Sejarah Kota Depok (32): Daftar Kecelakaan Kereta Api Jakarta-Bogor; Tabrakan Maut di Depok 1968 dan 1993

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Kereta api jalur Batavia-Buitenzorg via Depok mulai dioperasikan pada tahun 1873. Halte kereta api di jalur tersebut berada di Pasar Minggoe, Lenteng Agoeng, Pondok Tjina, Depok (lama), Tjitajam, Bodjong Gede dan Tjiliboet. Dalam perjalanan waktu, di jalur kereta api terpadat di luar Batavia itu muncul peristiwa kecelakaan yang tidak diinginkan akibat tabrakan: dua kereta api berlawanan arah beradu kepala.

Kereta api di stasion Buitenzorg, 1927
Tabrakan maut terjadi pada tahun 1968 dan tahun 1993. Dua peristiwa kecelakaan tabrakan kereta api ini mengakibatkak banyak korban meninggal.

Tabrakan Pertama, 1904

Pada tahun 1904 terjadi kecelakan di jalur kereta api Batavia-Buitenzorg di stasion Bodjong Gede. Persoalannya sepele tetapi dampaknya serius, yakni soal pengaturan berhenti. Akibat kelalaian masinis terjadi kecelakaan tabrakan kereta di stasion (Bataviaasch nieuwsblad, 15-01-1904). Dalam berita ini tidak disebutkan apakah ada korban.

Ditambahkan, jalur kereta dari Batavia ke Buitenzorg terdapat sistem yang mengatur bahwa di Lenteng Agong, Pondok Tjina, Depok dan Tjitajam di sebelah kiri, sedangkan di Passar-Minggoe, Bodjong Gedeh dan Tjileboet justru berhenti di kanan. Padahal di Belanda semua pemberhentian berada di kiri.

Namun demikian, besar dugaan tabrakan kereta api ini tidak menimbulkan korban. Sebab kereta yang tabrakan merupakan dua kereta yang mana satu kereta dalam posisi diam (berhenti) di stasion dan yang satu lagi dalam posisi bergerak lambat untuk berhenti di stasion.

Tabrakan Kedua di Depok

Peristiwa tabrakan kereta api di Depok terjadi pada tahun 1968 telah terjadi. Tabrakan kereta ini antara kereta ekspres dengan kereta ekonomi. Tidak dijelaskan posisi tempat terjadinya tabrakan.

Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 21-09-1968: ‘Kecelakaan kereta api. Dalam tabrakan frontal Jumat tiga puluh orang meninggal antara dua kereta di Depok menuju Jakarta dan lebih dari 150 terluka, petugas rumah sakit telah mengindikasikan di Jakarta dari terluka sebanyak 48 serius. Beberapa gerbong yang tergelincir dan terbalik setelah tumbukan. Banyak penumpang di gerbong depan kedua kereta, kereta ekspres dan kereta lokal, terjebak. Terluka pertama kali dibawa ke rumah sakit di Depok, terletak 40 km dari Jakarta. Kemudian, banyak dari mereka diangkut ke rumah sakit di Bogor’. Kecelakaan ini juga dilaporkan Amigoe di Curacao: weekblad voor de Curacaosche eilanden, 21-09-1968.

Tabrakan Ketiga di Ratujaya

Peristiwa tabrakan kereta api seperti yang terjadi tahun 1968, di Ratu Jaya terjadi pada tahun 1993. Dua kereta api yang berlwanan arah beradu kepala di desa Ratujaya, tetangga desa Depok. Tabrakan maut ini menyebabkan banyak korban.

Nieuwsblad van het Noorden, 03-11-1993: ‘Kecelakaan kereta api. Sebuah kecelakaan kereta api di ibukota Indonesia Jakarta kemarin sedikitnya 18 orang tewas, dua ratus orang terluka. Kecelakaan itu terjadi ketika dua kereta penumpang pada jam sibuk pagi hari kepala bertabrakan satu sama lain di kota Depok, 30 kilometer selatan Jakarta. Banyak korban terjebak di gerbong depan kedua kereta. Penelitian belum menentukan apa yang menyebabkan terjadinya kecelakaan akibat kesalahan teknis atau manusia’. Limburgsch dagblad, 03-11-1993 melaporkan tabrakan kereta api listrik jalur tunggal di Depok menyebabkan 35 korban meninggal. Hanya bagian terakhir dari Depok ke Jakarta terdiri dari jalur ganda. Penyebab kecelakaan belum diketahui’.

Kereta Kerap Tergelincir Oleh Sesaknya Penumpang

Ketika bis kota belum miring ke kiri oleh sesaknya penumpang seperti lirik lagu Franky Sahilatua, kereta api sudah sejak lama miring ke kanan dan miring ke kiri oleh sesaknya penumpang. Bis hanya miring ke kiri karena pintu hanya di kiri, sedangkan kereta api miring ke kiri dan juga mering ke kanan karena di dua sisi terdapat pintu/ Kereta mring ke mana tergantung di ruas mana rel kereta terdapat tikungan. Kereta api jalur Jakarta-Bogor miring ke kiri dan kanan terungkap dari seorang pembaca menulis.   

De Telegraaf, 04-08-1962: ‘Aku naik pagi dari Depok desa saya ke kota besar di Djakarta. Tiga puluh kilometer. Kami tergelincir biasanya satu jam, kadang-kadang lebih lama, tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Semakin dekat saya di Jakarta, penumpang datang lebih penuh lagi di kereta itu. Orang-orang bergantung pada setiap sisi, mereka bahkan berada berdiri di papan tangga kereta. Kereta api dengan locomotief listrik yang terbuat dari besi yang berat. kadang-kadang penumpang  menambah beban menjadi berat. Jika kereta miring ke satu sisi maka Anda akan mendengar teriakan. Demikian juga di dalam tidak tenang, ribuan penumpang terbang ke sisi yang miring. Tidak jarang kereta malah terbalik ke sisi yang berat dan masuk ke dalam parit. Tentu saja, jika kereta miring ke kiri atau ke kanan tidak ada alasan untuk panik, sebab kereta umumnya akan melaju pelan’.

Situasi dan kondisi kereta miring ke kiri dan miring ke kanan masih terlihat hingga beberapa tahun yang lalu. Setelah adanya kebijakan baru pengelola kereta api (PT KAI) semua kereta pintu harus ditutup fenomena itu tidak ada lagi.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar