Sejarah Bandung (37): KF Holle, Tokoh Pendidikan di Preanger; Kweekschool Bandoeng Dibuka 1866

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Seseorang menulis pada surat kabar Java Bode 03-02-1864 mengindikasikan bahwa di Bandoeng dibutuhkan 15 guru. Namun tidak praktis dengan cara mengirim siswa untuk studi ke Belanda (seperti yang telah dilakukan oleh Willem Iskander). Pembaca menulis ini besar dugaan adalah KF. Holle.

KF Holle, 1860
Gubernur Sumatra’s Westkust Van den Bosche telah datang ke Tanobato untuk melihat sekolah guru yang didirikan dan diasuh Willem Iskander tanggal 13 September 1863. Dia melihat kemajuan sekolah guru itu dan mengusulkan kepada Gubernur Jenderal di Batavia agar sekolah guru di Fort de Kock dan sekolah guru di Tanobato ditutup dan dibangun di Kota Padang sekolah guru yang besar yang dapat dipimpin oleh Willem Iskander. Dalam tindak lanjut usul itu, parlemen (Raad van Indie) menolak usul itu. Yang mengemuka dalam siding itu perlunya regormasi pendidikan. Isu inilah yang diduga mengapa seseorang menulis di surat kabar Java Bode membentangkan kebutuhan guru sebanyak 15 orang.

KF Holle adalah seorang pengusaha perkebunan sukses di Preanger. Pengusaha perkebunan ini ternyata sangat suka belajar, mempelajari budaya dan kesusasteraan Soenda. KF Holle tampaknya memiliki misi yang ideal dan sesuai dengan kebutuhan di Preanger: meningkatkan literasi penduduk sambil mengembangkan kesusasteraan dan mengembangkan industri perkebunan dengan meningkatkan ketersediaan tenaga kerja pribumi yang terdidik.

Rumah Junghuhn di Lembang, 1860
Di Preanger, selain KF Holle juga sudah berkiprah dua tokoh penting lainnya yakni Ir. Junghuhn dan Dr. Groneman. Junghuhn adalah seorang geolog dan botanis berpengalaman yang pernah lama tinggal di Mandailing dan Angkola dalam memetakan dan perluasaan kofficultuur (1840-1845). Junghuhn di Preanger melakukan tugas dari pemerintah untuk memetakan geologi dan botani. Dr. Groneman adalah dokter yang banyak membantu pengembangan kesehatan penduduk.

KF Holle yang dekat dengan penduduk dan pemimpinnya dianggap pemerintah orang yang ideal untuk menjembatani misi pemerintah dan kebutuhan penduduk. KF Holle diangkat pemerintah setara sebagai pejabat pemerintah. Hal serupa ini juga pernah dialami oleh Junghuhn selain bertugas untuk pemetaan geologi dan botanis di Tapanoeli juga diangkat pemerintah pusat sebagai pejabat yang diperbantukan di daerah (1842-1843). Peran seperti inilah yang diduga mempercepat proses pembentukan sekolah guru (kweekschool) di Bandoeng. Sebagai upaya untuk menyediakan guru agar pada gilirannya pendidikan tersebar luas di seluruh preanger (bahkan West Java) perlunya sekolah guru sangat penting.  KF Holle telah melihat itu.

Dr. Gronemen, 1860
Investasi pemerintah yang berdampak langsung terhadap penduduk baru tiga: infrastruktur jalan, tenaga kesehatan dan peningkatan pendidikan. Investasi jalan dan jembatan dapat melibatkan penduduk melalui pemimpin local. Untuk bidang kesehatan sudah cukup dengan adanya Docter Djawa School di Batavia. Untuk bidang pendidikan dibutuhkan pembentukan guru yang memahami situasi dan kondisi local. Pengiriman guru ke Belanda (seperti Willem Iskander) biayanya dapat setara untuk membangun sekolah guru. Lantas dimana sekolah guru diadakan? Pemerintah Belanda adalah pemerintah colonial dengan misi keuntungan untuk Moederland (ibu pertiwi di Belanda). Setiap pengeluaran pemerintah baik kesehatan dan pendidikan dipandang sebagai investasi yang harus dikembalikan. Pembangunan sekolah guru di Soerakarta dan di Fort de Kock adalah lokasi dimana pusat ekonomi yang surplus di sekitarnya. Demikian juga penegerian sekolah guru di Tanobato (afdeeling Mandailing dan Angkola) dan pembangunan sekolah negeri baru di Bandoeng (Regenschappen Preanger) adalah pusat pertumbuhan ekonomi kopi saat itu. Singkat kata: empat lokasi sekolah guru ini sesungguhnya mewakili daerah yang memiliki surplus pendapatan pemerintah. Bahasa sekarang: Tidak ada makan siang gratis.  

Kweekschool Bandoeng, 1860
Pada tahun 1866 Kweekschool Bandoeng dibuka. Gedung sekolah guru Bandoeng ini sangat bagus dan terlihat mewah. Sementara sebelumnya, tahun 1865 sekolah guru di Tanobato, asuhan Willem Iskander telah diakuisisi pemerintah dan dijadikan sebagai sekolah guru negeri. Dengan demikian, sekolah guru di Bandoeng adalah sekolah guru negeri yang keempat di Hindia Belanda: Soerakarta (1851 untuk seluruh Jawa), Fort de Kock (1856 untuk seluruh Sumatra); diperluas di Tapanoeli (1865) dan diperluas di Preanger (1866).

Pada pembukaan Kweekschool Bandoeng hanya dihadiri direktur pendidikan pribumi dari Batavia dan Residen Preanger yang berkedudukan di Tjiandjoer. Mr. JA. van der Chijs, Inspektur Pendidikan Pribumi justru melakukan inspeksi dan datang untuk melakukan penilaian langsung terhadap Kweekschool Tanobato (Juni 1866). Hasil kunjungan van der Chijs ke Tanobato sangat mengharukan dan menghebohkan. Dampaknya pendidikan di Jawa terguncang.

Mr. JA. van der Chijs, Inspektur Pendidikan Pribumi segera setelah dari Kweekschool Tanobato, Kementerian Pendidikan lalu mempercepat perbaikan pendidikan di Jawa setelah pemerintah di kritisi oleh parlemen. Terungkap bahwa terdapat 15 dari 22 residentie di Jawa belum memiliki pendidikan. Sekolah guru Soerakarta tidak memadai untuk seluruh Jawa, sementara sekolah guru Bandoeng justru baru dimulai.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar