Sejarah Bogor (11): Digitalisasi Dokumen Sejarah di Bogor; Memutar Jam Kembali ke Masa Lampau

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Sejarah sering dilupakan dan bahkan terabaikan. Dokumen sejarah yang menjadi dasar penulisan sejarah kurang dipedulikan. Akibatnya, selama ini jika kita membaca sejarah suatu kota, terkesan compang-camping. Tidak hanya itu, data dan informasi yang menyertai deskripsi sejarah tersebut tidak lengkap, kurang akurat dan konsistensinya lemah. Hal-hal yang kelihatan remeh temeh ini, sesungguhnya telah menyebabkan gambaran sejarah kita kosong tentang konten yang sebenarnya. Apakah ini yang menjadi factor pemicu mengapa sejarah kurang diminati terutama oleh generasi muda?

Indonesia doeloe, 1617 (peta Portugis)
Pemerintah Kota Bogor telah melakukan terobasan, suatu program yang tidak lazim yakni program digitalisasi dokumen sejarah. Ini jarang terjadi jika tidak mau dikatakan tidak pernah ada. Wali Kota Bogor, Bima Arya baru-baru telah memulai babak baru kerjasama antara pemerntah kota dengan pusat arsip sejarah terkenal Koninklijk Instituut voor Taal- Land- en Volkenkunde (KITLV) te Universitiet Leiden untuk urusan digitalisasi dokumen sejarah. Program ini di satu sisi suatu lompatan jauh yang di satu sisi bagaimana kita memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan dan di sisi lain suatu cara kita memutar jam untuk mengetahui apa yang telah terjadi di masa lampau: Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga.

Digitalisasi Dokumen Sejarah

Digitalisasi dokumen sejarah sangat penting. Tidak hanya sekadar orang dewasa ingin mendekatkan diri kepada generasi milenial, melainkan lebih pada misi mempersiapkan apa yang diperlukan oleh generasi milineal nanti. Hal yang penting dari itu, setiap orang bisa mengakses siapapun dia dan dimanapun berada agar penulisan sejarah mendekati kebenaran. Inilah pentingnya digitalisasi dokumen sejarah. Tentu saja  digitalisasi dokumen sejarah akan mempercepat proses penulisan sejarah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Dokumen sejarah Kota Bogor bahkan tidak kurang dari 3000 dokumen dalam bentuk naskah, lukisan/foto dan peta sejak lama tersimpan dan siap digitalisasi. Digitalisasi dokumen sejarah tidak hanya penting tetapi juga dengan sendirinya memperkaya kota.

Indonesia era digital, 2017 (googlrmap)
Sebuah dokumen apapun itu (lisan/suara, tulisan/teks, lukisan/gambar dan grafis/peta) tidak ada artinya bagi orang lain jika itu tetap tersimpan di laci, di lemari atau di gudang. Nilainya sama dengan nol. Bahkan dokumen desertasi, tesis atau skripsi tidak memiliki nilai jika itu hanya tersiar di ruang sidang tetapi tidak pernah muncul di ruang public. Sebaliknya, sebuah kalimat atau satu paragraph teks yang dipublikasikan (dapat diakses semua orang) nilainya lebih tinggi bahkan jika dibandingkan dengan desertasi yang hanya beredar di ruang sidang. Ukuran modern tentang nilai dokumen adalah seberapa banyak pembaca, seberapa banyak dikutip dan seberapa banyak diterapkan dalam kehidupan. Itulah dasar pemikiran dan pentingnya digitalisasi dokumen yang dalam hal ini dokumen sejarah. Dunia sejarah bergeser dari ruang lemari (cabinet) ke ruang public (nternet).

Pemerintah Kota Bogor telah memulainya. Ini harus diapresiasi. Kita selama ini sangat tergantung kepada ahli sejarah yang dari mereka hanya segelintir yang punya kesempatan ke perpustakaan dan ruang naskah kuno di Leiden. Namun adakalanya, diantara mereka ahli sejarah ada yang ‘sedikit nakal’: di satu sisi menggelembungkan sesuatu yang kecil dan di sisi lain juga mengerdilkan sesuatu yang besar. Ini ironis. Tapi era digitalisasi sekarang sesuatu yang diterima selama ini dapat terkoreksi dan juga dapat dikoreksi. Proses eliminasi dengan sendirinya terjadi: Sejarah kita dimurnikan. Digitalisasi dokumen sejarah jaminannya.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar