Sejarah Bogor (17): Sejarah Hotel Salak Sebenarnya, The Heritage Bermula dari Suatu Losmen; Ini Faktanya

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin


Kota Buitenzorg adalah salah satu destinasi wisata utama di masa lampau terutama bagi orang-orang Eropa/Belanda yang tinggal di Batavia. Dengan meningkatnya kebutuhan wisatawan dalam hal akomodasi, pengadaan penginapan terus berkembang: mulai dari losmen lalu meningkat menjadi hotel.

Het nieuws van den dag voor Ned.-Indie, 21-05-1923
Tempat penginapan di Buitenzorg awalnya berupa kos dan penyewaan rumah. Lalu kemudian berkembang menjadi pengusahaan losmen yang kemudian berkembang menjadi hotel. Satu bentuk penginapan lainya disebut pesanggrahan yang biasanya dibangun oleh pemerintah (di tempat-tempat tertentu) yang tujuan utamanya untuk tempat transit dalam perjalanan jarak jauh. Selain kantor-kantor pemerintah di ibukota afdeeling menyediakan pesanggrahan juga para pemimpin lokal (seperti Bupati) menyediakan tempat penginapan.

Dari tiga hotel pertama yang pernah ada di Kota Buitenzorg di masa doeloe hanya satu yang masih tersisa hingga ini hari di Kota Bogor, yakni: Hotel Salak, The Heritage. Bagaimana kehadiran hotel-hotel tersebut dan bagaimana keberlangsungan Hotel Dibbets yang menjadi Hotel Salak sejak dari awal hingga sekarang ada baiknya ditelusuri secara komprehensif. Mari kita lacak!

Buitenzorg: Tempat Peristirahatan

Villa kembar, cikal bakal Istana Buitenzorg (1771)
Sebelum Istana Buitenzorg dibangun, sesungguhnya di lokasi itu adalah tempat rumah peristirahatan (buiten zorg) yang pembangunannya diprakarsai oleh Gubernur Jenderal di Batavia. Rumah peristirahatan sempat hancur ketika Banten menyerang VOC di Buitenzorg (1752). Lalu kemudian dibangun villa besar (villa kembar). Lalu kemudian villa-villa tersebut hancur akibat gempa. Villa kembar Buitenzorg, 1760-1780

Istana Buitenzorg, sebelum hancur akibat gempa (lukisan 1834),
Sejak hancurnya villa-villa tersebut, dibangun kembali sebagai bentuk istana. Pada era Pemerintahan Hindia Belanda (yang dimulai 1800) dan era Inggris (1811-1816) bangunan istana ini mengalami renovasi yang di sana sini dan terjadi perubahan bentuk. Istana Buitenzorg (lukisan 1834)

Pada tahun 1834 terjadi gempa besar yang mengakibatkan Istana Buitenzorg hancur total. Baru pada tahun 1850 istana dibangun kembali yang mana bentuk arsitektur istana tersebut merupakan bentuk yang bisa kita lihat pada masa ini.

Bataviasche courant, 10-07-1819
Seiring dengan fungsi villa dan istana yang diperuntukkan bagi Gubernur Jenderal, di Buitenzorg sudah berkembang pengadaan penginapan bagi kalangan umum (wisatawan, pegawai pemetintah dan investor). Tempat penginapan ini disebut logement (losmen). Adanya losmen di Buitenzorg muncul pertama kali tahun 1819.

M. Franks mengiklankan di surat kabar Bataviasche courant, 10-07-1819 telah menyediakan losmen (logement) dan rumah penginapan (lodging house) yang ditujukan bagi warga sipil dan termasuk wisatawan. Dimana letak losmen dan rumah penginapan ini di Buitenzorg tidak diketahui jelas.

Bataviasche courant, 08-07-1820
Setahun kemudian muncul nama Gerald Cobben pemilik losmen di Buitenzorg dan juga memperkenalkan hotel (baru) yang ditujukan kepada warga sipil termasuk wisatawan (Bataviasche courant, 08-07-1820). Dimana letak losmen dan rumah penginapan ini di Buitenzorg tidak diketahui jelas. Sehubungan dengan kehadiran Gerald Cobben muncul pertanyaan? Apakah Gerald Cobben telah mengakuisisi losmen dan rumah penginapan milik M. Franks lalu mengubah rumah penginapan menjadi hotel?

Sejak Gerald Cobben memperkenalkan hotel di Buitenzorg tahun 1820 tidak terdeteksi keberadaan hotel di Buitenzorg lagi. Nama Cobben masih eksis di Buitenzorg hingga 1826.

Hotel Pertama di Buitenzorg: Hotel Bellevue

Java-bode:voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1853
Pada tahun 1853 di Buitenzorg dilaporkan keberadaan Hotel Bellevue. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-01-1853  memberitakan bahwa hotel tersebut telah diakusisi oleh W. Hamstra. Hotel Bellevue juga disebut sebagai Logement Bellevue. Selain Hotel/losmen Bellevue di Buitenzorg juga dilaporkan terdapat losmen di Kota Batoe (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1853). Dalam berita ini, hanya dua losmen ini yang disebutkan dan tidak ada losmen lainnya di Buitenzorg.

Hotel Bellevue te Buitenzorg, 1867
Dalam perkembangannya losmen/hotel Bellevue tetap eksis. Ketika keberadaan Hotel Bellevue dilaporkan tahun 1872, di dekat kantor Asisten Residen Buitenzorg (depan Istana Buitenzorg) disebutkan terdapat sebuah logement yang disebut logement ‘Buitenzorg’ (lihat buku berjudul Een Reistochtje van Batavia naar Buitenzorg door P van Diest, penerbit CG Stemler, Amsterdam, 1872). Sang penulis, ketika perjalanannya menuju Hotel Bellevue dia menyebut melewati logement ‘Buitenzorg’,

Java-bode:, 21-05-1875
Selain losmen dan hotel di Buitenzorg sudah umum ditemukan tempat kos dan penyewaan rumah bagi individu atau keluarga yang datang ke Buitenzorg baik sebagai investor maupun pegawai/pejabat yang tengah berurusan dengan pemerintah. Tempat-tempat penginapan amatir ini ditemukan di kampong Pledang dan kampong Tjikemah (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1875).

Bagian belakang Hotel Bellevue, 1872
Hotel Bellevue diduga adalah hotel pertama di Buitenzorg yang mengusung konsep hotel dengan memberi nama hotel. Hotel ini dibangun sebagai tempat penginapan dengan memanfaatkan view lembah, sungai Tjisadane dan gunung Salak.
Last but not least: Raden Saleh (pelukis terkenal), tidak lama setelah kembali ke tanah airnya dari perjalanan kedua ke Eropa, Raden Saleh meninggal di Buitenzorg, dimana Raden Saleh telah membangun rumah di tanah yang berada persis di belakang Hotel Bellevue dengan pemandangan indah yang terkenal, sungai Tjisadane dan gunung Salak. Raden Saleh meninggal tahun di Buitenzorg (kini Bogor) pada tanggal 23 April 1880.
Hotel du Chemin de Fer: Merujuk Hotel Bellevue

Java-bode: voor Nederlandsch-Indie, 29-07-1872
Hotel du Chemin de Fer  kali pertama dilaporkan tahun 1872 (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-07-1872). Hotel Chemin yang mengambil lokasi di jalan menuju Jembatan Merah (kantor polisi/matahari yang sekarang) dekat aloon-aloon kota adalah hotel kedua di Kota Butenzorg. Konsep hotel ini mengikuti konsep Hotel Bellevue dimaksudkan untuk menggoda para wisatawan yakni memanfatkan view gunung Salak.

Hotel du Chemin de Fer, 1880
Hotel du Chemin de Fer tidak sepopuler Hotel Bellevue. Hotel Chemin ini berukuran lebih kecil dan hanya terdiri dari 20 kamar pada saat launching dan dibuka untuk umum tanggal 8 Agustus 1872. Dalam foto tahun 1880 hotel yang diduga milik orang Prancis ini tidak memiliki pekarangan yang luas. Lokasinya yang berada persis dipinggir jalan raya Jembatan Merah (pertemuan jalan Kapten Muslihat dan jalan Dewi Sartika yang sekarang) dibangun untuk pengunjung non wisatawan.

Hotel du Chemin de Fer, 1880
Pemilik awal Hotel du Chemin de Fer adalah dua orang Prancis bernama G. Breau dan JJ. Leroux. Dalam iklan perkenalan mereka di surat kabar Java Bode yang berbahasa Belanda justru ditulis dalam bahasa Prancis. Tidak jelas maksudnya, apakah untuk menyasar orang-orang Prancis? Kenyataannya, hotel ini tidak secara intens melakukan promosi (iklan) di surat kabar seperti yang dilakukan Hotel Bellevue. Dari catatan-catatan perjalanan orang-orang Eropa/Belanda hampir tidak pernah menyebut nama hotel ini.

Hotel Bellevue dan Hotel du Chemin de Fer Diakuisi SS

Hotel Bellevue yang keberadaannya telah dilaporkan tahun 1853 pada tahun 1920 dikabarkan telah diakuisisi oleh Perusahaan Kereta Api Negara, Staatsspoorwegen (SS). Pembelian Hotel Bellevue ini bersamaan dengan akuisisi Hotel du Chemin de Fer. Pembelian dan penjualan dua hotel terjadi pada awal krisis ekonomi (resesi).

Algemeen Handelsblad, 12-11-1920: ‘Dari Java Bode dikutip bahwa Jasa Layanan Kereta Api Negara, Hotel du Chemin de Fer dan Hotel Bellevue telah dibeli di Buitenzorg senilai 5 ton emas. Kedua hotel ini sekarang akan dimodernisasi, yang mana Bellevue dengan pemandangan pegunungan yang megah dan indah akan mengalami renovasi besar-besaran’.

Alasan penjualan dua hotel ini kepada SS tidak diketahui dengan jelas, apakah di mata pemiliknya masing-masing hotel ini tidak menguntungkan atau tertarik menjual karena tawaran harga tinggi dari SS? Yang jelas, segera SS mengakuisisi dua hotel ini muncul perdebatan di surat kabar. Tampaknya lebih banyak yang kontra dan menganggap SS telah melakukan kesalahan.

Haagsche courant, 12-06-1922: ‘Pemerintah dan operator hotel, telah diperdebatkan mengenai kasus pembelian hotel di Buitenzorg. Muncul pertanyaan apakah pembelian hotel du Chemin de Fer dan hotel Bellevue di Buitenzorg dilakukan dengan pemikiran bahagia, sebab di Buitenzorg kini telah dibangun hotel besar dan modern, Hotel Amerika dengan pengaturan dan desain kamar. Pembelian ini jika maksudnya untuk pariwisata mungkin sangat diragukan dan apakah ini dibenarkan terkait dengan dana belanja bangsa untuk pembelian dan perbaikan dua hotel tua. Di dalam banyak perdebatan, mereka bertanya apakah keadaan genting sekarang kas negara tidak dipaksa untuk dirogoh dalam menghabiskan lebih anggaran/’.

Polemik yang terjadi di publik lambat-laun mereda, SS jalan terus mengoperasikan dua hotel tua. Tampaknya SS coba mengintegrasikan kinerja layanan kereta api dengan meningkatkan arus wisatawan Batavia-Buitenzorg dan Bandoeng. Namun seperti yang dikhawatirkan publik, akuisisi dua hotel ini hampir bersamaan dengan pembangunan hotel besar dan mewah di Buitenzorg. Hotel besar yang disebut American Hotel adalah dengan membangun baru di eks Hotel Pension ‘Simon’ yang berada di depan Istana Buitenzorg.

Oleh karena hotel du Chemin de Fer pemiliknya SS dan lokasinya berada persis di seberang stasion kereta api Buitenzorg, adakalanya nama hotel du Chemin de Fer disebut Railway Stasion Hotel.

Het nieuws van den dag voor Ned-Indie, 20-08-1925
Seperti yang pernah menjadi polemik, tidak lama kemudian, Hotel hotel du Chemin de Fer harus ditutup tahun 1925. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-08-1925 melaporkan: ‘Hotel du Chemin de Fer. Bangunan dari Hotel du Chemin de Fer Buitenzorg terhitung tanggal 1 Oktober tahun ini harus ditutup. Bangunan hotel ini akan diambil dan digunakan oleh Perusahaan Karet Negara’.

Bagaimana dengan Hotel Bellevue. Tampaknya aman dan pengoperasiannya tetap diteruskan SS untuk mendongkrak pendapatan kereta api. Untuk meningkatkan layanan kereta api dan akomodasi wisatawan, pada tahun 1930 Hotel Bellevue dilakukan renovasi. Butuh waktu delapan tahun upaya renovasi sejak pembelian hotel tersebut. Namun demikian, hasil renovasi Hotel Bellevue bukannya untuk mempanjang usia pengoperasian yang dilakukan oleh SS, malah sebaliknya pada tahun 1932 de nieuw Hotel Bellevue harus ditutup (seperti nasib hotel du Chemin de Fer/Railway Stasion Hotel).

Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 15-09-1932: ‘Hotel chain Negara. Bandung. Surat kabar AID melaporkan bahwa karena kebangkrutan Nederlandsch Indie Hotel Vereeniging, Hotel Royale di Batavia dan Hotel Bellevue di Buitenzorg yang berada di bawah pengoperasian SS dalam waktu dekat Hotel Bellevue akan ditutup. Agaknya, Hoofdbureau Bosch yang akan menggunakan. Sejumlah pejabat SS juga mengusulkan untuk menutup Hotel Royale’.


Het nieuws van den dag voorNed-Indie, 15-10-1918
Hotel pemerintah tamat di Buitenzorg. Ini juga dengan sendirinya keberadaan Hotel Bellevue yang diduga telah berumur satu abad akan hilang selamanya. Hotel du Chemin de Fer yang dibuka tahun 1872 sudah lebih awal tamat pada tahun 1925. Sebelum bangunan Hotel Bellevue dialihkan, SS masih sempat melelang properti hotel tersebut yang digunakan untuk menambah biaya pesangon bagi para pegawainya. Sebagaimana dilaporkan surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-04-1933 eks Hotel Bellevue ini telah digunakan sebagai Gedung Dewan Afdeeling Buitenzorg (Regentschapsraad).

Dengan demikian, di Buitenzorg hanya tinggal satu lagi hotel (Eropa). Hotel tersebut adalah eks Hotel Pension ‘Simon’ yang berubah wajah menjadi American Hotel yang berada di depan Istana Buitenzorg. Hotel ini kelak disebut Hotel Salak, The Heritage.

Hotel Buitenzorg 1860-1890

Ketika seorang wisatawan berkunjung dengan menumpang kereta kuda ke Buitenzorg, sebelum tiba di Hotel Bellevue, sang wisatawan bernama P. Van Diest menyebut melewati kantor Asisten Residen dan logement bernama ‘Buitenzorg’. Kisah perjalanan ini ditulisanya dalam buku berjudul Een Reistochtje van Batavia naar Buitenzorg yang diterbitkan Penerbit CG Stemler, Amsterdam, 1872.

Pada tahun 1853 di Buitenzorg dilaporkan keberadaan Hotel Bellevue (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-01-1853). Hotel ini dimiliki oleh W. Hamstra. Hotel du Chemin de Fer  kali pertama dilaporkan tahun 1872 dan dibuka 8 Agustus 1872 (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-07-1872). Pemiliknya, dua orang Prancis bernama G. Breau dan JJ. Leroux. Logement ‘Buitenzorg’ paling tidak sudah ada setelah adanya Hotel Bellevue dan sebelumnya adanya Hotel du Chemin de Fer. Logement ‘Buitenzorg’. Kapan pastinya Logement ‘Buitenzorg’ dioperasikan? Ini yang akan ditelusuri.

Pada tahun 1860 Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-02-1860 memuat iklan T. Kuijt. Di dalam iklannya, pemasang iklan (Kuijt) menyatakan Hotel Buitenzorg akan dibuka tangga 1 Maret. Hotel ini letaknya dua rumah setelah Kantor Residen Buitenzorg. Deskripsi ini sesuai dengan gambaran yang ditulis oleh P. Van Diest (1872).

Dimana posisi ‘gps’ Hotel Buitenzorg itu? Jika itu dua rumah setelah kantor Residen berarti posisi hotel ini persis berada di gedung Balai Kota Bogor yang sekarang. Dua rumah yang dimaksud adalah posisi ‘gps’ Hotel Salak yang sekarang. Dua rumah tersebut besar kemungkinan rumah pejabat/pegawai pemerintah atau para planter.

Hotel Buitenzorg ini tidak berdiri sendiri. Hotel ini terintegrasi dengan stasion kereta kuda (paardenposterij) untuk melayani kereta (wagen) dan kuda (paarden). Stasion kereta kuda Buitenzorg ini terhubungan dengan stasion kereta kuda di Batavia yang berada di Hotel Des Indies. Hotel ini tidak lain hotel yang berada di samping Istana Gubernur Jenderal di Batavia (Istana Presiden RI yang sekarang). Keterangan ini terbaca dalam iklan yang dimuat surat kabar Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-08-1860. Ini menjelaskan bahwa dua hotel dan dua stasion kereta kuda tersebut menghubungkan dua istana (di Batavia dan di Buitenzorg).

Logement bernama Hotel Buitenzorg, selain stasion kereta kuda juga melayani tempat tinggal (huis), kandang kuda (stal) dan kandang kuda di luar (bijgebouwen). Hotel ini berada di Groote weg (lihat maklumat dalam surat kabar Bataviaasch handelsblad, 15-07-1865).

Logement Hotel Buitenzorg melayani para pelanggannya hingga tahun 1872 ketika  Mrs Niggebrugge (yang besar kemungkinan janda dari T. Kuijt) ingin menjual Hotel Buitenzorg sebagaimana terbaca dalam iklan yang dimuat dalam surat kabar Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-08-1872. Tampaknya sulit terjual. Dalam iklan Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-11-1875 Mrs Niggebrugge mengubah statusnya dari ‘dijual’ menjadi ‘disewakan’. Akhrnya Mrs Niggebrugge menggunakan jasa profesional (John Pryce & Co.) untuk menjualnya melalui iklan dalam Bataviaasch handelsblad, 15-07-1876. Kemudian terjual. Namun pada tahun 1881 Hotel Buitenzorg telah dialihmilikkan kepada Wed. Vogelposl (Bataviaasch handelsblad, 23-12-1881).

Pada tahun 1883 beralih kepemilikan kepada  FA Schussler yang kemudian melelang Hotel Buitenzorg beserta semua perabotan yang ada (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-05-1883). Pembelinya adalah J. Muhlnickel dan mengoperasikannya dengan tetap menggunakan nama Hotel Buitenzorg. Iklan Hotel Buitenzorg yang dipasang oleh J. Muhlnickel dalam surat kabar Bataviaasch handelsblad, 21-06-1890 merupakan iklan yang terakhir tentang Hotel Buitenzorg. Sejak ini juga keberadaan Hotel Buitenzorg tidak pernah terdengar kabar berita lagi dan menghilang selamanya.

Hotel Pension Simon, American Hotel dan Hotel Dibbets

Hotel Bellevue dilaporkan kali pertama tahun 1853. Hotel Buitenzorg dibuka tahun 1869 dan Hotel du Chemin de Fer  didirikan tahun 1872. Hotel Bellevue dan Hotel du Chemin de Fer masih eksis ketika Hotel Buitenzorg menghilang sejak 1890. Hanya tinggal dua hotel di Buitenzorg: Hotel Bellevue dan Hotel du Chemin de Fer. Di area sekitar Istana Buitenzorg tidak ada lagi penginapan (hotel).

Setelah sekian lama, pada tahun 1913 di sekitar/depan Istana Buitenzorg muncul hotel baru, namanya Hotel Pension ‘Simon’. Hotel ini dimiliki oleh G. Th. Simon. Alamatnya Djalan Besar (dalam bahasa Melayu) t/o ‘sLandsplantentuin (lihat De Preanger-bode, 28-08-1913). Hanya itu iklan yang muncul. Boleh jadi itu iklan perkenalan sekaligus menandakan dibukanya hotel di sekitar/depan Istana Buitenzorg.

Pada tahun 1918 muncul di surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-10-1918 suatu penyataan yang memberitahukan telah berdiri NV American Hotel dengan kapital f200.000. NV American Hotel ini akan membangun hotel baru di lokasi Hotel Pension Simon milik G. Th. Simon & Co. Terkait dengan pembangunan hotel tersebut G. Th. Simon & Co. bekerjasama dengan Jhr, EA Dibbets. Perusahaan baru ini dengan susunan pengurus: Jhr. EA Dibbets sebagai Director; E, Lankhout dan G. Th. Simon masing-masing sebagai Commisaaris. Penjelasan NV American Hotel ini dapat dibaca dalam surat kabar De Preanger-bode, 25-07-1919.

De Preanger-bode, 25-07-1919: ‘NV Amerika-Hotel. NV American Hotel pada bulan April didirikan di Bandung, dengan modal f150.000 dengan saham f500 per lembar yang akan membangun senilai f40.000 dan membeli tanah f145.000, yang terletak di Jalan Raya Pos Batavia-Sukabumi, berlawanan taman rusa dari Gubernur Jenderal, sekitar 5 menit berjalan kaki dari Stasion Buitenzorg, termasuk semua bangunan yang berdiri, yang bernama Hotel Pension Simon hingga 30 April. Sejak 1 Mei oleh Bapak EA Dibbets yang bergairah tentang bisnis hotel. menjalankan operasi, oleh karena itu, atas nama NV American.Hotel. Dengan demikian, pendapatan Hotel Pension Simon sekarang sudah keseimbangan yang menguntungkan cukup untuk membayar semua bunga obligasi yang cepat dan pemegang saham apapun untuk mengubah dividen menguntungkan. Untuk masalah NV G Th. Simon & Co kantor Administrasi di Bandung yang harga pembelian f145.000 dana yang hilang. Setelah pembayaran f85.000 oleh pemegang obligasi segera dilakukan penyelesaian dengan Kantor administrasi Simon & Co bersedia untuk menghabiskan untuk konstruksi baru dari hotel. Untuk desan dan konstruksi ditugaskan oleh hotel kepada LO Varkevisser senilai f124.000, konstruksi baru ini segera dimulai. Pembangunan hotel dibuat modern, terdiri dari dua ruang resepsi besar, sebuah galeri besar, ruang makan dan ruang biliar, 50 kamar tidur, teras di pinggir jalan, dll dan akan siap dalam waktu 14 bulan. Pembangunan yang akan dilakukan dibuat para tamu daripadanya sesedikit mungkin terganggu, dan karena itu akan ada kelambatan dalam perusahaan. Sebagai jaminan untuk pinjaman obligasi, plot didefinisikan lebih tinggi membentang seluas 8.640 M2. Termasuk semua bangunan yang ada, serta pengaturan kesehatan hotel yang ada untuk bertaruh kita mendengar disebut emisi sebesar f85.000 tujuh persen obligasi hipotek’.

Pembangunan hotel baru ini dibuat modern yang dilakukan secara bertahap untuk menggantikan Hotel Pension Simon seluas 8.640 M2. Pekerjaan desain dan konstruksi dilakukan oleh arsitek LO Varkevisser senilai f124.000. Dalam pekerjaan proyek ini, aktivitas Hotel Pension Simon tetap berlangsung meski ada gangguan bagi para pengunjung hotel. Pada tahun 1921 perusahaan baru membuat iklan yang mana nama hotel sebagai American-Hotel dengan alamat Hotel Pension Simon (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 09-02-1921).

Tidak diketahui mengapa hotel baru ini belum selesai sesuai waktunya. Besar dugaan akibat krisis ekonomi memberi dampak kepada para pemilik saham dan terjadi konsolidasi saham. Hal ini juga terjadi sebelumnya (1920) yang mana dua pemilik hotel terdahulu Hotel Bellevue dan Hotel du Chamin der Fer yang melego hotel masing-masing dan dibeli oleh SS (perusahaan kereta api negara). Jhr, EA Dibbets salah satu pemilik saham diduga telah membeli semua saham-saham NV. American Hotel. Nama hotel kini bernama  Hotel Dibbets v/h American Hotel dan secara pribadi dikelola oleh E/ Dibbets (De Preanger-bode, 24-08-1922).

Akhirnya hotel baru yang didasarkan atas pendirian NV. American Hotel, ternyata nama hotelnya bukan American Hotel tetapi dengan nama baru Hotel Dibbets yang akan diresmikan pada hari Minggu tanggal 20 Mei (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 16-05-1923). Dalam pendirian perusahaan sebelumnya, Jhr, EA Dibbets adalah pemilik saham terbesar yang jauh melebihi saham G. Th. Simon, pemilik hotel terdahulu Hotel Pension Simon (De Preanger-bode, 25-07-1919).

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1923: ‘Hotel ™ Dibbets te Buitenzorg. Pada hari Senin pertama di Buitenzorg Hotel Dibbets Hotel yang baru dan indah dibuka. Sejak pagi hari tamu berdatangan, di bawah alunan kuartet string. Penerimaan dilakukan malam: bunga, musik, champagne, pidato dan wanita cantik dari pukul 7 sampai 9 makan malam. Yang hadir dalam resepsi tersebut Asisten Resident mewakili pemerintah, Pastor Sternenberg (setidaknya di resepsi): Otoritas sekuler, anggota Dewan B├╝rer; wakil-wakil dari Perdagangan, Industri, Pariwisata. Dan juga Pers: Aneta dan KW (mungkin maksudnya wartawan kawakan Karel Wijbrand). Sir Dibbets tokoh pebisnis  mengadakan pidato, seperti pidato tahta. Aku hanya setengah telinga untuk mendengarkan, karena saya pikir, saya baca saja di koran hari Selasa setelah semua. Tapi aku tahu bahwa hotel ini nyaman, dengan ruang marmer yang indah; nyaman, sangat bersih kamar, kamar mandi yang baik dan kesempatan lain, salah satu masakan yang sangat baik di bawah pengawasan khusus dari Ibu Dibbets sendiri, layanan besar dan harga menengah. Ini akan dilengkapi: pemandangan indah Taman Rusa di depan Istana; satu lokasi pusat baik di jalan besar: Garden, Gereja RK dan Gereja Protestan, Sekolah Ursulin Sekolah, Stasiun. Lalu ada tempat duduk yang baik teras di lantai atas menghadap wajah Garden Road dan mengejutkan indah. Selanjutnya yang luar biasa Buitenzorg: lampu listrik! Karena ini tempat masa depan dengan air hidup: la houille blanehe. Lampu pengap dan panas, lampu gas, kini lampu listrik datang! Sekarang, Hotel Dibbets ada: dua dinamo besar bekerja siang dan malam, menghalau kegelapan, dan mengisi cadangan akumulator. Saya percaya bahwa hotel ini, dengan lima puluh kamar yang nyaman dengan pengawasan Eropasch dan pemimpin yang handal akan mendapatkan satu tempat kehormatan di tempat tamu di Residentie ini. Bangunan baru, cantik dihiasi, dan saya sudah mengatakan semuanya rapih, belum lagi dapur. Selama sembilan jam kami duduk untuk makan dan makan malam. Bagaimana kita berpesta, tertawa, minum, pidato, menggoda! Dan tarian setelah itu, dan lagi disediakan sampanye, sebagai fotografer Jerman mengatakan sesungguhnya: Buitenzcrg menyandang namanya malam itu dengan kehormatan! Sebagai teman lama saya Dibbets hotelnya mengharapkan saya datang sekali setiap minggu! Aku berharap dia sukses! KW’.

Sejak hotel ini berubah manajemen menjadi nama Hotel Dibbets, iklan secara intens dilakukan dengan tetap memberikan keterangan v/h American Hotel. Sejak awal Juli keterangan American Hilang mulai dihilangkan dan digunakan secara tunggal nama Hotel Dibbets. Lantas kemudian muncul persoalan; Hotel Dibbets bersaing dengan Hotel Bellevue secara tidak sehat. Hotel Dibbets mungkin merasa dirugikan tetapi pemerintah daerah justru lebih dirugikan. Persoalannya adalah soal urusan pajak.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-07-1923: ‘Hotel Dibbets di Buitenzorg adalah perusahaan swasta. Oleh karena itu pemilik membayar pajak, baik pajak pemerintah dan pajak kota. Dan bahwa persaingan pribadi dipengaruhi oleh hotel SS yang ada pajak tetapi tidak harus membayar, dan juga semua semi-resmi kunjungan, seperti baru-baru ini para anggota misi Jepang, takhta untuk dia! Bahwa negara seperti urusan serupa ini tidak dapat diterima. Kita setuju dengan rekan kami. Itu SS Hotel kerugian bulanan dalam jumlah besar hampir biaya setengah juta (!), Ambil roti dari mulut orang rajin, dan uang dari saku warga, harus dibubarkan. Hotel Dibbets adalah hotel modern yang bagus, cukup luas untuk orang asing yang mengunjungi Buitenzorg untuk kebutuhan akomodasi’.

Jhr, EA Dibbets dan kawan-kawan menggagas suatu perkumpulan hotel. Asosiasi yang dibentuk ini diselenggarakan di Grand Hotel te Djokja yag menghasikan kesepakatan dan nama asosiasi adalah Bond van Hotelhouders (ABHINI). Dalam hal ini yang menjabat sekretaris bendahara adalah E Dibbets (De Indische courant, 22-01-1925).

Jonkheer EA Dibbets tiba-tiba dikabarkan telah meninggal dunia hari Jumat di Buitenzorg dalam usia 63 akibat serangan jantung. Emile Auguste Dibbets alias Jhr. Dibbets Sr. direktur Hotel Dibbets meningglkan seorang istri dan sembilan anak. Dikuburkan hari Sabtu yang turut dihadiri rekan-rekannya dari ABHINI (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-01-1925).

Jonkheer EA Dibbets telah tiada. Bisnis hotel dijalankan oleh istri dan anak-anaknya. Pada tahun ini (1925) Hotel du Chemin der Fer ditutup. Di Buitenzorg hanya tinggal dua hotel Eropa. Dalam perkembangannya pada tahun 1931 Hotel Dibbets mengangkat C. Walter menjadi direktur yang sebelumnya sebagai direktur Hotel Brastagi (Bataviaasch nieuwsblad, 11-12-1931. Pada tahun 1932 menyusul Hotel Bellevue ditutup. Jaringan hotel SS di Buitenzorg tamat dan hotel Eropa hanya tinggal tunggal yakni Hotel Dibbets. Sehubungan dengan eks Hotel Bellevue dialihkan untuk gedung dewan kabupaten, maka perusahaan milik negara (NI Escompto Maatschappij) yang selama ini berkantor di hotel tersebut harus keluar dan memilih berkantor di Hotel Dibbets (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-04-1932)

Untuk sekadar tambahan di Buitenzorg muncul hotel baru yang terdeteksi pada tahun 1930. Hotel ini diberi nama Hotel Ceres yang beralamat di Pledang weg 30 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 25-08-1930). Sejak pertengahan tahun 1931 nama hotel ini menghilang.

Dalam perkembangannya, nama Hotel Dibbets adakalanya ditulis dengan Hotel Bellevue-Dibbets (Algemeen Handelsblad, 20-01-1934). Ini suatu indikasi bahwa SS pemilik Hotel Bellevue yang ditutup besar kemungkinan telah membeli sebagian besar saham dari Hotel Dibbets. Ini dimulai sejak kepindahan NI Escompto Maatschappij yang sebelumnya berkantor di Hotel Bellevue kemudian pindah ke Hotel Dibbets. Sebagaimana diketahui NI Escompto Maatschappij adalah milik negera sebagaimana juga SS adalah milik negara.

Untuk sekadar tambahan di Buitenzorg: setelah Hotel Ceres menghilang muncul hotel baru yang terdeteksi pada tahun 1932. Hotel ini diberi nama Hotel Keijzer yang beralamat di Pledang weg 33. Hotel ini dikelola oleh Mevr. WA. Keijzer (Bataviaasch nieuwsblad, 13-05-1932).  Hotel ini memanfaatkan view gunung Salak. Hotel ini mengklaim sebagai hotel klas-2 dengan pengawasan standar Eropa. Hotel ini masih eksis dan menghilang sejak pendudukan Jepang.

Keberadaan Hotel Dibbets Buitenzorg masih terus eksis hingga datangnya pendudukan Jepang. Nama hotel adakalanya ditulis sebagai Hotel Dibbets-Bellevue. Namun tidak diketahui dengan jelas apakah semua saham di hotel tersebut milik pemerintah atau berbagi saham dengan (keluarga) pemilik lama, keluarga Dibbets.

Pada masa pendudukan Jepang hingga pasca Proklamasi Kemerdekaan RI (17-08-1945) keberadaan Hotel Dibbets atau Hotel Dibbets-Belleveu atau Hotel Bellevue-Dibbets tidak terdeteksi. Pada tahun 1948 (era perang/saat Belanda kembali), hotel yang berada di Grootr weg No. 8 telah berubah nama menjadi Hotel Salak dengan alamat Jalan Raya No.8 (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 26-02-1948). Berdasarkan pendataan pemerintah tahun 1952 Hotel Salak dimasukkan Kategori-B, sedangkan penginapan-penginapan yang lain yang ada di Bogor masuk Kategori-D (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-02-1952). Pada tahun 1856 diberitakan bahwa Hotel Salak ini dioperasikan oleh NV. Salak Hotel dengan direktur Jo Kim Tjian. Nama baru hotel ini, Hotel Salak disebut namanya hingga ini hari.

Kini, wujud Hotel Dibbets masih terlihat utuh sebagaimana wujud hotel ini ketika kali pertama muncul dan diresmikan sebagai hotel baru di Buitenzorg pada tahun 1923. Sebagaimana dikabarkan pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda (1950an) hotel ini disebut dengan nama Hotel Salak. Pada tahun 1998 nama hotel Salak diperkaya dengan menambahkan co-brand The Heritage sehingga Hotel Dibbets yang lahir tahun 1923 kini dikenal sebagai Hotel Salak: The Heritage. Sebutan heritage (warisan) pantas disandang hotel ini ketika di berbagai tempat di Kota Bogor bermunculan hotel-hotel baru. Anda ingin berlibur ke Bogor? Jangan lupa: Hotel Salak, warisan dari Hotel Dibbets di masa lampau.

Last but not least: Hotel Pasar Baroe terdapat di Pasar Bogor di Babakan Pasar Buitenzorg. Hotel ini pernah terdeteksi tahun 1940 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 09-01-1940). Perlu penelusuran tersendiri.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar