Sejarah Kota Depok (14): Introduksi Bahasa Melayu di Tengah Penduduk Asli Berbahasa Sunda; Promosi Bahasa Indonesia, Degradasi Bahasa Sunda

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Land Depok tidak hanya koloni warga pendatang di tengah penduduk asli. Warga pendatang yang awalnya merupakan tenaga kerja Cornelis Chastelein juga menjadi koloni pengguna bahasa Melayu di tengah penduduk asli yang berbahasa Sunda (lihat Depok en Depokkers door JN Grimmius, 1852).


Bataviasche courant, 13-04-1825
Pada saat Cornelis Chastelein membuka perkebunan di hulu sungai Tjiliwong (1696) yang kemudian disebut Land Depok, bahasa pengantar untuk pribumi di Batavia adalah bahasa Melayu. Para tenaga kerja yang direkrut Cornelis Chastelein di Batavia yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dengan sendirinya menggunakan bahasa Melayu. Penduduk asli yang sudah ada di hulu sungai Tjiliwong (yang menjadi Land Depok) dan sekitarnya adalah berbahasa Sunda. Disebut sebagai pengguna bahasa Sunda mengacu, paling tidak jika diperhatikan dari nama-nama geografis (nama kampong, sungai dan situ) yang ada di sekitar.

Setelah sekian abad, Land Depok yang dulu hanya segelintir warga sebagai pengguna bahasa Melayu, pada masa kini, bahasa Melayu yang telah bertransformasi menjadi Bahasa Indonesia dan kota yang semakin meluas menjadi Kota Depok sekarang, warga kota terbilang pengguna Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari tertinggi di Indonesia. Bagaimana itu semua terjadi, mari kita telusuri dari awal (sejak adanya komunitas pendatang di Land Depok di masa lampau).