Sejarah Kota Depok (17): Sejarah Tanjung Barat, Tandjong West Tetangga Depok di Westerweg; Bagaikan Frisia Timur, Howdy!

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Orang Eropa/Belanda di masa doeloe, memberikan julukan kepada suatu tempat tidak sembarangan. Ada alasan yang kuat, dan karena itu mereka senang menuliskannya dan mempopulerkannya. Alamiah memang. Satu tempat di hulu sungai Tjiliwong: Tandjong West (Tanjung Barat) dijuluki sebagai Frisia Timur (Oostvriesland).

Tandjong West dijuluki Oostvriesland (1760)
Beberapa tempat di Indonesia di masa doeloe diberi julukan, seperti: Bandoeng, Parijs van Java; Bombaj van Java, Delhi van Java, Carribean van Java, Japan van Java, Swiss van Java dan Venice van Java. Tentu saja Kota Radja (kini Banda Aceh) dijuluki sebagai Serambie Mecca.

Tandjong West, Tanjung Barat

Secara historis, dejure Tanjung West (Tanjung Barta) masuk Batavia (DKI Jakarta) tetapi secara defacto lebih dekat ke Depok; sebaliknya Tjinere (Cinere) secara dejure masuk Depok (Buitenzorg) tetapi secara defacto lebih dekat ke Batavia. Dua area yang menjadi landerien (tanah partikelir) ini di masa lampuu seakan menjadi tanah rebutan.

Sejarah Kota Depok (16): Sejarah Cimanggis, Nama Awal Land Yemans; Lauw Tek Lok dan Rumah Tua Cimanggis

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Wilayah Tjimanggis yang sekarang sebagai wilayah yang subur sudah dikenal sejak era VOC tetapi  tidak dengan nama Tjimanggis tetapi disebut dengan nama Yemans. Besar dugaan pemilik lahan yang subur itu adalah keluarga Yemans (sebagaimana keluarga Chastelein di Land Depok). Nama Land Yemans berganti menjadi Land Tjimanggis di era Pemerintah Hindia Belanda.

Land Yemans menjadi Land Tjimanggis (lukisan 1770-1777)
Nama landgoed yang disebut sebagai Yemans disebut Johs Rach dalam lukisannya yang dibuat 1770-1777. Inkripsi dalam lukisan Gezicht op een landgoed genaamd Yemans, op de weg van Batavia naar Bogor (land yang disebut Yemans di jalan dari Batavia ke Bogor. Dalam lukisan ini terlihat suatu area pemberhentian gerobak dan kuda-kuda. Tidak diketahui secara pasti kapan Land yang disebut Land Yemans ini dibuka sebagai landgoed (estate).

Jalan Pos Trans-Java

Pada saat Gubernur Jenderal Baron van Imhoff (1745) mulai membangun villa di Buitenzorg (Istana Buitenzorg) kawasan dari Batavia dan Buitenzorg sudah dipetakan ke dalam sejumlah land, yang dalam hal ini termasuk Land Yemans.

Sejarah Kota Depok (15): Sejarah Pondok Cina di Tepi Sungai Tjiliwoeng; Lauw Tjeng Siang dan Situs Rumah Tua Pondok Cina

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Sejarah Pondok Cina dimulai sejak adanya Land Pondok Tjina. Itu bermula sejak era VOC (Belanda). Nama Pondok Tjina tidak hanya terkenal dari masa ke masa, tetapi juga Landerien Pondok Tjina pada masa ini lokasi dimana berada Universitas Indonesia, Detos, Margo City dan Tol Cijago. Keutamaan Land Pondok Tjina di masa lampau adalah land pertama setelah batas Afdeeling Batavia/Meester Cornelis dengan Afdeeling Buitenzorg. Ibarat kata: Land Pondok Tjina di masa lampau adalah Pintu Gerbang Kota Depok pada masa kini.  

Area UI, bagian dari Land Pondok Tjina tempo doeloe
Sejauh ini Sejarah Land Pondok Tjina belum ditulis. Padahal Landerien Pondok Tjina memiliki riwayat sendiri. Seperti apa sejarahnya? Itu pertanyaan yang akan ditelusuri.

Dalam serial Sejarah Kota Depok ini, Sejarah Landerien Depok sudah cukup banyak disajikan. Kali ini, Sejarah Landerien Pondok Tjina yang dihadirkan secara khusus. Sejarah landerien yang lainnya akan disusul kemudian, seperti: Sejarah Cinere, Sejarah Sawangan, Sejarah Cilodong dan landerien lainnya.

Sejarah Kota Depok (14): Introduksi Bahasa Melayu di Tengah Penduduk Asli Berbahasa Sunda; Promosi Bahasa Indonesia, Degradasi Bahasa Sunda

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Land Depok tidak hanya koloni warga pendatang di tengah penduduk asli. Warga pendatang yang awalnya merupakan tenaga kerja Cornelis Chastelein juga menjadi koloni pengguna bahasa Melayu di tengah penduduk asli yang berbahasa Sunda (lihat Depok en Depokkers door JN Grimmius, 1852).


Bataviasche courant, 13-04-1825
Pada saat Cornelis Chastelein membuka perkebunan di hulu sungai Tjiliwong (1696) yang kemudian disebut Land Depok, bahasa pengantar untuk pribumi di Batavia adalah bahasa Melayu. Para tenaga kerja yang direkrut Cornelis Chastelein di Batavia yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dengan sendirinya menggunakan bahasa Melayu. Penduduk asli yang sudah ada di hulu sungai Tjiliwong (yang menjadi Land Depok) dan sekitarnya adalah berbahasa Sunda. Disebut sebagai pengguna bahasa Sunda mengacu, paling tidak jika diperhatikan dari nama-nama geografis (nama kampong, sungai dan situ) yang ada di sekitar.

Setelah sekian abad, Land Depok yang dulu hanya segelintir warga sebagai pengguna bahasa Melayu, pada masa kini, bahasa Melayu yang telah bertransformasi menjadi Bahasa Indonesia dan kota yang semakin meluas menjadi Kota Depok sekarang, warga kota terbilang pengguna Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari tertinggi di Indonesia. Bagaimana itu semua terjadi, mari kita telusuri dari awal (sejak adanya komunitas pendatang di Land Depok di masa lampau).

Sejarah Kota Depok (13): Penumpang Kereta Api Batavia-Buitenzorg Tahun Pertama (1873); Stasion Depok Ketiga Terbanyak

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Penduduk Kota Depok pada masa ini sangat terbiasa dengan moda transportasi kereta api baik menuju Jakarta maupun menuju Bogor. Ternyata kebiasaan itu sudah ada sejak doeloe, bahkan sejak tahun pertama jalur kereta api Batavia-Buitenzorg dioperasikan pada tahun 1873. Pada tahun pertama jumlah penumpang yang naik maupun turun di Stasion Depok merupakan tertinggi ketiga setelah Stasion Batavia dan Stasion Buitenzorg. Mari kita simak.

Stasion Depok, 1939
Pembukaan jalur kereta api Batavia dan Buitenzorg sangat berdampak luas: menghubungkan istana di Bogor dan istana di Batavia; memudahkan transportasi penduduk maupun wisatawan yang ke Buitenzorg. Manfaat lainnya adalah menjadi angkutan utama barang dan komoditi dari hulu sungai Ciliwung. Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg mulai dioperasikan (opening) tanggal 31 Januari 1873 (lihat Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873).

Jadwal Keberangkatan/Kedatangan

Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg ini terdiri dari stasion utama (hoofdstatsion), stasion (stasion kecil), halte (halte besar) dan overweg (halte kecil). Stasion utama berada di Batavia lama (Stadhuis/NIS) dan Buitenzorg. Stasion antara berada di Meester Cornelis (stasion Jatinegara yang sekarang). Untuk halte dan overweg terdapat di: Cileboet, Bodjong Gede, Tjitajam, Depok, Pondok Tjina, Lenteng Agoeng, Pasar Minggoe. Halte lainnya terdapat di Pegangsaan (kini Cikini), Koningsplein (kini Gambir), Noordwijck (kini Juanda) dan Sawah Besar. Satu lagi halte yang terpisah adalah halte Kleine Boom (Pasar Ikan?).

Sejarah Kota Depok (12): Sejarah Perkebunan di Depok dan Sekitarnya; Gula, Kopi Hingga Karet

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Setiap wilayah memiliki kekhususan sendiri dalam bidang perkebunan. Preanger terkenal dengan kopi dan kina, Buitenzorg terkenal dengan kopi dan teh, Deli terkenal dengan tembakau dan kelapa sawit. Lantas, Depok dan sekitarnya terkenal dengan tanaman dan perkebunan apa? Itu pertanyaannya yang perlu ditelusuri. Keutamaan Depok dan sekitarnya dalam peta sejarah perkebunan Indonesia karena terbilang awal dan eksistensinya masih terlihat masif hingga tahun 1970an.

Onderneming Chastelein di Sringsing (sejak 1691)
Hingga tahun 1980an sisa-sisa perkebunan tanaman keras seperti karet masih ditemukan cukup luas di Depok dan sekitar, seperti di Pondok Tjina (lahan UI yang sekarang), Sawangan, Tjitajam, Tjinere, Tjilodong, Tapos, Bodjong Gede, Kaoem Pandak dan Tjimanggis. Semua plantation itu telah punah. Namun bukan itu saja yang ingin ditelusuri, tetapi juga perkebunan-perkebunan yang pernah ada sejak awal ketika Cornelis Chastelein, orang Eropa pertama yang membuka usaha pertanian (ondernemig) di Depok (1696).

Pionir-pionir perkebunan juga perlu ditelusuri. Di Deli terkenal dengan nama Nienhuys (tembakau), di Preanger terkenal dengan Junghuhn (kina), di Buitenzorg terkenal dengan Motman (hortikultura). Lantas di Depok dan sekitarnya siapa? Tentu saja yang pertama Cornelis Chastelein. Lantas siapa pionir-pionir berikutnya di Depok dan sekitarnya. Itu juga pertanyaan penting dan memerlukan penelusuran. Mari kita lacak.

Sejarah Kota Depok (11): Asal Usul 'Jembatan Panus' yang Sebenarnya, Ini Faktanya; Masih Eksis Sekarang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Hingga tahun 1900 belum ada jalan yang menghubungkan antara Depok dengan Tjimanggis. Jalan yang sudah terbentuk dari Tjimanggis baru sampau ke Depok Ketjil (kira-kira kantor Pos Depok). Jalur yang menghubungkan Depok (besar) dengan Depok Kecil adalah jalan setapak yang di atas sungai Tjiliwong terdapat jembatan bamboo. Posisi ‘gps’ jembatan bambu tersebut berada di Jembatan Panus yang sekarang.

Peta, 1901
Sementara itu jalan yang sudah eksis adalah jalan yang menghubungkan Batavia-Buitenzorg via Depok melalui Ratoe Djaja dan Pondok Terong di hulu dan Pondok Tjina dan Srengseng di hilir. Rute jalan ini sudah terbentuk sebelum tahun 1835 (yang merupakan pengembangan jalan setapak (jalan kuda) yang diduga sudah ada sejak jaman kuno (era Padjadjaran). Peningkatan jalan kuno ini seiring dengan pembangunan irigasi dari Buitenzorg hingga mencapai Land Depok. Selanjutnya pada tahun 1873 jalur kereta api Batavia-Buitenzorg via Depok mulai dioperasikan. Rute jalan yang paralel jalur kereta api Batavia-Buitenzorg via Depok untuk ruas Pasar Minggoe-Tjitajam lihat artikel dalam blog ini

Ini mengindikasikan bahwa pada tahun 1900 antara jalan pos trans-Java ruas Batavia-Buitenzorg via Tjimanggies dengan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg via Depok belum terhubung sepenuhnya (yang dihubungkan oleh jalan yang bisa digunakan kereta kuda atau pedati). Dengan kata lain moda transportasi di sisi timur maupun di sisi barat sungai Tjiliwong berkembang sendiri-sendiri.

Sejarah Kota Depok (10): Cagar Alam ‘Natuur Monument’, Laboratorium Pitara dan Tjitajam; Situsnya Masih Eksis Sekarang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Cagar Alam Depok yang juga dikenal sebagai Taman Hutan Raya (Tahura) sesungguhnya memiliki riwayat yang panjang, bahkan kisahnya sudah dimulai sejak Cornelis Chastelein membeli lahan di Depok tahun 1696. Cagar Alam Depok awalya sebuah hutan asli, hutan belantara (jungle). Pada tahun 1878 bahkan masih ditemukan harimau tutul besar (matjan toetoel). Hutan belantara ini pada mulanya seluas 30 Ha telah jauh berkurang menjadi tinggal enam hektar dan nasibnya tidak lebih dari sebuah hutan sekunder (forest).

Cagar alam Depok masa ini (googlemap)
Kesadaran untuk melestarikannya muncul pada tahun 1915. Cagar Alam Depok ditetapkan sebagai laboratorium alam untuk penelitian flora dan fauna yang diintegrasikan dengan Kebun Raya Bogor. Keutamaan Cagar Alam Depok karena huta asli (jungle) sedangkan Kebun Raya Bogor adalah hutan buatan atau menghutankan kembali (forest). Situs lainnya yang menjadi bagian dari penelitian pertanian adalah eks Situ Pitara yang dijadikan sebagai laboratorium perikanan air tawar dan lahan subur di sisi Situ Tjitajam yang menjadi laboratorium alam untuk penelitian hortikultura. Situs-situs ini masih eksis sekarang

Bagaimana kisah masing-masing tentu sangat menarik untuk ditelusuri. Ketiga situs ini kali pertama ditetapkan sebagai laboratorium untuk tujuan yang mulia, namun fungsinya kini sudah sangat jauh berubah. Mari kita lacak satu per satu.

Sejarah Kota Depok (9): Dinasti Jonathans yang Menjadi Presiden Gemeente Depok; Sejarah Administrasi Pemerintahan di Buitenzorg

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Di Depok pernah pemerintahan dipimpin oleh seorang Presiden. Itu tidak salah tetapi jangan overestimate. Pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Presiden tersebut, sesungguhnya hanya wilayah setingkat desa yang dikenal sejak lama sebagai Gemeente Depok. Pengertian gemeente dalam hal ini bukan pengertian gemeente (kota pradja) yang dipimpin oleh seorang Wali Kota (Burgemeester) seperti di Gemeente Buitenzorg.

Gemeente Bestuur, Gemeente Depok, 1930
Gemeente Buitenzorg dibentuk tahun 1905. Perangkat pemerintahan yang dibentuk pertama adalah dewan kota (gemeenteraad) yang dipimpin oleh Asisten Residen. Pada tahun 1920 secara definitif diangkat seorang Wali Kota (Buergemeester). Dengan demikian, Afdeeling Buitenzorg sebagai kabupaten (gewest) dipimpin oleh Asisten Residen dan Gemeente Buitenzorg sebagai kota pradja dipimpin oleh seorang Burgemeester. Sementara itu, di Gemeente Depok pada tahun 1913 diberi kesempatan untuk mengelola desa sendiri Gemeente Depok (secara otonom) yang dibedakan dengan sistem pemerintahan desa.

Dalam pemerintah setingkat desa (yang bersifat otonom) yang disebut Gemeente Depok, siapa yang akan menjadi pemimpinnya ditentukan secara internal. Pimpinan Pemerintahan Gemeente Depok ini disebut Presiden. Namun yang menarik, Presiden pertama Gemeente Depok adalah G. Jonathans. Ternyata dari lima Presiden Gemeente Depok yang pernah ada semuanya dari marga Jonathans.

Sejarah Kota Depok (8): Komunitas Kristen Land Depok di Tengah Penduduk Asli Beragama Islam; Sekolah Pemerintah vs Sekolah Zending

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Cornelis Chastelein sesungguhnya tipikal VOC tulen. Saat dirinya masih memiliki jabatan prestisius berani berspekulasi sebagai pionir membeli lahan di Depok, suatu area terjauh dimana orang Eropa/Belanda berada, untuk mengusahakan pertanian (onderneming). Cornelis Chastelein bekerja dengan para tenaga kerjanya dengan sepenuh hati untuk menghasilkan keuntungan. Cornelis Chastelein sendiiri memiliki anak bernama Anthony Chastelein sebagai pewaris.

Gereja di Depok (foto 1939)
Namun sulit dipahami apa yang dipikirkan oleh Cornelis Chastelein ketika asetnya yang berharga jelang kematiannya sebagian diwariskan kepada tenaga kerjanya sebagaimana dinyatakan di dalam testamen yang dibuatnya tahun 1714. Padahal saat itu era materialistik.

Dalam kehidupan nyata, apapun yang dilakukan oleh Cornelis Chastelein, apalagi saat itu era materialistik, tidak ada orang yang peduli. Semua orang-orang Eropa/Belanda berlomba-lomba demi keuntungan dan tidak sempat memikirkan apa yang dilakukan oleh orang lain. Semua orang-orang Eropa/Belanda saat itu berafiliasi dengan VOC (organisasi dagang). Pemerintah dan gereja absen dalam semua kehidupan saat itu. Begitu lama ketidakhadiran pendeta di tanah yang baru.

Sejarah Kota Depok (7): Perkampungan Tionghoa (Pecinan) Depok Tempo Doeloe, Bukan di Pondok Cina; Lantas Dimana?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Apakah ada perkampungan Tionghoa (pecinan) di Kota Depok? Itu pertanyaannya. Tidak pernah diceritakan dan juga tidak pernah ditulis. Mungkin ada sebagian yang  menjawab: Ada pecinan di Depok yakni di Landerien Pondok Tjina. Tampaknya itu keliru. Sebab tidak pernah ditulis Pondok Tjina sebagai pecinan (perkampungan Tionghoa). Mungkin ada sebagian menjawab: Ada pecinan di Landerien Depok sendiri. Jika tidak di Land Pondok Tjina dan juga tidak di Land Depok. Lantas dimana? Pertanyaan ini yang ingin dijawab. Mari kita telusuri.

Sebuah mansion di Kampong Lio, Pondok Terong (foto 1930)
Perkampungan Tionghoa (pecinan) adalah suatu area dimana komunitas orang-orang Tionghoa terawal yang pernah ada dan jumlahnya cukup signifikan serta situsnya masih ditemukan hingga ini hari.

Kampung Tionghoa

Dalam Sensus Penduduk (SP) yang dilakukan onderdistrik Depok terdiri dari 32 desa, yakni: Bedji, Blimbing, Bodjonggede, Bodjongsari, Doerenseribu, Grogol, Kalisoeren, Kedoengringin, Kemiri Moeka, Koekoesan, Limo, Mampang Ilir, Mampang Oedik, Nangerang, Nangerangsoesoekaii, Paboearan, Pangkalan Djati, Paroengblingbing, Pasir Poetih, Pitara, Ratoe Djaja, Rawadenok, Saroea, Sasak Pandjang, Sawangan, Tadjoerhalang, Tanahbaroe. Tjimanggies, Tjinangka, Tjinere, Tjipajoeng, Tjitajam dan Tjoeroeg.

Sejarah Kota Depok (6): Depok adalah Nama Asli, Bukan Singkatan; Een der Oudste Christengemeenten van het Eiland Java

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Di dalam Wikipedia, disebut secara etimologi nama Depok/Depoc berasal dari akronim organisasi Kristiani yang didirikan Cornelis Chastelein: De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. Wikipedia mengutip dari tulisan Tasa Nugraza Barley berjudul ‘The Forgotten Bule Depok’ yang diupload tanggal 22 September 2014. Tidak diketahui dari mana sumbernya bahwa nama Depok sebagai akronim.

Salinan testamen Cornelis Chastelein ( JN Grimmiu, 1852)
Asal-usul nama Depok berbeda dengan asal usul Batavia, Preanger dan Buitenzorg. Nama Batavia merupakan nama region/wilayah di Belanda bagian utara tempo doeloe, sementara nama Preanger mengacu pada penyebutan orang Belanda untuk orang Priangan, sedangkan Buitenzorg bermula dari penyebutan region/wilayah tempat peristirahatan di luar kota (buiten dan zorg). Nama Depok sendiri adalah nama yang diadopsi dari nama asli. Depokker merujuk pada orang-orang pribumi, pewaris Cornnelis Chastelein di Land Depok (lihat Depok en de Depokker: Eene Bijdrage tot de Kennis van Inlandsche Christenen op Java door JN Grimmius, 1852).

Depok adalah Nama Asli

Nama Depok adalah nama asli, bukan singkatan. Disebut asli karena pemberian nama Depok muncul dari orang asli. Nama-nama asli memang sulit dilacak asal-usulnya. Faktanya nama-nama asli sudah disebut sejak lama. Nama tetangga Depok yang sudah sejak lama eksis adalah Mampang, Pondok Tjina dan Pondok Terong.

Sejarah Kota Depok (5): Pembangunan Jalur Kereta Api Batavia-Buitenzorg via Depok; Mempersatukan Kembali Orang Eropa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Rencana eksploitasi jalur kereta api Batavia dan Buitenzorg akan sangat berdampak luas terutama dalam menghubungkan istana di Bogor dan istana di Batavia; memudahkan transportasi penduduk maupun wisatawan yang ke Buitenzorg juga menjadi saranan angkutan utama barang dan komoditi dari hulu sungai Ciliwung. Pembukaan jalur kereta api Batavia dan Buitenzorg via Depok tidak hanya membuka isolasi Depok dan sekitar yang menjadi jalan kuno sejak era Padjadjaran di sisi barat sungai Tjiliwong, juga menyatukan kembali orang-orang Eropa/Belanda di sepanjang sungai Tjiliwong (Batavia, Depok dan Buitenzorg).

Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873
Pada tahun 1861 di Afdeeling Buitenzorg terdapat orang Eropa/Belanda sebanyak 759 orang (lihat Statistiek der Assiten Residentie Buitenzorg, 1861). Di Land Bloeboer (pusat kota Buitenzoeg) sebanyak 250 orang. Semua landerien yang berada di sisi barat sungai Tjiliwong termasuk Depok secara keseluruhan terdapat 372 orang Eropa/Belanda (yang hampir semuanya berada di Land Depok, 350 orang). Sedangkan di sisi timur sungai Tjiliwong hanya terdapat 55 orang Eropa/Belanda.

Eksploitasi kereta api di Batavia dan sekitar akhirnya realisasi pembangunannya dilakukan pada tahun 1869.  Pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg ini ditandai dengan pencangkulan pertama yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal pada tanggal 25 October 1869.

Sejarah Kota Depok (4): Moda Transportasi di Depok Tempo Doeloe; Jalan Kuno Sejak Era Padjadjaran

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Kota Depok pada masa ini berada diantara Jakarta dan Bogor yang di masa doeloe Gemeente Depok berada diantara Batavia dan Buitenzorg.  Pada masa sebelumnya di masa lampau, kampong Depok berada diantara (pelabuhan) Soenda Kalapa dan (kerajaan) Pakwan-Padjadjaran.

Peta, 1755
Nama Depok kemungkinan besar adalah nama asli, bukan nama yang diadopsi setelah munculnya orang-orang Eropa/Belanda. Sebab menurut dokumen VOC semasa Cornelis Chastelein masih hidup disebutkan membeli lahan di Sringsing (1691) dan membeli lagi lahan di Depok dan Mampang (1696). Nama-nama Sringsing, Depok dan Mampang boleh jadi nama-nama kuno (sejak era Pakuan-Pajajaran) atau paling  tidak nama-nama yang muncul sebelum kedatangan orang-orang Eropa/Belanda.

Nama-nama tempat yang dicatat sejak pembelian lahan oleh Cornelis Chastelein di Sringsing, Depok dan Mampang bersumber dari laporan ekspedisi yang dilakukan oleh Abraham van Riebeek tahun 1703 yang melalui rute sisi barat sungai Tjiliwong: Tjililitan, Tandjong, Pondok Tjina, Depok, Pondok Terong, Bodjonggede, Tjiliboet dan Paroeng Angsana.

Sejarah Kota Depok (3): Wilayah Administrasi Depok Tempo Doeloe; Tanah Partikelir, Penduduk dan Nama-Nama Desa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Pada era VOC diberi kesempatan untuk pemilikan lahan pribadi yang dikenal sebagai tanah partikelir (landerien). Pada masing-masing tanah partikelir ini terdapat sejumlah kampung yang dihuni oleh penduduk pribumi, Tionghoa dan Eropa/Belanda. Salah satu tanah partikelir yang terpenting di afdeeling Buitenzorg adalah Depok. Hampir seluruh populasi orang-orang Eropa/Belanda berada di Depok.

Statistik Kota Depok tempo doeloe (1861)
Orang-orang Tionghoa tampak lebih tersebar di semua landerien. Populasi orang-orang Tionghoa terbanyak ditemukan di landerien di Pondok Terong/Ratoe Djaja, Pondok Tjina dan Tjinere. Di Landerien Mampang tidak ditemukan orang Tionghoa.

Nama-Nama Tanah Partikelir Tahun 1861

Pada awal pembagian administratif Regentschappen (Kabupaten) Buitenzorg memiliki lima district (kecamatan), yakni: Buitenzorg, Paroeng, Tjibinong, Jassinga dan Tjibaroessa. Pada tahun 1861 Regentschappen (Kabupaten) Buitenzorg terdiri dari 62 tanah partikelir (landerien) dan 1.030 kampong dengan jumlah penduduk pribumi sebanyak 341.083 (lihat Statistiek der Assiten Residentie Buitenzorg, 1861).

Sejarah Kota Depok (2): Situ Pitara di Depok Disodet untuk Mengairi Persawahan di Tandjong Barat; Bendungan Situ Pitara Ditutup Tahun 1930

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Jumlah situ (danau) di Kota Depok sekarang hanya tinggal 23 buah. Jumlah ini sudah sangat berkurang jumlahnya dibanding pada masa lampau. Dari jumlah situ yang tersisa sekarang, hampir semuanya telah berkurang luasnya. Situ yang lebih awal berkurang luasnya adalah Situ Pitara atau juga kini disebut Situ Pancoran Mas. Lahan yang menjadi lokasi Komplek Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias di Kota Depok yang sekarang adalah eks Situ Pitara. Bagaimana jumlah situ berkurang jumlahnya dan bagaimana pula luasnya berkurang, mari kita telusuri.

Peta Tjipajoeng, 1901
Situ, setu, danau, lake atau meer secara teknis karena gejala alam atau intervensi manusia. Umumnya situ terbentuk karena gejala alam. Akan tetapi ada juga situ akibat kombinasi gejala alam dan intervensi manusia. Di Kota Depok, Situ Rawa Besar terbentuk karena adanya intervensi manusia di masa lampau dalam pembutan bata untuk di pasok ke Batavia. Pabrik batu bata ini disebut lio. Nama kampong Lio diduga berasal dari situasi ini.

Situ Pitara

Situ Pitara atau Situ Pancoran Mas di Kota Depok yang sekarang kini hanya tinggal setengah hektar. Padahal di masa lampau situ yang tidak jauh dari Stasion Depok ini luasnya sekitar tujuh hektar (lihat Rapport de Kommisie Eene Zehaven voor Batavia, 1872). Bagaimana luas Situ Pitara jauh berkurang karena adanya intervensi manusia. Berkurangnya luas situ ini bermula karena berkurangnya debit air dan perluasan sawah di Tandjong Barat sebagai pemicunya. Beritanya ditemukan pada tahun 1930 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-07-1930).  

Sejarah Kota Depok (1): Menyusun Kembali Sejarah Depok; Cornelis Chastelein Pionir Gemeente (Kota) Depok

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Untuk memahami sejarah suatu kota yang sebenarnya, perlu memeriksa (menguji) kembali data dan informasi masa lalu. Berdasarkan data dan informasi yang lebih baik (lebih lengkap dan lebih akurat), perjalanan suatu area menjadi kota, sejarah suatu kota baru dapat disusun. Demikian juga dengan Sejarah Kota Depok. Penelusuran yang cermat dan komprehensif akan sendirinya memberikan gambaran seutuhnya bagaimana kota bermula (origin), bagaimana kota berkembang dan bagaimana kota lestari hingga ini hari.

Stasion Depok, 1925
Sesungguhnya, sejak awal saya ingin menulis Sejarah Kota Depok. Akan tetapi saya tunda dulu. Saya memikirkan ulang, ada baiknya saya mulai dari Sejarah Batavia (Jakarta), Sejarah Preanger (Bandung) dan Sejarah Buitenzorg (Bogor). Hal ini tidak saja karena ketiga kota ini adalah kota besar tetapi juga karena (kota) Depok berada di garis continuum tiga kota tersebut. Paralel dengan itu saya juga (telah) menulis Sejarah Padang Sidempuan, Sejarah Tapanuli, Sejarah Kota Medan dan Sejarah Kota Padang. Pada hari ini, sebelum saya melanjutkan langkah berikutnya menulis Sejarah Semarang, Sejarah Soerabaja, Sejarah Macassar dan Sejarah Koeala Loempoer, saya harus menyelesaikan Sejarah Kota Depok terlebih dahulu. Semua itu pada nantinya dapat dirangkaikan menjadi satu kesatuan pemahaman dalam pelukisan gambaran awal Nusantara (baca: Sejarah Indonesia).

Serial Sejarah Kota Depok ini (seperti sejarah kota-kota lain) akan dibuat berdasarkan tematik, setiap artikel akan mendeskripsikan topik-topik tertentu (relevan) yang akan menyajikan asal mula (origin) hingga puncak-puncak perkembangan kota. Topik-topik tersebut (Depok) akan dikaitkan dengan wilayah dekat (regional) dan wilayah yang lebih luas (nasional). Dengan mengacu pada kurun waktu sejaman (data historis) dan spasial diharapkan penulisan Sejarah Depok yang sebenarnya dapat tersusun dengan baik. Mari kita mulai dari artikel pertama: Cornelis Chastelein: Pionir Kota Depok.

Sejarah Bogor (23): Kereta Api Batavia-Buitenzorg via Depok (1873); Rencana Awal Batavia-Bekasi-Buitenzorg (1864)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin


Pembukaan jalur kereta api Batavia dan Buitenzorg sangat berdampak luas: menghubungkan istana di Bogor dan istana di Batavia; memudahkan transportasi penduduk maupun wisatawan yang ke Buitenzorg. Manfaat lainnya adalah menjadi angkutan utama barang dan komoditi dari hulu sungai Ciliwung. Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg mulai dioperasikan tahun 1873. Jalur ini dikelola oleh swasta (NIS).

Stasion Buitenzorg, 1880
Pembukaan jalur Batavia-Bogor telah mengoptimalkan perkebunan-perkebunan di Buitenzorg dan wilayah pertanian penduduk. Sebagaimana diketahui sudah sejak lama antara Batavia dan Buitenzorg terjadi komersiaisasi lahan (land) dan terbentuknya perkebunan-perkebunan (onderneming). Jalur antara Batavia dan Buitenzorg yang dibuka tahun 1873 merupakan kelanjutan jalur kereta api barang dari Jakarta kota yang sekarang dari dan ke pelabuhan baru di Tandjong Priok. Stasion Buitenzorg, 1880.

Jalur Kereta Api: Batavia-Bekasi-Buitenzorg

Di ’sGravenhage (kini Den Haag) telah ada rencana konsesi pada tahun 1864 untuk mengeksploitasi jalur kereta api di (pulau) Jawa. Yang mendapat hak konsesi ini adalah JE Banck Cs. Rencana ini sudah dituangkan dalam proposal dan sudah dipetakan. Dalam peta tersebut, jalur kereta api yang akan dibangun untuk ruas Batawia-Buitenzorg melalui Bekasi, Tjibidong (Cibitung), Tjilengsi dan Tjitrap (Citeureup).