Jumat, 14 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (10): Cagar Alam ‘Natuur Monument’, Laboratorium Pitara dan Tjitajam; Situsnya Masih Eksis Sekarang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Cagar Alam Depok yang juga dikenal sebagai Taman Hutan Raya (Tahura) sesungguhnya memiliki riwayat yang panjang, bahkan kisahnya sudah dimulai sejak Cornelis Chastelein membeli lahan di Depok tahun 1696. Cagar Alam Depok awalya sebuah hutan asli, hutan belantara (jungle). Pada tahun 1878 bahkan masih ditemukan harimau tutul besar (matjan toetoel). Hutan belantara ini pada mulanya seluas 30 Ha telah jauh berkurang menjadi tinggal enam hektar dan nasibnya tidak lebih dari sebuah hutan sekunder (forest).

Cagar alam Depok masa ini (googlemap)
Kesadaran untuk melestarikannya muncul pada tahun 1915. Cagar Alam Depok ditetapkan sebagai laboratorium alam untuk penelitian flora dan fauna yang diintegrasikan dengan Kebun Raya Bogor. Keutamaan Cagar Alam Depok karena huta asli (jungle) sedangkan Kebun Raya Bogor adalah hutan buatan atau menghutankan kembali (forest). Situs lainnya yang menjadi bagian dari penelitian pertanian adalah eks Situ Pitara yang dijadikan sebagai laboratorium perikanan air tawar dan lahan subur di sisi Situ Tjitajam yang menjadi laboratorium alam untuk penelitian hortikultura. Situs-situs ini masih eksis sekarang

Bagaimana kisah masing-masing tentu sangat menarik untuk ditelusuri. Ketiga situs ini kali pertama ditetapkan sebagai laboratorium untuk tujuan yang mulia, namun fungsinya kini sudah sangat jauh berubah. Mari kita lacak satu per satu.

Kamis, 13 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (9): Dinasti Jonathans yang Menjadi Presiden Gemeente Depok; Sejarah Administrasi Pemerintahan di Buitenzorg

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Di Depok pernah pemerintahan dipimpin oleh seorang Presiden. Itu tidak salah tetapi jangan overestimate. Pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Presiden tersebut, sesungguhnya hanya wilayah setingkat desa yang dikenal sejak lama sebagai Gemeente Depok. Pengertian gemeente dalam hal ini bukan pengertian gemeente (kota pradja) yang dipimpin oleh seorang Wali Kota (Burgemeester) seperti di Gemeente Buitenzorg.

Gemeente Bestuur, Gemeente Depok, 1930
Gemeente Buitenzorg dibentuk tahun 1905. Perangkat pemerintahan yang dibentuk pertama adalah dewan kota (gemeenteraad) yang dipimpin oleh Asisten Residen. Pada tahun 1920 secara definitif diangkat seorang Wali Kota (Buergemeester). Dengan demikian, Afdeeling Buitenzorg sebagai kabupaten (gewest) dipimpin oleh Asisten Residen dan Gemeente Buitenzorg sebagai kota pradja dipimpin oleh seorang Burgemeester. Sementara itu, di Gemeente Depok pada tahun 1913 diberi kesempatan untuk mengelola desa sendiri Gemeente Depok (secara otonom) yang dibedakan dengan sistem pemerintahan desa.

Dalam pemerintah setingkat desa (yang bersifat otonom) yang disebut Gemeente Depok, siapa yang akan menjadi pemimpinnya ditentukan secara internal. Pimpinan Pemerintahan Gemeente Depok ini disebut Presiden. Namun yang menarik, Presiden pertama Gemeente Depok adalah G. Jonathans. Ternyata dari lima Presiden Gemeente Depok yang pernah ada semuanya dari marga Jonathans.

Selasa, 11 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (8): Komunitas Kristen Land Depok di Tengah Penduduk Asli Beragama Islam; Sekolah Pemerintah vs Sekolah Zending

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Cornelis Chastelein sesungguhnya tipikal VOC tulen. Saat dirinya masih memiliki jabatan prestisius berani berspekulasi sebagai pionir membeli lahan di Depok, suatu area terjauh dimana orang Eropa/Belanda berada, untuk mengusahakan pertanian (onderneming). Cornelis Chastelein bekerja dengan para tenaga kerjanya dengan sepenuh hati untuk menghasilkan keuntungan. Cornelis Chastelein sendiiri memiliki anak bernama Anthony Chastelein sebagai pewaris.

Gereja di Depok (foto 1939)
Namun sulit dipahami apa yang dipikirkan oleh Cornelis Chastelein ketika asetnya yang berharga jelang kematiannya sebagian diwariskan kepada tenaga kerjanya sebagaimana dinyatakan di dalam testamen yang dibuatnya tahun 1714. Padahal saat itu era materialistik.

Dalam kehidupan nyata, apapun yang dilakukan oleh Cornelis Chastelein, apalagi saat itu era materialistik, tidak ada orang yang peduli. Semua orang-orang Eropa/Belanda berlomba-lomba demi keuntungan dan tidak sempat memikirkan apa yang dilakukan oleh orang lain. Semua orang-orang Eropa/Belanda saat itu berafiliasi dengan VOC (organisasi dagang). Pemerintah dan gereja absen dalam semua kehidupan saat itu. Begitu lama ketidakhadiran pendeta di tanah yang baru.

Sabtu, 08 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (7): Perkampungan Tionghoa (Pecinan) Depok Tempo Doeloe, Bukan di Pondok Cina; Lantas Dimana?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Apakah ada perkampungan Tionghoa (pecinan) di Kota Depok? Itu pertanyaannya. Tidak pernah diceritakan dan juga tidak pernah ditulis. Mungkin ada sebagian yang  menjawab: Ada pecinan di Depok yakni di Landerien Pondok Tjina. Tampaknya itu keliru. Sebab tidak pernah ditulis Pondok Tjina sebagai pecinan (perkampungan Tionghoa). Mungkin ada sebagian menjawab: Ada pecinan di Landerien Depok sendiri. Jika tidak di Land Pondok Tjina dan juga tidak di Land Depok. Lantas dimana? Pertanyaan ini yang ingin dijawab. Mari kita telusuri.

Sebuah mansion di Kampong Lio, Pondok Terong (foto 1930)
Perkampungan Tionghoa (pecinan) adalah suatu area dimana komunitas orang-orang Tionghoa terawal yang pernah ada dan jumlahnya cukup signifikan serta situsnya masih ditemukan hingga ini hari.

Kampung Tionghoa

Dalam Sensus Penduduk (SP) yang dilakukan onderdistrik Depok terdiri dari 32 desa, yakni: Bedji, Blimbing, Bodjonggede, Bodjongsari, Doerenseribu, Grogol, Kalisoeren, Kedoengringin, Kemiri Moeka, Koekoesan, Limo, Mampang Ilir, Mampang Oedik, Nangerang, Nangerangsoesoekaii, Paboearan, Pangkalan Djati, Paroengblingbing, Pasir Poetih, Pitara, Ratoe Djaja, Rawadenok, Saroea, Sasak Pandjang, Sawangan, Tadjoerhalang, Tanahbaroe. Tjimanggies, Tjinangka, Tjinere, Tjipajoeng, Tjitajam dan Tjoeroeg.

Jumat, 07 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (6): Depok adalah Nama Asli, Bukan Singkatan; Een der Oudste Christengemeenten van het Eiland Java

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Di dalam Wikipedia, disebut secara etimologi nama Depok/Depoc berasal dari akronim organisasi Kristiani yang didirikan Cornelis Chastelein: De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. Wikipedia mengutip dari tulisan Tasa Nugraza Barley berjudul ‘The Forgotten Bule Depok’ yang diupload tanggal 22 September 2014. Tidak diketahui dari mana sumbernya bahwa nama Depok sebagai akronim.

Salinan testamen Cornelis Chastelein ( JN Grimmiu, 1852)
Asal-usul nama Depok berbeda dengan asal usul Batavia, Preanger dan Buitenzorg. Nama Batavia merupakan nama region/wilayah di Belanda bagian utara tempo doeloe, sementara nama Preanger mengacu pada penyebutan orang Belanda untuk orang Priangan, sedangkan Buitenzorg bermula dari penyebutan region/wilayah tempat peristirahatan di luar kota (buiten dan zorg). Nama Depok sendiri adalah nama yang diadopsi dari nama asli. Depokker merujuk pada orang-orang pribumi, pewaris Cornnelis Chastelein di Land Depok (lihat Depok en de Depokker: Eene Bijdrage tot de Kennis van Inlandsche Christenen op Java door JN Grimmius, 1852).

Depok adalah Nama Asli

Nama Depok adalah nama asli, bukan singkatan. Disebut asli karena pemberian nama Depok muncul dari orang asli. Nama-nama asli memang sulit dilacak asal-usulnya. Faktanya nama-nama asli sudah disebut sejak lama. Nama tetangga Depok yang sudah sejak lama eksis adalah Mampang, Pondok Tjina dan Pondok Terong.

Kamis, 06 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (5): Pembangunan Jalur Kereta Api Batavia-Buitenzorg via Depok; Mempersatukan Kembali Orang Eropa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Rencana eksploitasi jalur kereta api Batavia dan Buitenzorg akan sangat berdampak luas terutama dalam menghubungkan istana di Bogor dan istana di Batavia; memudahkan transportasi penduduk maupun wisatawan yang ke Buitenzorg juga menjadi saranan angkutan utama barang dan komoditi dari hulu sungai Ciliwung. Pembukaan jalur kereta api Batavia dan Buitenzorg via Depok tidak hanya membuka isolasi Depok dan sekitar yang menjadi jalan kuno sejak era Padjadjaran di sisi barat sungai Tjiliwong, juga menyatukan kembali orang-orang Eropa/Belanda di sepanjang sungai Tjiliwong (Batavia, Depok dan Buitenzorg).

Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873
Pada tahun 1861 di Afdeeling Buitenzorg terdapat orang Eropa/Belanda sebanyak 759 orang (lihat Statistiek der Assiten Residentie Buitenzorg, 1861). Di Land Bloeboer (pusat kota Buitenzoeg) sebanyak 250 orang. Semua landerien yang berada di sisi barat sungai Tjiliwong termasuk Depok secara keseluruhan terdapat 372 orang Eropa/Belanda (yang hampir semuanya berada di Land Depok, 350 orang). Sedangkan di sisi timur sungai Tjiliwong hanya terdapat 55 orang Eropa/Belanda.

Eksploitasi kereta api di Batavia dan sekitar akhirnya realisasi pembangunannya dilakukan pada tahun 1869.  Pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg ini ditandai dengan pencangkulan pertama yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal pada tanggal 25 October 1869.

Selasa, 04 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (4): Moda Transportasi di Depok Tempo Doeloe; Jalan Kuno Sejak Era Padjadjaran

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Kota Depok pada masa ini berada diantara Jakarta dan Bogor yang di masa doeloe Gemeente Depok berada diantara Batavia dan Buitenzorg.  Pada masa sebelumnya di masa lampau, kampong Depok berada diantara (pelabuhan) Soenda Kalapa dan (kerajaan) Pakwan-Padjadjaran.

Peta, 1755
Nama Depok kemungkinan besar adalah nama asli, bukan nama yang diadopsi setelah munculnya orang-orang Eropa/Belanda. Sebab menurut dokumen VOC semasa Cornelis Chastelein masih hidup disebutkan membeli lahan di Sringsing (1691) dan membeli lagi lahan di Depok dan Mampang (1696). Nama-nama Sringsing, Depok dan Mampang boleh jadi nama-nama kuno (sejak era Pakuan-Pajajaran) atau paling  tidak nama-nama yang muncul sebelum kedatangan orang-orang Eropa/Belanda.

Nama-nama tempat yang dicatat sejak pembelian lahan oleh Cornelis Chastelein di Sringsing, Depok dan Mampang bersumber dari laporan ekspedisi yang dilakukan oleh Abraham van Riebeek tahun 1703 yang melalui rute sisi barat sungai Tjiliwong: Tjililitan, Tandjong, Pondok Tjina, Depok, Pondok Terong, Bodjonggede, Tjiliboet dan Paroeng Angsana.

Senin, 03 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (3): Wilayah Administrasi Depok Tempo Doeloe; Tanah Partikelir, Penduduk dan Nama-Nama Desa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Pada era VOC diberi kesempatan untuk pemilikan lahan pribadi yang dikenal sebagai tanah partikelir (landerien). Pada masing-masing tanah partikelir ini terdapat sejumlah kampung yang dihuni oleh penduduk pribumi, Tionghoa dan Eropa/Belanda. Salah satu tanah partikelir yang terpenting di afdeeling Buitenzorg adalah Depok. Hampir seluruh populasi orang-orang Eropa/Belanda berada di Depok.

Statistik Kota Depok tempo doeloe (1861)
Orang-orang Tionghoa tampak lebih tersebar di semua landerien. Populasi orang-orang Tionghoa terbanyak ditemukan di landerien di Pondok Terong/Ratoe Djaja, Pondok Tjina dan Tjinere. Di Landerien Mampang tidak ditemukan orang Tionghoa.

Nama-Nama Tanah Partikelir Tahun 1861

Pada awal pembagian administratif Regentschappen (Kabupaten) Buitenzorg memiliki lima district (kecamatan), yakni: Buitenzorg, Paroeng, Tjibinong, Jassinga dan Tjibaroessa. Pada tahun 1861 Regentschappen (Kabupaten) Buitenzorg terdiri dari 62 tanah partikelir (landerien) dan 1.030 kampong dengan jumlah penduduk pribumi sebanyak 341.083 (lihat Statistiek der Assiten Residentie Buitenzorg, 1861).

Sejarah Kota Depok (2): Situ Pitara di Depok Disodet untuk Mengairi Persawahan di Tandjong Barat; Bendungan Situ Pitara Ditutup Tahun 1930

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Jumlah situ (danau) di Kota Depok sekarang hanya tinggal 23 buah. Jumlah ini sudah sangat berkurang jumlahnya dibanding pada masa lampau. Dari jumlah situ yang tersisa sekarang, hampir semuanya telah berkurang luasnya. Situ yang lebih awal berkurang luasnya adalah Situ Pitara atau juga kini disebut Situ Pancoran Mas. Lahan yang menjadi lokasi Komplek Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias di Kota Depok yang sekarang adalah eks Situ Pitara. Bagaimana jumlah situ berkurang jumlahnya dan bagaimana pula luasnya berkurang, mari kita telusuri.

Peta Tjipajoeng, 1901
Situ, setu, danau, lake atau meer secara teknis karena gejala alam atau intervensi manusia. Umumnya situ terbentuk karena gejala alam. Akan tetapi ada juga situ akibat kombinasi gejala alam dan intervensi manusia. Di Kota Depok, Situ Rawa Besar terbentuk karena adanya intervensi manusia di masa lampau dalam pembutan bata untuk di pasok ke Batavia. Pabrik batu bata ini disebut lio. Nama kampong Lio diduga berasal dari situasi ini.

Situ Pitara

Situ Pitara atau Situ Pancoran Mas di Kota Depok yang sekarang kini hanya tinggal setengah hektar. Padahal di masa lampau situ yang tidak jauh dari Stasion Depok ini luasnya sekitar tujuh hektar (lihat Rapport de Kommisie Eene Zehaven voor Batavia, 1872). Bagaimana luas Situ Pitara jauh berkurang karena adanya intervensi manusia. Berkurangnya luas situ ini bermula karena berkurangnya debit air dan perluasan sawah di Tandjong Barat sebagai pemicunya. Beritanya ditemukan pada tahun 1930 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-07-1930).  

Sejarah Kota Depok (1): Menyusun Kembali Sejarah Depok; Cornelis Chastelein Pionir Gemeente (Kota) Depok

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Untuk memahami sejarah suatu kota yang sebenarnya, perlu memeriksa (menguji) kembali data dan informasi masa lalu. Berdasarkan data dan informasi yang lebih baik (lebih lengkap dan lebih akurat), perjalanan suatu area menjadi kota, sejarah suatu kota baru dapat disusun. Demikian juga dengan Sejarah Kota Depok. Penelusuran yang cermat dan komprehensif akan sendirinya memberikan gambaran seutuhnya bagaimana kota bermula (origin), bagaimana kota berkembang dan bagaimana kota lestari hingga ini hari.

Stasion Depok, 1925
Sesungguhnya, sejak awal saya ingin menulis Sejarah Kota Depok. Akan tetapi saya tunda dulu. Saya memikirkan ulang, ada baiknya saya mulai dari Sejarah Batavia (Jakarta), Sejarah Preanger (Bandung) dan Sejarah Buitenzorg (Bogor). Hal ini tidak saja karena ketiga kota ini adalah kota besar tetapi juga karena (kota) Depok berada di garis continuum tiga kota tersebut. Paralel dengan itu saya juga (telah) menulis Sejarah Padang Sidempuan, Sejarah Tapanuli, Sejarah Kota Medan dan Sejarah Kota Padang. Pada hari ini, sebelum saya melanjutkan langkah berikutnya menulis Sejarah Semarang, Sejarah Soerabaja, Sejarah Macassar dan Sejarah Koeala Loempoer, saya harus menyelesaikan Sejarah Kota Depok terlebih dahulu. Semua itu pada nantinya dapat dirangkaikan menjadi satu kesatuan pemahaman dalam pelukisan gambaran awal Nusantara (baca: Sejarah Indonesia).

Serial Sejarah Kota Depok ini (seperti sejarah kota-kota lain) akan dibuat berdasarkan tematik, setiap artikel akan mendeskripsikan topik-topik tertentu (relevan) yang akan menyajikan asal mula (origin) hingga puncak-puncak perkembangan kota. Topik-topik tersebut (Depok) akan dikaitkan dengan wilayah dekat (regional) dan wilayah yang lebih luas (nasional). Dengan mengacu pada kurun waktu sejaman (data historis) dan spasial diharapkan penulisan Sejarah Depok yang sebenarnya dapat tersusun dengan baik. Mari kita mulai dari artikel pertama: Cornelis Chastelein: Pionir Kota Depok.