Sejarah Bogor (16): Wisatawan Tempo Doeloe, dari Batavia ke Buitenzorg (1870); Ida Pheiffer Orang Eropa Pertama Lihat Danau Toba (1852)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin


Wisatawan tempo doeloe tampaknya cukup unik jika dibandingkan dengan wisatawan masa kini. Wisatawan tempo doeloe selain menantang geografis yang jauh, juga mengalami kesulitan perjalanan. Uniknya, diantara wisatawan itu ada yang ingin mengunjungi tempat yang belum dikunjungi orang Eropa. Perjalanan wisatawan ini ternyata masih berguna bagi kita, karena hasil perjalanan mereka ditulis dan mengirimkannya ke surat kabar. Bahkan diantaranya ada juga yang membukukannya. Catatan perjalanan wisata mereka inilah yang berguna bagi kita sekarang ini.

Ida Pheiffer, orang Eropa pertama lihat danau Toba
P van Diest, seorang Belanda melakukan wisata ke Buitenzorg yang dibukukan dengan judul Een Reistochtje van Batavia naar Buitenzorg yang diterbitkan CG Stemler, Amsterdam, 1872. Wisatawan kedua, seorang gadis Austria, Ida Pheiffer yang melakukan perjalanan wisata bahkan hingga ke Danau Toba yang ditulisnya dan dimuat dalam surat kabar Algemeen Handelsblad, 09-05-1853.

Dua pelancong tempo doeloe tersebut adalah P van Diest dan Ida Pheiffer. Mereka berdua adalah sebagian dari sejumlah pelancong yang dokumennya masih ditemukan utuh hingga ini hari. Dalam risalah mereka, banyak data dan informasi yang tidak ditemukan dalam deskripsi lain tetapi detail fakta justru sangat membantu pemahaman kita tentang tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Mereka ini tidak hanya berhasil menyenangkan diri mereka tetapi juga telah membantu menyebarluaskan pengetahuan (tidak hanya bagi orang doeloe tetapi juga bagi kita pada masa ini). Itulah kontribusi para wisatawan tempo doeloe.

P van Diest: Batavia naar Buitenzorg

Mrs. Diest memulai perjalanan dari Weltevreden (kini Gambir). Ongkos kereta (kuda) f12 per orang dan f6 untuk pembantunya. Perjalanan ke Buitenzorg akan ditempuh selama enam jam. Selama perjalanan sempat terjadi gangguan karena sekrup dan roda rusak dan memerlukan perbaikan setengah jam.

Perjalanan kemudian melalui Salemba dan Kramat lalu kemudian Meester Cornelis (Jatinegara), Bidara Cina, Kampong Macassar. Sepanjang jalan terlihat pohon kelapa dan sawah-sawah yang di kejauhan terlihat gunung Gede dan gunung Salak. Perjalanan akhirnya tiba di pos Tandjoeng (Pasar Rebo) yang mana istirahat sambil kuda diberi makan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan di sepanjang sisi sungai Tjiliwong hingga Tjimanggies dan seterusnya tiba di Tjibinong. Di beberapa tempat sepanjang perjalanan terdapat warong penduduk yang menyediakan nasi dan lauk, makanan kecil, kopi, air kelapa dan lain-lain. Dari Tjibinong lalu kemudian tiba di pos Tjilowar sebelum melanjutkan perjalanan menyeberangi melalui jembatan di atas sungai Tjiliwong.

Sebelumnya kami melalui pemandangan yang indah yang terlihat di kejauhan di sebelah barat sungai Tjiliwong yang mana terlihat bangunan dan lahan pertanian di Tjiliboet, Kedong Hallang dan Kedong Badak.

Rumah/kantor Asisten Residern Buitenzorg, 1870
Jembatan ini merupakan batas terdekat dengan hoofdplaat Buitenzorg yang mana jembatan ini panjangnya 40 meter. Dari jembatan ini agak sedikit menanjak yang di beberapa titik terlihat rumah orang Eropa yang mana di sisi kiri jalan terdapat jurang yang dalam (ke arah sungai Tjiliwong) dan di sisi kanan di kejauhan terlihat tribun 'wedloop societeit' (bangunan lapangan pacuan kuda yang menjadi stadion Padjadjaran yang sekarang). Setelah menanjak lagi sekitar ketinggian 20 meter mulai terlihat Istana Gouverneur-Generaal.

Lalu kemudian kami melewati rumah/kantor van den algemeenen secretaris van het gouvernement van Nederlandsch Indie dan van den assistent resident der afdeeling Buitenzorg dan sebuah bangunan het logement (losmen) yang diberi nama ‘Buitenzorg’.

Hotel Bellevue, Buitenzorg, 1867
Setelah melewati logement tidak lama kemudian kami tiba di hotel Bellevue (kini menjadi lokasi bioskop pasar Ramayana). Sebelumnya, kira-kira jarak 700 meter di sisi Groote weg (jalan Juanda yang sekarang) kami melawati kampong yang disebut Paleidang (Pledang), laboratorium dan bureau van den Directeur van ’slands Plantentuin en Museum dan kantor pos. Hotel ini menurun sedikit ke bawah tempat dimana terdapat bangunan utama hotel. Taman hotel yang dipenuhi bunga-bunga dan di dalam hotel hanya diterangi oleh lampu minyak yang mana langit-langit terlihat kekuningan. Selain bangunan utama juga terdapat bangunan tambahan yang terlihat dalam papan nama sebagai ‘le Chalet’ dan ‘Villa d'Amore’ dan lainnya.

Di belakang bangunan terdapat lembah yang mengalir sungai Tjidane (sungai Tjisadane) dan view gunung Salak. Di dalam lembah terlihat banyak pohon palem dan pohon buah-buahan yang mana di antaranya terlihat tersembunyi rumah-rumah penduduk. Juga terlihat jembatan bambu di atas sungai. Agak ke seberang sungai di ketinggian terlihat sawah dan tanaman kopi (koffijtuinen) dan bangunan-bangunan perkebunan (landhuizen).

Batoe Toelis, 1867
Demikian seterusnya. Buku kisah perjalanan ini setebal 53 halaman. Kisah perjalanan yang diterangkan juga meliputi seperti jalan pos weg menuju Preanger Regenschappen melalui Chinese kamp dan Batoe Toelis. Juga dikisahkan tentang lingkungan hotel sekitar seperi slokkan yang menjadi sumber air minum (kanal yang airnya disodet dari Tjisadane dan dialirkan ke sungai Tjipakantjilan yang akan mengairi persawahan ke hilir). Juga diuraikan perjalanannya yang melalui jalan Pledang terus ke Jembatan Merah dan disusul jembatan kecil (di atas sungai Tjisadane) menuju land Tjiomas, Dramaga, Tjampea, Bolang dan landrein lainnya hingga ke wilayah Bantamsch. Wisatawan ini cukup detail tentang kunjungannya pada setiap landrein yang dikunjunginya yang terdapat di seputar Afdeeling Buitenzorg yang meliputi sejarahnya, kepemilikan, luas lahan, jenis dan hasil produksi dan sebagainya. Buku ini diakhiri dengan tempat dan waktu: Valkenburg, Februari 1872.

Ida Pheiffer: Batavia - Padang Sidempuan Menuju Danau Toba

Peta Tapanoeli 1843-1847 (published 1852)
Ms. Ida Pfeiffer, seorang pelancong yang menemukan peta Tapanoeli yang baru terbit dilihatnya disebuah toko di Batavia langsung tertarik dan tanpa perencanaan yang matang melakukan perjalanan jauh ke Tapanoeli. Kisah perjalanan ini ditulisnya tanggal 12 Oktober 1852 dan dimuat dalam surat kabar Algemeen Handelsblad, 09-05-1853 yang terbit di Amsterdam. Berikut kisahnya:

‘Ekspedisi dan perjalanan ke Sumatra ini, tidak ada dalam rencana awal saya. Namun, seorang pedagang di Batavia yang begitu baik untuk saya, memperlihatkan peta untuk perjalanan ke Sumatera. Dengan kapal uap saya ke Padang, yaitu ibukota Hindia Belanda di pulau itu. Segera setelah kedatangan saya di sana, saya menghadap gubernur, diterima dan dicatat. Saya sudah berlama-lama, beberapa hari perjalanan saya terus di pedalaman dengan menunggang kuda.

Pemberhentian pertama adalah Fort de Kock (50 tiang), lalu menemui Residen van der Hart. Di sini dan seterusnya rencana wisata dirancang. Dia menunjukkan rute yang berbeda, aku harus mengikuti, serta tempat-tempat di mana saya harus berhenti, ia menulis beberapa surat kepada para pejabat, yang saya sampai di sini dan bahkan (batas-batas yang belum selesai di Bataklanden, dan memerintahkan mereka untuk melakukan perlindungan ke saya. Dia sendiri sudah mengenal teliti tujuh daerah, dia selama sekitar 10 tahun telah membuat ekspedisi lapangan terhadap negara-negara di wilayah itu dan sampai tembus Selingdoeng. Sedangkan tujuan saya membentang ke tingkat yang lebih jauh, yang lebih lama. Jadi dilengkapi, aku pergi dengan iman yang teguh di jalan sampai Padang Sidcmpoean (200 tiang), yang ini adalah tempat terakhir  dimana saya bertemu orang Europeers.

Rumah/kantor Controleur Angkola di Padang Sidempoean, 1846
Aku dengan kuda, berjalan perlahan, lalu berlari kencang, keluar masuk hutan, di semak ditemukan penuh jejak untuk harimau, gajah dan badak, aku tidak takut pada siang hari bolong; Saya sering melaju selama berjam-jam melalui hutan semak dan alang alang (3 sampai 6 kaki tinggi rumput). Dengan cara ini saya dapat menggambar Klein en Groot  Mandheling dan Ankola. Untuk Padang Sidempoean di Ankola, aku menghadap Mr. Hammers, dimana aku berdiam dua hari. Dari Tuan Hammers saya dapat beberapa panduan dalam perbedaan bahasa Bataksche. Setelah semua. diselesaikan, kataku yang terakhir kepada Europeer perpisahan hangat dan saya diantar pergi bersama sejumlah Batakchen untuk memandu jalan sekitar 20 tiang.

Aku masih duduk di atas kuda, tapi kemudian aku harus pergi dengan meninggalkan mereka. Berjalan selama tiga hari pertama adalah yang terlama yang pernah saya buat. Ekspedisi kami tidak pernah berhenti. Hutan ditembus, dimana sering tidak ada jalan lain dan menemukan jejak daripada badak, melalui alang-alang yang mencapai di atas kepala, melalui rawa dan rawa yang dalam, naik dan turun bukit curam, dan dengan kaki hampir melewati sepatu karena berada di tanah berawa tetap, di atas tanah yang basah terkandung kebetulan ada kerumunan lintah kecil yang tetap melekat pada tubuh, alang-alang menyayat setiap kaki, yang sering menyebabkan rasa sakit, terutama ketika mereka sudah tertusuk dan robek oleh oak. Setiap malam aku telah di hutan, mereka tidak pernah datang tanpa duri gratis, untuk melepaskan dilakukan dengan pisau oleh Batakker pertama yang terbaik. Saya memiliki tenda, dimana air hujan memukul saya di atas kepala. Bernasib tiada hari tanpa hujan, dan aku tidak pernah berganti pakaian linen. Suatu malam aku punya tenda di bawah langit terbuka untuk menghabiskan malam, dimana aku paling takut harimau dan ular. Aku tidur selalu di tanah yang dingin, tidak keberatan dan telah saya sering dilakukan.

Selama malam, saya dengan yang lain istrirahat  di hutan  dengan memasak beras semi kering yang direbus dengan sedikit tambahan garam, lalu saya melihat mereka mempersiapkan beras dalam cara yang sama sekali baru bagi saya. Mereka membungkusnya dengan 'daun besar (daun pisang), dan memasukkan beras ke dalam potongan bambu, kemudian menuangkan sejumlah kecil air, lalu meletakkan tongkat bamboo itu pada api pembakaran, mereka membiarkan berbaring begitu lama sampai bamboo kelihatan mulai terbakar, cukup lama berlangsung sejak bamboo segar dan isinya dipanggang.
          
Pada hari ketiga pada malam kami datang ke uta (desa) pertama Bataksche dan membuat masalah dan tidak mengizinkan saya. Untungnya dalam tur ini ada Rajah (Dja Pangkat) pemandu kami yang kenal Hali Bonar. Disamping itu di Padang Sidempoean aku punya surat rekomendasi dari Mr Hammer untuk dia. Melalui syafaat, aku berhasil diterima di desa; lantas mereka menunjukkan dan mengajak saya ke Soppo dimana  semua sisi pondok yang luar biasa, dan memberi kami beras. Hali Bonar berjanji akan memandu kami sekitar 70 tiang dari sini sampai berikutnya perjalanan dianggap lancar. Lalu kami datang ke uta Hali Bonar dan aku harus berlama-lama pada hari berikutnya, ia melakukan penyembelihan ternak untuk menghormati saya.

Singkat cerita, setelah selesai pesta (ada tari, music, drama/pantomime) hari berikutnya, kami dengan tenang melanjutkan perjalanan. Munculnya wajah Eropa di Bataklanden merupakan hal terbesar, terutama sejak tahun 1835, ketika dua misionaris dibunuh disana. Itu jadi kabar  kedatangan saya sebagai api berjalan tangan, mendarat jauh menyebar, sangat alami. Untuk setiap uta yang saya telah berlalu secara keseluruhan penduduk laki-laki dilarang saya jalan, dan dalam sekejap lingkaran pria menutup sekitar saya, mereka dipersenjatai pedang, tombak dan parang. Ekspresi mereka semua liar dan namun saya bisa mengatasinya. 'Saya tahu Anda tidak akan membunuhku, biarkan aku lewat, aku akan menemui pemimpinmu saja'. Dengan bahasa yang tidak jelas, saya akan berbicara. Dia adalah seorang berjenggot, tenang dan percaya diri, yang saya menjelaskan kepadanya, dia menenangkan hati orang-orang liar, lalu mereka berbicara pada nada ramah, lalu menjabat tanganku, saya melanjutkan, saya berdiam dalam uta mereka dan memberi saya makanan.

Setelah kami menempatkan perjalanan beberapa hari lagi, akhirnya tiba di lembah indah yang sepenuhnya produktif yang belum pernah saya lihat di seluruh Sumatera. Itu adalah sekitar 15 tiang panjang dan 5 tiang lebar, dan dikelilingi oleh pegunungan tinggi Sumatera dari Selatan ke Timur melintasi populasi disini sangat banyak, dan ada banyak uta yang tersebar di lingkungan. Mereka dikelilingi oleh lima meter dinding dengan tanah dan  oleh bamboes dan lainnya pagar hidup hijau dan sering masih dikelilingi oleh kanal. Dari rumah sendiri seseorang melihat apa-apa, karena 40-50 kaki bambu tinggi menyembunyikan seluruh uta. Lembah ini dilintasi  sungai yang indah Batang Toro dan beberapa kali banjir kecil terjadi, dan kaya dengan ubi (kentang) yang dibudidayakan; melihat seseorang dengan kawanan kerbau dan sapi padang rumput dan dimana-mana tampaknya berlimpah.

Menurut pernyataan dari pemandu saya, saya dilarang 15 sampai 20 pos ke arah danau. Apakah mereka membiarkan aku melihatnya sendiri dari perbukitan? Tapi tidak ada yang mau menemani saya. Orang-orang dari sekitar danau tinggal tengah terjadi perselisihan dan bahwa ekspedisi  kesana berbahaya. Saya sekarang sudah sekitar selusin perjalanan dan hingga sampai ke Negara Batak, sejauh ini berhasil seorang Eropa. Yang jelas memang satu hal saya tidak ada salahnya, saya hanya harus berterimakasih itikad baik saya dan keluarga saya. De Batakers mencintaiku, lebih dari duniawi, seperti Dayakker. Bahwa saya yakin saya tidak akan berkelana tanpa bantuan mereka atau perlindungan mereka untuk usaha saya. Perjalanan saya di Sumatera berada jauh hingga 721 tiang (paal). Saya pikir Anda juga memiliki banyak berita tentang ekspedisi lebih lanjut untuk lebih menanamkan’.

Perjalanan wisata nona Ida Pheiffer ini terbilang adventure yang sangat menantang saat itu apalagi dia seorang gadis dan hingga ke Padang Sidempuan seorang diri (lone ranger), Lalu dari kota itu dimana orang Eropa terjauh yang dia temui melanjutkan perjalanan ke danau Toba. Menurut seseorang yang mengenalnya yang ditulis oleh AJF Hamehs yang dimuat dalam surat kabar Sumatra-courant, edisi 17 Maret 1881, perjalanan nona yang cantik ini merupakan orang pertama orang asing (Eropa) yang pernah melihat danau Toba.

Sudut kota Padang Sidempoean, 1870
Sumatra-courant, edisi 17 Maret 1881: ‘Awal perjalanan ke Tapanoeli ini pertama kali dimulai tahun 1852 di Panjaboengan. Di Panjaboengan ada Asisten Residen (Godon) dan Controleur di Ankola yang berkedudukan di Padang Sidempoean. Saya di Koeringgi (antara Soeroematinggi dan Sigelanggan) dapat kabar dari Mr. Godon tentang Ida Pfeiffer. Ketika jam 10 pagi saya ingin menaiki kuda saya, tiba-tiba di kejauhan ada seseorang datang dengan pakaian mencolok mendekat. ‘Saya adalah Ida Pfeiffer’. Dia memakai penutup kepala, mengenakan rok coklat yang penuh dengan lumpur dan stoking serta sepatu tentara di kakinya. Lalu kemudian dia mandi ke sungai yang lagi meluap. Dia bertubuh sangat kecil, rambut pirang, dan sangat ramping. Dia saya bawa ke tempat saya dimana istri saya menjamunya makan siang. Dia mengatakan membuat rencana perjalanan ke Toba. Malam kami menghibur untuk bermain bridge.

Keesokan paginya dia memberitahu saya keinginannya untuk sesegera mungkin perjalanan ke Toba dan meminta saya bahwa dia akan perlu pemandu. Saya mencari pemandu yang dapat dipercaya, sebab ini adalah perjalanan yang banyak bahaya. Ketidaksabaran untuk segera berangkat sulit dimengerti untuk saya; dia absolutly tidak bisa sama sekali ada bahasa Hindia bahkan kata-kata Melayu hanya tahu sedikit, mungkin hanya sepuluh kata yang dipahaminya sendiri yang memang benar-benar dibutuhkan seperti makan, minoem, tidor dan djalan yang dianggapnya sudah memadai. lda Pfeilfer tinggal empat hari dengan saya. Saya telah berhasil mendapatkan pemandu yang baik untuk mendampinginya. Namanya Dja Pangkat, seorang kepala kampong dari Soeroemantinggi yang akan melakukan tugas berdiri di depannya. Dia terkenal, berteman dengan sejumlah kepala kampong di Silindoengsche, memiliki pengalaman mendampingi Dr Junghühn, mengunjungi beberapa kali ke Danau Toba.

Sebelum berangkat, ia mengurangi tasnya dan berikan kepada saya yang isinya terlalu banyak yang beratnya 20 kilogram. Dia hanya menyisakan gaun, kemeja, sepasang sepatu, sapu tangan, syal, sepasang van untuk insek, flescbje rok, kotak karupler, beberapa notebook, pensil, cen botol garam dan punuk kantong sangat tipis dengan bantal. Uangnya terdiri dari 10 ringgits boeroeng - tidak ingin dibawa, dia memberi saya untuk disimpan, Saya menyarankan diberlakukan pula untuk dia bawa dan saya memberinya dan meminjamkan beberapa dolar dan ringgit matahari; lebih dia tidak mau. Dia kemudian pergi ke Sipirok, saya akan ikut membimbing hingga Pargaroetan sesudah Batoe Nadoea, tetapi dia meminta ikut lebih jauh. Dia naik, lalu di halaman saya, dia berdoa lalu kami memacu kuda masing-masing.

Di Sipirok istirahat dan mandi. Malam harinya berhenti di Boeloe Mario lalu dengan beberapa kepala kampung di pagi hari diajak ikut ke Silindoeng.  Saya hanya sampai disini. Mereka dihadiahi sebelum ke lembah Silindoeng disimpan untuk akomodasi, anak sapi, beras, ayam, garam dan hal-hal lain. Lama dari Sipirok ke Silindoeng sekitar satu hari. Beberapa kepala keluarga Sipirok yang memiliki keluarga di Silindoeng secara sukarela mengikutinya. Mereka mengambil jalan pegunungan yang sulit sebenarnya atau jurang yang dalam, yang mereka, garmen atas knieëu yang: termasuk diarungi dengan keberanian.

Enam atau tujuh hari setelah keberangkatan lantas aku melihat tiba-tiba lda Pfeiffer berpacu dan sampai di halaman; dia tampak pucat dan lelah, rok coklat rok dan sal penuh dengan lumpur dan robek. Aku membantunya untuk turun dari kuda; dia ingin sekaligus untuk tidur, karena dia sakit parah dan lelah. Pertama, di malam hari dia datang muncul, dia merasa lagi lelah tapi masih ngantuk; Setelah itu pergi lagi ke kamar dan tidur sampai pagi 08:00.

Dia kemudian akan segera mengambil perjalanan untuk balik ke Padang. Saya saran ke dokter yang baru saja padaku. Dia menbolak. Dia telah membandingkan dengan laporan Dr Juughuhn, dan dia memuji negara ini memiliki kesuburan dan kekayaan bangsa; namun di desa-desa yang dia dimana-mana orang dengan tombak dan pedang orang bersenjata, namun mereka tampak tidak apa-apa tapi tetap waspada. Pada hari itu tiba kapten Steeumeijer yang tinggal di Soeroemantinggi. Ida'Pfeiffer oleh kepala di Silindoeng paling hormat diterima. Ia berpesta, di mana saja dibatas setiap kampung itu diterima oleh orang-orang bersenjata jauh dan luas. Mereka memiliki rumor kedatangan wanita kulit putih yang dikaitkan dengan roh-roh yang lebih tinggi, informasi cepat menyebar dan semua pihak, orang-orang datang untuk melihat. Ida Pfeiffer tinggal di rumah-rumah para pemimpin, pernah dia berjalan dikerumuni pria dan wanita, dan dia tidak bisa mengambil langkah oleh karena banyak orang yang penasaran. Ida Pfeiffer menjadi kehilangan kebebasan bergerak karena rasa ingin tahu atas kedatangannya. Bahkan di Aek Taoe (wilayah  Danau Toba) juga ada sejumlah orang dalam suatu hari perjalanannya dari Silindoeng ke Toba kerumunan  bersikeras untuk melihat. seperti pada kakinya. Ida Pfeiffer tiba-tiba berbalik, merasa ada teror atau ketakutan lalu melarikan diri. Apa itu yang ia tahu?

Ia berlari dan bahkan dalam satu hari ia pergi melalui tiga puluh tiang dalam satu nafas. Para kepala Silindoeng, hanya melihat kembali, tidak mengerti mengapa dia buru-buru pulang. Ida bilang dia sebenarnya mendapat banyak sambutan apalagi mereka menghargai wanita kulit putih. Ketika berkunjung, itu semua mereka terima dengan hormat, memberikan nasi, ayam, kadang-kadang daging sapi sebagai hadiah yang ditawarkan dimana-mana, tentu bahwa suasana damai. Ia menyatakan lagi bahwa orang-orang di sana selalu bersenjata, mereka bahkan bersenjata ke sungai untuk mandi, karena desa-desa biasanya bersama-sama berpikiran dan kebebasan mereka dalam bahaya. lda Pfeiffer membayangkan sebagai tanda bahaya. Saya bertanya mengapa ia kembali dan telah berjalan begitu sangat cepat. Katanya karena sakit. lda Pfeilfer dipandu ke Sipirok dan mandi lalu para keluarga dari pengiringnya diterima dengan baik. Juga di Sigelanggaug dan Soeroemantinggi.

Ketika Medan masih kampung, Padang Sidempuan sudah kota
Di kediamannya di Fort de Kock, dia menulis kepada saya  beberapa kata, terima kasih, memberikan hadiah melalui pemandu yang telah saya carikan. Kemudian saya belajar apa pun darinya; pertama lima atau enam tahun kemudian saya mengetahui bahwa dia telah menulis dan saya membaca sebuah karyanya berjudul Revue des deux Mondei, saya pikir, sangat bagus tentang kinerja dari perjalanannya di Bataklanden. Ida Pfeifler  adalah wisatawan tak kenal lelah, berani, tapi bepergian dengan nol pengetahuan. Padang Pandjang, 12 April, 1881. A. J. F. Hamehs.

Anda tertarik melakukan adventure seperti Ida Pheiffer? Itu tidak mudah. Lagi pula itu doeloe. Sekarang segalanya lebih mudah. Selamat berwisata.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber ang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar