Sejarah Kota Depok (35): Seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia; Revolusi Sosial di Depok, 11 Oktober 1945

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi ini ditandai dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno di Djakarta. Proklamasi ini juga menandai kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Kemerdekaan penduduk asli yang dirampas oleh VOC, penduduk yang terjajah terus dipertahankan oleh Pemerintah Hindia Belanda yang menyusul kemudian. Secara khusus total, kolonisasi di Depok telah berlangsung 240 tahun (1705-1945).

Depokker, Warga Depok (1939)
Penjajahan secara defacto dimulai tahun 1619 ketika VOC (Belanda) memulai koloni di hilir sungai Tjiliwong dengan mendirikan benteng yang kemudian disebut Casteel Batavia. Koloni yang bermula di benteng tersebut meluas dengan dimulainya Kota Batavia (Stad Batavia) tahun 1626. Dari ibukota koloni ini kolonialisme dimulai memperluas wilayah koloni (jajahan) ke seluruh wilayah nusantara, termasuk di Depok di hulu sungai Tjiliwong. Cornelis Chastelein secara dejure memulainya di Depok tahun 1705 yang kemudian tahun 1714 Land Depok diserahkan (diwariskan) kepada para tenaga kerjanya yang turunannya kelak disebut Depokker (warga Depok) yang dibedakan dengan orang Depok, penduduk asli.

Pasca proklamasi kemerdekaan, situasi dan kondisi di Depok dan sekitar tidak terinformaasikan. Pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintahan Belanda di Indonesia benar-benar takluk tanpa syarat kepada militer Jepang. Sejak berakhirnya era kolonial Belanda awal tahun 1942, situasi dan kondisi di Depok dan sekitar pada era pendudukan Jepang benar-benar gelap gulita. Hanya beberapa hal yang terpublikasikan ke publik. Hanya beberapa helai informasi yang berserakan yang berhasil dikumpulkan.

Di awal pendudukan Jepang, surat kabar swasta berbahasa Belanda masih terbit. Radio eks Pemerintah Hindia Belanda telah diambilalih dan sepenuhnya dikontrol militer Jepang. Setiap awal siaran (pagi hari) dimulai dengan lagu Kimigayo. Haagsch maandblad, 15-01-1943 memberitakan bahwa tanah-tanah partikelir telah diambilalih militer Jepang, termasuk Land Depok.

Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Pada tanggal 17 Agustus 1945 siang bahwa Indonesia telah merdeka sudah diketahui secara luas di Depok. Di Bandoeng dan sekitarnya bahwa Indonesia telah merdeka baru malam hari diketahui setelah teks proklamasi dibacakan pukul tujuh malam hari oleh sang penyiar Radio Bandoeng (cikal bakal RRI Bandung), Sakti Alamsyah. Siaran Radio Bandoeng ini bahkan dapat ditangkap di Djogjakarta dan Australia.

Sakti Alamsyah dalam pengantarnya, memulai intro sebagai berikut: “Di sini Radio Bandung, siaran Radio Republik Indonesia...". Padahal waktu itu belum lahir Radio Republik Indonesia alias RRI. Salinan teks proklamasi yang dibaca Sakti Alamsyah diperoleh dari Adam Malik (pemimpin Kantor Berita Antara). Teks yang dibacakan Sakti Alamsyah—yang pada waktu itu Sakti Alamsyah masih berumur 23 tahun—ada perbedaan kecil dalam teks proklamasi yang disiarkan Sakti dengan teks sebagaimana dibacakan Soekarno di Pegangsaan Timur, Jakarta. Sakti Alamsyah justru menutupnya dengan kalimat "Wakil-wakil Bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta". Padahal, Bung Karno membacakannya dengan kalimat yang jelas terdengar "Atas Nama Bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta". Tidak ada yang mengetahui dengan pasti bagaimana asal muasal perbedaan teks dan yang dibacakan Soekarno dengan apa yang disuarakan Sakti Alamsyah. Selain itu, penyebutan ‘Radio Republik Indonesia’ untuk menamai diri dalam pengantar siaran, Sakti Alamsyah justru mengabaikan nama yang selama ini diucapkan dengan ‘Radio Bandung Hoshokyoku’. Sekalipun hari itu proklamasi sudah dikumandangkan, tetapi kenyataannya bentuk negara belum disepakati. Para pemerhati, menganggap teks ‘ala’ Sakti Alamsyah itu sebagai pernyataan futuristik dari lubuk hati dirinya. Padahal negara baru Indonesia justru setelahnya diputuskan berbentuk republik yang notabene juga nama radio nasional baru ditetapkan kemudian persis seperti yang diucapkan pertama kali oleh Sakti Alamsyah: “Di sini Radio Bandung, siaran ‘Radio Republik Indonesia’. Kita harus akui bahwa inisiatif para pekerja khususnya penyiar Radio Bandung Hoshokyoku, Sakti Alamsyah, untuk menyuarakan teks proklamasi di udara yang dapat didengar semua publik jelas-jelas sesuatu keputusan yang berani. Tidak hanya sampai di situ para penyiar Radio Bandung Hoshokyoku tanpa rasa takut terus berulang-ulang menyiarkan naskah proklamasi itu setiap kali ada kesempatan untuk dibacakan kembali. Pertanyaannya: Mengapa justru Radio Bandung yang berani menyiarkannya? Untuk sekadar diketahui, yang membawa salinan teks proklamasi itu dari Djakarta ke Bandoeng dengan kereta api adalah Mochtar Lubis (wartawan Kantor Berita Antara). Adam Malik (Batubara), Mochtar Lubis dan Sakti Alamsyah (Siregar) berperan penting dalam tersiarnya berita kemerdekaan di Bandoeng dan sekitarnya. Ketiga orang anak muda sebaya (lahir di tahun yang sama) ini sama-sama pernah bekerja di Radio Militer Jepang di Djakarta atas rekomendasi Parada Harahap (guru tiga anak muda ini). Sementara itu, kedekatan Soekarno dan Hatta kepada Jepang karena Parada Harahap. Satu ‘anak buah’ Parada Harahap yang tidak mau bekerjasama dengan Jepang adalah Amir Sjarifoeddin (Harahap). Untuk sekadar diketahui Parada Harahap, editor surat kabar Bintang Timoer (koran yang mana Soekarno mengirim tulisannya) dan ketua “Kadin’ pribumi  di Batavia adalah orang yang memimpin tujuh orang pertama Indonesia ke Jepang untuk memprovokasi Belanda pada tahun 1933 (termasuk di dalamnya Hatta yang baru selesai studi di Belanda). Parada Harahap memulai kiprah jurnalistik dengan mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean tahun 1919. Di kota ini, Parada Harahap belasan kali terkena delik pers dan beberapa kali dibui di penjara Padang Sidempoean, penjara dimana Adam Malik pernah dijebloskan karena kampanye politik pada usia 17 tahun. Pada tahun 1923 Parada Harahap hijrah ke Batavia dengan mendirikan surat kabar Bintang Hindia dan kantor berita pribumi pertama Alpena dengan wartawannya Wage Rudolf Supratman (yang tinggal di rumah Parada Harahap). Kantor berita Antara adalah penerus kantor berita Alpena. Kantor berita Antara didirikan oleh Adam Malik dengan menempati rumah Yahya Malik Nasution (mertua Bob Tutupoli) yang dibuang ke Digoel sebagai tokoh organisasi politik. Sakti Alamsyah (Siregar) kelak dikenal sebagai pendiri surat kabar Pikiran Rakyat Bandung (saya pernah bertemu beliau di Bandung pada tahun 1981).

Namun demikian bahwa Indonesia telah merdeka tanggal 17 Agustus 1945 belum semua wilayah di Indonesia mengetahuinya. Tidak diketahui kapan berita kemerdekaan sampai ke Padang Sidempoean (kampung halaman Parada Harahap, Amir Sjarifoeddin, Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsyah). Sebab di Medan sendiri baru tanggal 6 Oktober 1945 berita kemerdekaan diumumkan ke publik. Padahal berita kemerdekaan di Lampoeng telah diumumkan ke publik tanggal 24 Agustus 1945.

Pada tanggal 23 Agustus setelah PPKI selesai bersidang untuk menentukan Presiden dan Wakil, Dasar Negara dan UUD, Mr. Mohamad Hasan, Dr. Amir diutus ke Medan dan Mr. Abdoel Abbas diutus ke Palembang dan Tandjong Karang, Di Medan, Mohamad Hasan dan Amir tampaknya enggan atau tidak berani mengumumkan segera berita kemerdekaan, sementara Abdul Abbas (Siregar) segera mengumumkannya di Palembang dan Lampoeng. Oleh karenanya, berita bahwa Indonesia telah merdeka sangat telat diumumkan di Medan dan karena desakan pemuda baru Mohamad Hasan dan Amir mengumumkan di depan publik tanggal 6 Oktober 1945.

Dalam menanggapi Proklamasi Kemerdekaan RI dan menindaklanjuti bahwa Indonesia telah merdeka tokoh-tokoh nasional saat itu sangat beragam: ada yang berani, ada yang pengecut dan ada yang tidak mau tahu. Berbeda-beda tapi tetap satu. Itulah Indonesia.

Peristiwa Berdarah di Depok, 11 Oktober 1945

Di Medan adalah satu hal, sementara di Depok hal yang lain. Setelah lima hari berita kemerdekaan Indonesia diumumkan ke publik di Medan, di Depok pada tanggal 11 Oktober 1945 terjadi peristiwa berdarah yang tidak diinginkan. Peristiwa ini baru diberitakan ke publik tanggal 16 Oktober 1945. Sementara itu di surat kabar dilaporkan bahwa pada tanggal 15 Oktober 1945 di Buitenzorg, 45 km di selatan Batavia tanpa insiden diduduki oleh pasukan Inggris.

Telex, 16-10-1945
Telex, 16-10-1945: ‘Di Depok (antara Batavia dan Buitenzorg) kelompok bersenjata Nasionalis melakukan penggerebekan, warga cukup banyak terbunuh, rumah dirusak dan semua isinya telah diambil. Orang-orang telah meninggalkan desa. Kapal Australia telah berlayar dari Australia membawa sebanyak 687 tahanan politik (yang dipindahkan dari Digoel) menuju Indonesia (Tandjong Priok). Kemarin sore terjasdi pertempuran di Zuid Batavia di mana dua hari lalu pasukan Inggris telah mengambil kontrol di lapangan usara Tjililitjan (kini Halim) Tentara kontingen Nederland telah dikirim kesana untuk memperkuat’.

Berapa banyak warga Depok yang terbunuh belum diketahui secara jelas. Surat kabar Provinciale Drentsche en Asser courant, 17-10-1945 melaporkan setidaknya 15 orang laki-laki dan perempuan Eropa dan Indo-Eropa. Para kelompok nasionalis telah menguasai Depok selama empat hari, para warga telah menyerah dan meminta belas kasihan dan seluruh warga telah melarikan diri ke hutan.

Provinciale Drentsche en Asser ct, 17-10-1945
Provinciale Drentsche en Asser courant, 17-10-1945: ‘Setidaknya 15 Eropa dan Indo-Europeesehe pria dan wanita Depok dibunuh oleh kelompok fanatik yang telah menyatakan perang suci, Berdasarkan laporan koresponden ANP Robert Kiek, Depok sekarang, sebuah desa dimana semua rumah dijarah dan dirusak. Selama empat hari, 2.000 warga Depok, sebagian besar Indo-Eropa, telah menyerah dan meminta belas kasihan. Kelompok nasionalis telah mengepung Depok dan menjarah semua rumah dan merusak serta berbagai perabotan, sehingga seluruh penduduk melarikan diri ke hutan’.

Yang melaporkan kejadian ini adalah Robert Kiek, seorang reporter ANP/Aneta beserta dua koresponden perang lainnya di bawah pengawalan tentara Gurkha dari kesatuan Inggris. Peliputan ke Depok dimaksudkan untuk menyelidiki tentang adanya rumor tentang penjarahan di Depok. Laporan Robert Kiek yang terperinci muncul dalam surat kabar Algemeen Handelsblad edisi 18-10-1945.
   
Tunggu deskripsi lengkapnya

Penyebab Terjadiya Peristiwa

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar