Sejarah Bogor (4): Lukisan Pertama Buitenzorg pada Era VOC (1769); Menemukan Surga di Hulu Ciliwung

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Suatu tempat di hulu sungai Tjiliwong sudah dilaporkan sejak era Portugis. Tempat tersebut menurut orang-orang yang berada di Sunda Kelapa dikatakan daio atau dayo (dajeuh). Namun dimana posisinya tidak diketahui dengan jelas (lihat Thome Pires, 1534). Dayo ini kemudian diduga sebagai Kerajaan Pakwan-Padjadjaran yang berada diantara persinggungan terdekat dua sungai di pedalaman yang mengalir ke laut Java: sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane. Pakuan-Pajajaran sendiri sempat meminta bantuan kepada Portugis tahun 1521. Kerajaan Pakuan beribukota di Pajajaran menurut laporan Portugis barhasil ditaklukkan Islam dari Banten tahun 1527 (Encyclopedie van Nederlandsch-Indie, DG Stibbe, cs. 1919).  

Istana Buitenzorg, 1834 (pasca gempa 1824)
Selama era Portugis tidak pernah dilaporkan ada orang asing (Eropa) yang penah mengunjungi dayo tersebut. Baru di era Belanda (VOC) sejumlah ekspedisi pernah dilakukan ke dayo Pakwan-Padjadjaran. Belanda memulai koloni di Batavia, 1619. Ekspedisi pertama dilakukan pada tahun 1687 dan disusul ekspedisi kedua (1690). Kemudian beberapa kali ekspedisi dipimpin oleh Abraham van Riebeeck sejak 1703 (lihat DG Stibbe, cs. 1919). Sebagaimana diketahui Abraham van Riebeeck pada tahun 1711 diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC.

Dari berbagai ekspedisi yang telah dilakukan ke Dayo tidak pernah ditemukan hasil visual kunjungan dalam bentuk lukisan. Sebagaimana diketahui, pada era itu, belum ada alat teknik merekam. Satu-satunya cara untuk mendapatkan visual di suatu wilayah ekspedisi baru adalah dengan membuat lukisan. Hasil lukisan-lukisan sejaman, umumnya berupa visual terhadap hal tertentu yang ingin menceritakan apa adanya. Dengan kata lain, lukisan adalah pelukisan suatu objek tertentu secara detail. Lukisan pada masa itu dapat dianggap sebagai data/informasi otentik.