padang Sidempoean dan Abdoel Karim van Padang Sidempoean dan Tjipto Mangoenkoesoemo dari Poewodadi’.

Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 28-01-1899: ‘seorang  pemuda belia bernama Abdul Hakim, murid sekolah Eropa di Padang Sidempoean akan diambil sebagai murid sekolah untuk pelatihan dokter pribumi (docter djawa)’. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-11-1904: ‘di Dokter Djawa School yang naik dari tingkat empat ke tingkat lima terdapat sembilan siswa yang mana tiga diantaranya dari luar Jawa (Manado, Ambon dan Padang). Sedangkan yang naik ke tingkat enam sebanyak 10 siswa (diantaranya) Abdul Karim dan Abdul Hakim. Satu siswa mengulang’. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-11-1905: ‘Ujian Docter-Djawaschool yang lulus ujian akhir terdapat tujuh siswa (diantaranya) Abdul Hakim dan Abdul Karim’.

Dengan demikian, Abdoel Karim, siswa yang berasal dari Padang Sidempuan mendapat gelar dokter pada tahun 1905.

Dr. Abdoel Karim besar dugaan adalah anak Si Goenoeng gelar Abdoel Karim. De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 17-09-1875 ter standplaats van den assistent-resident in de residentie Tapanoli, Si Goenoeng galar Abdul Karim, inlandsch schrijver bij dien assistent-resident (Asiosten Residen di Padang Sidempuan, Residen di Sibolga). 

Dua dokter yang pernah seangkatan dengan Dr. Abdoel Karim adalah Dr. Abdoel Hakim (wakil wali kota Padang di era sebelum kemerdekaan dan walikota setelah kemerdekaan) dan Dr. Tjipto (pendiri dan ketua pertama PNI). Dua dokter asal Padang Sidempuan ini mulai berdinas dan ditempatkan di kota yang berbeda. Dr. Abdoel Karim ditempatkan di Sawah Lunto Januari 1906, sedangkan Dr. Abdoel Hakim ditempatkan ke Padang Sidempoean, kampong halamannya.

Algemeen Handelsblad, 07-01-1906: ‘Departed Batavia per ss "Maetsuijcker" ke Telok Betong, Manna, Benkoeden, Indrapoera dan Padang (diantaranya) Dokter Abdul Karim’.Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-11-1906: ‘oleh Pelayanan Medis Sipil, ditempatkan dari Batavia ke Padang Sidempoeau, dokter asli Abdul Hakim’.

Dr. Abdoel Karim berdinas di Sawahlunto tidak lama, lalu kemudian dipindahkan ke Gunung Sitoli (Tapanoeli). Namun dalam perkembangannya, Dr. Abdoel Karim kembali berdinas di Sumatra Barat di Fort van der Capellen dan kemudian ke Sawahloento (ke tempat awal dia pernah bekerja sebagai dokter). Pada tahun 1914 Abdoel Karim telah meminta pemberhentian dengan hormat dari dinas negara’. Pada era Belanda, kontrak kerja adalah delapan tahun setelah itu boleh melanjutkan kontrak (baru) atau pension untuk beralih ke swasta.  

Bataviaasch nieuwsblad, 31-12-1906: ‘oleh Pelayanan Medis Sipil bahwa yang sekarang untuk sementara bekerja di pelayanan medis (diantaranya) di Sawah Loento (Sumatra’s Westkust) ke Goenoeng Sitoli (Tapanoeli), dokter asli Abdoel Karim’. Bataviaasch nieuwsblad, 06-08-1912: ‘van Goenoeng Sitoli naar Fort van der Capellen de inlandsche arts, Abdoel Karim’. Bataviaasch nieuwsblad, 30-08-1913: ‘van Goenoeng Sitoli naar Sawah Loento de inl. arts Abdul Karim’. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 25-03-1914: ‘Dokter asli di Sawahloento, Abdoel Karim telah meminta pemberhentian dengan hormat dari dinas negara’.

Sebagaimana diketahui nama lain Fort van der Capellen adalah Batoe Sangkar. Boleh jadi nama ‘batu sangkar’ berasal dari fort (benteng) van der Capellen. Di kota Batu Sangkar inilah disebut tempat kelahiran Eny Karim pada tanggal 27 Oktober 1910. Lantas timbul pertanyaan: apakah Eny Karim adalah anak dari Dr. Abdoel Karim? Sebagaimana diketahui nanti, Eny Karim secara politik berafiliasi dengan Partai PNI. Tokoh utama PNI adalah Dr. Tjipto dan Dr. Abdoel Hakim adalah tokoh PNI di Padang. Dr. Abdoel Hakim dan Dr. Abdoel Karim adalah tokoh PNI di Pantai Barat Sumatra. Dr. Tjipto, Dr. Abdoel Hakim dan Dr. Abdoel Karim pernah sama-sama satu kelas di Docter Djawa School.

De nieuwsgier, 26-03-1956
Identitas Eny Karim dilaporkan pertama kali oleh surat kabar De nieuwsgier, 26-03-1956: ‘De minister van landbouw Enie Karim (PNI), werd op 27 October 1910 te Batusangkar geboren. In 1931 studeerde hij af van de MOSVIA te Bukittinggi. Hij doorliep verschillende bestuursrangen en was bij zijn benoeming als minister-president ter beschikking van de goeverneur van Midden Sumatra’.  

Dr. Abdoel Karim

Permintaan pension Dr. Abdoel Karim tidak dikabulkan pemerintah yang boleh jadi negara masih kekurangan tenaga dokter. Lalu Dr. Abdoel Hakim diangkat lagi dan ditempatkan di Ketapang di West Borneo (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-03-1915).

Di Sibolga nama Abdoel Karim muncul ke permukaan pada tahun 1922 sebagai pimpinan PNI (De Indische courant, 07-01-1922). Pada waktu itu, SI Tapanoeli menginisiasi dilakukannya rapat umum yang menghadirkan semua organisasi. Rapat umum ini menjadi suatu gerakan pribumi untuk maju karena Eropa telah gagal. Rapat umum ini telah dilaksanakan pada bulan November tahun sebelumnya (1921). Rapat umum ini selain SI Tapanoeli juga SI daerah lainnya di Sumatra dan Christendon Batakbond. Dalam rapat umum ini,  yang semua koeriahoofdbond adalah PNI di bawah pimpinan Abdoel Karim. Dalam rapat pra kongres di Padang Abdoel Karim sangat aktif (yang bahu membahu dengan kompatriotnya, Dr. Abdoel Hakim). PNI dalam hal ini tampak lebih dominan dibandingkan dengan SI (yang berbeda dengan di Bandoeng, SI lebih dominan).

Hasil rapat umum ini merekomendasi diadakan Kongres Sumatra pada bulan Maret 1922 untuk membahas perlunya persatuan dan konsentrasi dalam gerakan pribumi di seluruh Sumatera dan kerjasama satu sama lain di masa akan datang. Pada bulan Desember para wakil-wakil dari organisasi dan daerah akan bertemu di Padang untuk merumuskan agenda Kongres Sumatra. Para pemimpin muda yang naik daun (popular) di Sibolga adalah Parada Harahap (editor Sinar Merdeka di Padang Sidempuan) dan Manullang serta Abdoel Manap (editor Hindia Sepakat di Sibolga).

Rapat umum ini persis yang terjadi pada tahun 1916 rapat umum yang diinisiasi oleh SI Bandoeng yangc beberapa bulan kemudaian SI Medan menginisasi rapat umum di Medan. Setelah tiga tahun berikutnya SI Tapanoeli menginisiasi rapat umum di Sibolga. Sebagaimana diketahui pentolan PNI di Bandoeng adalah Dr. Tjipto, sementara di Padang (Padangsch) adalah Dr. Abdoel Hakim (lihat De Sumatra post, 14-01-1922) dan di Sibolga (Tapanoeli) adalah Dr. Abdoel Karim. Sebagaimana diketahui Tjipto, Hakim dan Karim adalah pernah sama-sama satu kelas di Docter Djawa School.

Abdoel Karim telah memainkan peran penting dalam aksi-aksi yang muncul dalam sarikat yang bisa membawa kehidupan baru di mana-mana, terutama NIP Padang dan di tempat lain, meski ini terdengar terlambat (De Preanger-bode, 10-02-1922). Peran PNI ini terutama dalam pajak dan bahkan aksi PNI telah menyebabkan seorang controleur harus dicopot dari jabatannya. Aksi-aksi PNI dan Abdoel Karim akhir-akhir ini bahkan telah didukung oleh golongan adat dan munculnya anti kapitalis serta golongan tua juga memberi simpati.

Ketokohan Abdoel Karim terus menguat di Pantai Barat Sumatra. Abdoel Karim tidak hanya menanamkan PNI di Pantai Barat Sumatra tetapi juga telah menjadi motor dari Kongres Sumatra (1922). Sumatranen Bond akan mengisyaratkan akan berpartisipasi di dalam Kongres Sumatra (De Indische courant, 10-04-1922).  Di Batavia juga dilaporkan Tjokroaminoto (SI) sudah keluar dari tahanan dan akan kembali ke gerakan (politik).

Ketua Sumatranen Bond kini dijabat oleh Mohamad Zain. Sumatranen Bond didirikan di Belanda oleh Sorip Tagor tahun 1 Januari 1917 dan kemudian di Batavia dibentuk cabang. Kini, Sumatranen Bond berpusat di Batavia.

Nama Abdoel Karim menghilang setelah Kongres Sumatra. Namun Dr. Abdoel Karim muncul sebagai anggota dewan kota Sawah Loento (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-07-1928). Disebutkan bahwa ditunjuk Abdoel Karim bertindak dokter pemerintah (Gouvernements Indisch arts) di tempat tersebut. De Indische courant, 16-06-1931 van Padang naar Pajakoemboeh de tijdelijk waarnemend Indisch arts Abdul Karim. Lalu kemudian terhitung sejak 31 Desember 1931 Abdoel Karim diangkat sebagai dokter pemerintah di Padang (Bataviaasch nieuwsblad, 02-01-1935).

Missing link: Nama Abdoel Karim sebagai dokter terdeteksi tahun 1915  ketika dipindah ke Ketapang dan Mempawah di Kalimantan Barat. Abdoel Karim muncul lagi namanya sebagai dokter tahun 1928. Selama 13 tahun (1915-1928) nama Abdoel Karim tidak pernah muncul dengan profesi dokter. Namun nama Abdoel Karim muncul sebagai tokoh politik di Pantai Barat Sumatra, sebagai tokoh PNI bersama Dr. Abdoel Hakim. Sebagaimana diketahui Dr. Tjipto adalah pendiri PNI di Bandoeng dan sebagaimana diketahui Tjipto, Hakim dan Karim pernah sama-sama satu kelas di Docter Djawa School.

Karir Eny Karim: Dari Walikota Bukittinggi Menjadi Menteri

Eny Karim disebutkan lahir tahun 1910 di Batusangkar (Fort van der Capellen). Sebagaimana diketahui Dr. Abdoel Karim pernah bertugas di Fort van der Capellen pada sekitar tahun-tahun yang mana EnyKarim lahir. Setelah lulus MOSVIA, Eny Karim memulai karir di Mempawah Kalimantan Barat, suatu tempat yang jauh dari Fort de Kock (almamater Eny Karim) dengan Mempawah (tempat mulai berkarir). Apakah ada kaitan dengan Dr. Abdoel Karim pernah bertugas di Mempawah?  Lalu setelah dari Kalimantan Barat, Eny Karim kembali ke Sumatera Barat di Solok, Sawah Lunto dan Fort de Kock, kota-kota dimana Dr. Abdoel Karim lebih lama bertugas.

Tiga hal lagi yang nanti dideskripsikan: pertama, Eny Karim adalah kader PNI sebagaimana Dr. Abdoel Karim? Kedua, ketika Eny Karim menjadi menteri di Kabinet Ali II (PNI) dan bersamaan dengan konflik PRRI mengapa Eny Karim yang diutus pusat sebagai pimpinan delegasi ke Sumatra Tengah? Sebagaimana diketahui di pusat ada Zainul Arifin Pohan dan Abdoel Haris Nasution dan di daerah Sumatra Tengah yang mendukung PRRI ada Mr. Egon Hakim Nasution, Letkol Zulkifli Lubis? dan Burhanuddin Harahap? Ketiga, Eny Karim diangkat menjadi Gubernur Sumatra Utara antara 8 April 1963 hingga 15 Juli 1963 untuk menggantikan Radja Djoendjoengan Lubis.

Eny Karim boleh jadi telah memainkan peran penting sejak pegawai hingga menjadi pemimpin di Padangshe Bovenlanden (Sawahlunto, Solok, Fort de Kock). Pada saat penyerahan kedaulatan RI oleh Belanda komite yang menerima di pihak Republik diantaranya Eny Karim dan Basjrah Lubis.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 10-12-1949 Pada tanggal 7 Desember transfer berlangsung dari warga dan pemerintah nrilitair-Bukittinggi, The khidmat e-penandatanganan. dokumen datang ke rumah pengamat militer UNCI. Di sini hadir, pihak Republik gubernur militer, Mr. Nasrun, Enny Karim, Basjrah Lubis dan Rakanadaljan. Dari pihak Belanda, de resident, dr. L. B. van Straten, assistent-resident PCFK. Textor, controleur WF. van den Berg als de CTBA, Agam en controleur Jansen’.

Pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda (1949) Eny Karim diangkat sebagai Wali Kota Bukittingi. Sementara temannya, Basjrah Lubis diangkat menjadi pembantu Gubernur di Sumatra Utara. Namun tidak lama kemudian Eny Karim diangkat menajdi tot hoofd van de afdeling Decentralisatie van het kantoor van ds gouverneur van de provinci Sumatera Tengah van de NRI (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-02-1950).

Pada tahun 1953 Fakultas Kedokteran USU dibuka. Dalam pembukaan ini hadir bupati Eny Karim mewakili gouverneur van Midden-Sumatra (Het nieuwsblad voor Sumatra, 20-08-1952). Sebagaimana diketahui Fakultas Kedokteran USU digagas oleh Gubernur Sumatra Utara, Abdoel Hakim Harahap yang juga bertidak sebagai Presiden Yayasan USU.

Karir Eny Karim terus meningkat dan kemudian diangkat menjadi Residen Sumatra Tengah. Pada tahun 1956 Eny Karim, resident Midden Sumatra diangkat sebagai Menteri Pertanian dari Partai PNI (Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 21-03-1956)

Eny Karim Pimpin Delegasi Normalisasi PRRI

Telah terjadi protes di Sumatra Tengah dan suhunya semakin terus meningkat. Di Jakarta Tokoh Sumatera Tengah yang tinggal di Jakarta, termasuk beberapa menteri (Sabilal Rasjad - PNI -, Eny Karim - PNI -, Dahlan Ibrahim - IP KI -,dan Rusli Abdulwahid – Perti. Jumat sore nya di rumah H. Siradjuddm Abbas bertemu untuk membahas situasi De nieuwsgier, 24-12-1956

Hal yang sama juga terjadi kegerahan di Sumatra Utara. Adalah Kolonel Simbolon yang mengungkapkan ketika berpidato. De nieuwsgier, 24-12-1956, Pidato Simbolon juga telah mendapat respon dari Gubernur Sumatra Utara Soetan Koemala Pontas.  

Di Jakarta, parlemen telah membicarakannya untuk mengatasi situasi yang diketuai oleh Sartono. Hasil keputusan akan dikirim delegasi pemerintah ke Sumatra Tengah Het nieuwsblad voor Sumatra, 17-01-1957. Siapa yang dikirim? Yang mampu melakukan tugas ini hanya Eny Karim. Gubernur Sumatra Tengah Ruslan Muljohardjo dalam posisi dilematis.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 19-01-1957. Departemen Pendidikan kemarin mengumumkan bahwa beketnd regpruigstV ^ den Sumatera akan dikirim di bawah pimpinan Menteri Pertanian Eni Karim, mandat dari presiden untuk melakukan pembicaraan dengan tingkat Banten akan membawa. Pengumuman pelayanan adalah sebagai berikut: Pertemuan kabinet pada 15 Januari memutuskan untuk mengirim delegasi untuk mengirim mandat dari presiden ke Sumatera Tengah, yang delegasi voorf akan dipimpin oleh ceruk mi' di bidang pertanian, Eni Karim. Setelah menghubungi direkam dengan Presiden Bant Gelar, kepala Ahmad Husein, yang telah setuju untuk menerima penuh Pemerintah delegasi, minggu berikutnya, bekerja "menyimpulkan bahwa delegasi akan berangkat Senin. Delegasi ini akan terdiri dari sebelas orang dan peran delegasi ini tercantum dalam Keputusan Presiden No. 4/1957.

Menteri Pertanian, Eny Karim (yang berasal dari Sumatera Tengah itu sendiri dan Menteri PNI). Eny Karim lahir di pedalaman (Batu Sangkar) dan pentolan pentolan PRRI umumnya tokoh-tokoh asal Sumatra Barat dan Tapanuli Selatan. Sementara yang memberi tugas di pusat adalah juga tokoh asal Tapanuli Selatan, seperti Zainul Arifin Pohan dan Abdoel Haris Nasoetion.

Hal serupa ini juga pernah terjadi ketika terjadi pemberontakan Atjeh. Yang pertama datang ke Atjeh adalah Zainul Arifin. Namun dalam perkembangannya, Atjeh yang waktu itu masih bagian dari Provinsi Sumatra Utara terpaksa Gubernur Abdoel Hakim Harahap diganti dan digantikan oleh SM Amin Nasution. Pergantian ini karena SM Amin Nasution lahir di Atjeh dan lahir dan mengenal budaya Atjeh. Setali tiga uang: Eny Karim dikirim oleh pusat karena Eny Karim lahir dan mengenal budaya Minangkabau dan juga mengenal (paling mudah berinteraksi) dengan tokoh-tokoh asal Tapanuli Selatan,

Sementara Eny Karim di Jakata mempersiapkan misi pemerintah ke Sumatra Tengah, Kepala Staf, Abdoel Haris Nasoetion telah berhasil meredakan suhu politik di Sumatra Utara dengan mencopot Kol. Simbolon dan mengangkat Letkol Djamin Ginting. Lalu terjadi pergeseran. Mayor Marah Halim menjadi Kasdam Bukit Barisan. Hal yang sama juga telah diredam di Sumatra Selatan. Militer di Sumatra Tengah yang tengah ‘berontak’ menjadi terjepit…

Soekarno-Hatta Retak

Tuduhan Kepada Hatta

Gubernur Sumatera Utara

Setelah situasi dan kondisi kondusif di Sumatra Tengah (dibagi menjadi tiga provinsi), Eny Karim diperbantukan menjadi Gubernur Sumatra Utara. Tentu saja ada alasan yang kuat mengapa Eny Karim menjadi Gubernur Sumatra Utara, seperti halnya ada alasan yang kuat Dr. Abdoel Hakim menjadi wali kota Padang. Eny Karim menggantikan Gubernur Radja Djoendjoengan Loebis.

Di Medan, Eny Karim bertemu kembali sobat lamanya Basjrah Lubis yang selama ini menjadi pejabat di lingkungan pemerintahan Sumatra Utara. Basjrah Lubis selama ini adalah pejabat di lingkungan Sumatra Utara. Eny Karim kembali bertemu Basjrah Lubis. Sebagaimana diketahui, Basjrah Lubis adalah anak dari Radja Djoendjoengan Lubis, gubernur yang digantikan oleh Eny Karim.

Eny Karim Berasal dari Sumatera Barat?

Lantas siapa Eny Karim? Apakah Eny Karim adalah anak Dr. Abdoel Karim? Pertanyaan lainnya, apakah Dr. Abdoel Karim benar-benar berasal dari Tapanoeli? Dan apakah Abdoel Karim yang berprofesi sebagai dokter juga aktvis pergerakan politik (PNI) di Pantai Barat Sumatra? Lalu, mengapa  antara Eny Karim begitu dekat dengan Basjrah Lubis di Bukittinggi dan Medan? Apakah ada kaitan antara Eny Karim dan Radja Djoendjoengan Lubis (ayah Basjrah Lubis) di dalam proses penggantian Gubernur Sumatera Utara?
Semua masih tetap tanda tanya. Sejauh penelusuran artikel ini, tidak ditemukan bukti-bukti yang sangat kuat Eny Karim berasal dari Tapanuli. Lantas apakah Eny Karim berasal dari Sumatera Barat. Hanya keluarga mereka yang mampu menjawab pertanyaan ini.
Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar