Sejarah Bogor (6): Nama Jalan Di Bogor Tempo Doeloe; Nama Masa Kini, Teranyar Jalan Prof. Dr. H. Andi Hakim Nasoetion

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Nama Kota Bogor adalah sesuatu yang baru. Nama Kota Bogor menggantikan nama Kota Buitenzorg baru terjadi pada tahun 1950. Pengumuman nama resmi Kota Bogor disampaikan oleh Menteri Pendidikan, A. Mononutu dalam konferensi pers (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 21-01-1950). Hal ini berbeda dengan Djakarta yang menggantikan nama Batavia, saat Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 otomatis Batavia berganti menjadi Djakarta. Tidak demikian dengan Buitenzorg.

Nama jalan baru: Andi Hakim Nasoetion (foto asli ayobogor.com)
Nama kota dengan nama Buitenzorg secara resmi dimulai tahun 1810. Hal ini terkait dengan pembelian tanah-tanah partikelir yang dilakukan oleh Gubenur Jenderal Daendels mewakili Pemeribntah Hindia Belanda pada tahun 1810 untuk membentuk Kota Bogor sebagai milik pemerintah. Buitenzorg sendiri sebelum ditetapkan sebagai nama kota adalah nama area. Suatu nama area yang meliputi dari Dermaga hingga Tjiseroa dan dari Kampong Baro hingga Tjidjeroek. Nama area Buitenzorg berasal-usul dengan keberadaan Istana Gubernur Jenderal VOC di Kampong Baro (Kampong masa lampau dimana Istana Bogor yang sekarang berada). Bahasa Belanda, buiten=luar rumah, zorg=tempat peristirahatan.  

Setelah nama resmi Kota Bogor diubah, lalu nama-nama jalan juga diubah. Namun nama-nama jalan yang diubah hanya yang berbau Belanda. Sedangkan nama yang berbau pribumi tetap dipertahankan, seperti nama-nama geografis (nama kampong, nama area dan sebagainya).

Sejarah Bogor (5): Potret Warga Buitenzorg Tempo Doeloe; Membandingkan Raut Muka dengan Wajah Kita Warga Bogor Masa Kini

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Warga Buitenzorg, siapapun mereka, mari kita coba tengok mereka yang hidup pada satu abad yang lalu. Beberapa potret (foto/lukisan) yang berhasil ditemukan dibuang sayang. Padahal raut muka mereka dapat dibandingkan dengan wajah kita pada masa kini. Dengan demikian potret mereka masih berguna bagi kita.

Wajah wanita Bogor 1868
Mereka yang hidup di Buitenzorg pada satu abad yang lalu bagiakan hidup di surga. Hawa yang sejuk, view sekitar yang alami dan indah, air yang jernih dan menyegarkan tubuh bila mandi. Beras, sayur-sayuran dan hewan ternak yang tidak terkontaminasi racun dalam bahan makanan menjadi sehari-hari mereka. Mata mereka akrab dengan alam, gelap di malam hari, terang di siang hari. Bandingkan dengan kita warga Bogor yang sekarang, kecoa dimana-mana, tikus got juga dimana-mana, air got begitu bau bahkan air kali Ciliwung begitu buruk. Daun-daunan tidak sehijau dulu, air hujan sudah disertai logal berat, panas yang kita rasakan bukan lagi panas matahari tetapi panas polusi. Suara bising 24 jam, makanan dan minuman yang tidak sehat. Pertarungan social yang makin rumit, persahabatan antar tetangga yang sudah lama hilang dan mimpi-mimpi kita yang makin jauh dari harapan. Semua perbedaan itu, apakah membedakan raut muka mereka dengan wajah kita sekarang?

Mereka yang hidup satu abad yang lalu di Buiteanzorg terkesan lebih alami, lebih ayu, lebih bersinar dan lebih tenang dan tidak tergesa-gesa. Foto berikut menggambarkan seorang wanita Buitenzorg yang lebih muda yang dibuat pada tahun 1875 sesuai judul: Portret van een jonge vrouw te Bogor oleh Woodbury & Page / Java, 1875. Wajah wanita muda ini tampak lebih dewasa, bersemangat dan optimis meski usianya masih muda belia. Berbeda dengan wajah tempo doeloe, raut muka kita yang hidup sekarang tampak lebih pucat, sendu, dan pesimis. Lantas apakah kualitas kita telah jauh menurun seiring dengan menurunnya kualitas alam dimana kita hidup sekarang?