Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kota Padang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kota Padang. Tampilkan semua postingan

Sejarah Kota Padang (48): Semen Padang FC; Klub Profesional Legenda, The Last Mohichan Liga Galatama

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Klub Profesional Semen Padang FC adalah klub profesional legenda di Indonesia. Semen Padang FC, satu-satunya klub profesional yang tetap konsisten sejak era Galatama. Namun sangat disayangkan, klub kebanggaan Kota Padang ini harus terdegradasi dari liga utama (Liga 1) ke liga kedua (Liga 2). Tidak hanya warga Kota Padang yang menangisinya, saya sendiri sangat kehilangan. Saya sendiri terus mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia, sejak era perserikatan  dan tentu saja sejak awal kelahiran Liga (semi) Profesional Galatama.

Logo Semen Padang FC (Since 1980)
Sejak liga sepakbola utama (Galatama) digabung dengan kompetisi perserikatan pada tahun 1993 setiap ada kesempatan saya akan berusaha menontonnya di stadion. Selama kehadirannya di liga utama Indonesia, pertandingan Semen Padang FC saya sudah menontonnya di 11 kota yang berbeda. Tentu saja termasuk di stadion Haji Agus Salim di Kota Padang.

Semen Padang FC adalah legenda klub sepakbola profesional di Indonesia. Semen Padang FC muncul sebagai klub profesional di Kota Padang  tidak terlepas dengan eksistensi saudara tuanya Tim perserikatan PSP Padang yang sama-sama memiliki homebase di Kota Padang. Semen Padang FC selama lebih dari tiga dekade ini telah memainkan peran sebagai simbol sepakbola Kota Padang yang telah sejak lama dirintis oleh PSP Padang.

Sejarah Kota Padang (47): Kongres Pemuda 1928, Baru Tahun 1953 Pemuda Bersumpah; Tokoh Utama Kongres Pemuda dan Hari Sumpah Pemuda

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Beberapa menit lagi masuk tanggal 28 Oktober 2017. Tanggal ini telah ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda. Namun satu hal, dikatakan pada tanggal 28 Oktober 2017 ini sebagai Hari Sumpah Pemuda ke-89. Hal ini karena mengacu pada Kongres Pemuda yang dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1928. Padahal pada tanggal itu, pemuda tidak melakukan sumpah, melainkan melakukan kongres yang menghasilkan keputusan. Hasil keputusan kongres tersebut adalah Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa.

Putusan Kongres, Kongres Pemuda 1928
Lantas kapan pemuda bersumpah? Para pemuda bersumpah baru terjadi pada tanggal 26 Oktober 1953. Isi sumpah pemuda tersebut adalah (kebetulan) isi hasil keputusan Kongres Pemuda 1928: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Lantas mengapa ada perbedaan esensial antara keputusan hasil Kongres Pemuda 1928 dengan pemuda bersumpah pada tahun 1953? Itulah pertanyaannya? Mari kita telusuri.

Hari Sumpah Pemuda 1953

Hari sumpah pemuda terjadi pada tanggal 26 Oktober 1953, hari yang mana para pemuda bersumpah (lihat De nieuwsgier, 21-10-1953). Pada malam tanggal tersebut para pemuda di Djakarta berkumpul dan melakukan sumpah pemuda. Inilah tanggal yang dapat dikatakan sebagai Hari Sumpah Pemuda). Materi sumpah yang dibacakan dalam bersumpah tersebut pada tanggal 28 Oktober 1953 itu adalah persis apa yang menjadi hasil keputusan Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Sejarah Kota Padang (46): Pantun Tertua Asli Indonesia, 1813? Bahasa dan Sastra Melayu di Padang, Pantun-Pantun Heroik

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Bulan Bahasa dan Sastra di Indonesia adalah pada bulan Oktober. Namun sejak kapan penggunaan bahasa dan sastra di Indonesia tentulah sangat menarik untuk ditelusuri. Mari kita mulai dari sebuah pantun/puisi/syair/gurindam asli Indonesia yang tercatat. Pantun/puisi asli Indonesia muncul pada tahun 1813. Pantun/Puisi tersebut dimuat dalam surat kabar Java government gazette edisi 30-01-1813. Lantas apakah pantun tersebut sebagai pantun tercatat yang tertua di Indonesia? Bahkan pantun tersebut dibuat jauh sebelum terjadinya Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro (1825-1830).

Java government gazette, 30-01-1813
Pantun yang tercatat ini menceritakan banyak hal. Pertama, pantun ditulis dalam bahasa Melayu dengan aksara Latin (ketika orang Melayu masih menulis bahasa Melayu dengan aksara Jawi). Kedua, pantun dimuat dalam surat kabar (publish), surat kabar berbahasa Inggris di era pendudukan Inggris (1811-1816). Ketiga, pantun ini sudah berumur tua, 204 tahun yang lalu yang ditulis oleh seorang pribumi, bukan di Sumatra tetapi di Jawa dengan (tata)bahasa yang dapat kita pahami pada masa ini. Keempat, pantun ini ditulis mendahului pantun-pantun Abdullah dan Raja Ali Haji. Kelima, pantun ini bernada nasehat (sesuai jaman) ditulis oleh seorang perempuan bernama Sirrah Salamut beralamat di Salatiga.

Pemahaman kita selama ini tentang pantun Melayu ditulis dalam aksara Jawi (Arab-Melayu) hanya ditemukan di Kepulauan Riau, keliru, ternyata pantun Melayu yang ditulis dalam aksara Latin justru ditemukan di Jawa. Publikasi pantun di Jawa ini (1813) bahkan jauh sebelum Elisa Netscher mengunjungi Riaouw untuk meneliti bahasa dan sastra Melayu tahun 1849 (dua tahun setelah munculnya Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji). Marsden dalam bukunya, The History of Sumatra (edisi terakhir 1812) meski telah menyatakan adanya pantun di Sumatra tetapi tidak sebuah pantun pun yang ditanslasinya ke dalam aksara Latin.

Sejarah Kota Padang (45): Ibukota Pertama Sumatra’s Westkust Berada di Tapanoeli, 1821; Residentie Tapanoeli Dipisahkan dari Province Sumatras’s Westkust, 1905

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Pada tahun 1819 Sumatra’s Westkust diklaim kembali oleh Belanda sebagai wilayahnya. Ini sebagai kelanjutan proses kembalinya Pemerintah Hindia Belanda berkuasa di Hindia Belanda setelah pendudukan Inggris (1811-1816). Pada tahun 1816 komisaris Belanda, Mr. Cornelis Theodorus Elout, Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen en Arnold Adriaan Buyskes mengambilalih kembali kekuasaan Inggris. Untuk wilayah pantai barat Sumatra, baru pada tahun 1819 Belanda mengakuisisi kembali di bawah kepemimpinan Kommissaris J. du Puy.  Pada bulan Mei 1819 secara defacto J. du Puy berfungsi sebagai Residen Sumatra's Westkust. Oleh karena eskalasi politik yang masih memanas di pantai barat Sumatra (Belanda vs Inggris) maka pembentukan pemerintahan tidak dapat langsung dilakukan,. Hal ini juga karena satu wilayah yang masih dikuasai oleh Inggris saat itu Benkoelen (Bengkulu) di (pulau) Sumatra masih dapat dianggap sebagai ancaman. Baru pada tahun 1821 secara dejure di Residentie Sumatra’s Westkust pemerintahan dapat dibentuk yang mana struktur pemerintahan yang dibentuk dikepalai oleh setingkat Asisten Residen.

Struktur Pemerintahan di Res. Sumatra's Westkust, 1921
Pada era pendudukan Inggris, wilayah di luar Jawa yang telah memiliki bentuk pemerintahan adalah di Palembang en Banca, Macassar dan Banjermasing. Sebagaimana diketahui, VOC bangkrut (1799) dan lalu dilikuidasi oleh Kerajaan Belanda dan membentuk pemerintahan (1900), akan tetapi tidak lama kemudian terjadi serangan Inggris. Pendudukan Inggris berlangsung selama lima tahun (1811-1816). Untuk sekadar catatan Perancis pernah bekuasa dengan menduduki Batavia dan beberapa tempat yang lainnya (1795-1799) sebelum Belanda mengambil alih kembali.

Asisten Residen yang diangkat di Residentie Sumatra’s Westkust adalah WJ Waterloo. Namun kedudukan (ibukota) Residentie Sumatra’s Westkust bukan ditetapkan di Padang melainkan ditempatkan di Tapanoeli. Ini mengindikasikan bahwa Padang yang awalnya dinominasikan sebagai ibukota Residentie Sumatra’s Westkust harus dilupakan dan lalu dipindahkan ke tempat yang sesuai di 'kota' Tapanoeli. Dalam Pemerintahan Hindia Belanda yang pertama ini di Sumatra’s Westkust, Asisten Residen didukung oleh tiga komisaris dan tiga pejabat keuangan. Selain itu Asisten Residen dibantu oleh sejumlah pejabat sipil dan komandan militer di sejumlah tempat. Di Padang ditempatkan dua pejabat sipil yakni kepala pelabuhan (havenmeester) dan kepala gudang (pakhuismeester). Pejabat sipil lainnya ditempatkan di Natal yang berfungsi sebagai kepala pelabuhan yang juga merangkap kepala gudang.

Sejarah Kota Padang (44): Radja Boerhanoedin dan Surat dari Padang; Komandan Tanah Abang, Pahlawan di Deli dan Atjeh

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Radja Boerhanoedin bukanlah orang biasa. Radja Boerhanoedin adalah orang yang luar biasa dan karena itu Pemerintah Nederlandsch Indie (Hindia Belanda) memberinya bintang. Jabatan prestisius yang pernah diduduki oleh Radja Boerhanoedin adalah Komandan di Onderdistrict Tanahabang, Batavia (Distrik dikepalai oleh Demang dan Onderdistrict oleh Komandan; pada tahun 1910 terminologi Demang diubah menjadi Wedana dan Komandan menjadi Asisten Wedana). Radja Boerhanoedin pada masa awal karir adalah orang yang piawai di medan perang, dan pada masa akhir karirnya memiliki anak dan cucu yang tidak kalah hebatnya. Radja Boerhanoedin meninggal dunia di Batavia dan dimakamkan di tempat pemakaman dimana kelak anaknya (Tengku Radja Sabaroedin) dan juga cucunya (Tengku Radja Boerhanoedin) dimakamkan di Petamboeran.

Java-bode: voor Nederlandsch-Indie, 14-07-1866
Profil Radja Boerhanoedin sudah ditulis di Wikipedia. Namun yang tertulis dalam situs tersebut sedikit agak berbeda dengan dokumen sejaman di masa lampau. Disebutkan Radja Boerhanoeddin lahir di Padang, akan tetapi tidak ada dokumen yang dikutip. Lantas dimana Radja Boerhanoedin lahir? Banyak dokumen yang mengindikasikan bahwa Radja Boerhanoedin dan keturunannya (anak dan cucunya) dikaitkan dengan bangsawan di Sumatra’s Ooskust (Pantai Timur Sumatra). Bagaimana itu bisa terjadi?.

Siapa sesungguhnya Radja Boerhanoedin? Itu pertanyaannya. Mari kita telusuri. Untuk sekadar navigasi bagi pembaca, sejumlah data dan informasi dalam menulis artikel ini sudah pernah dikutip di dalam berbagai artikel saya dalam blog ini, selain di laman Sejarah Kota Padang, juga di laman-laman lainnya, yakni: Sejarah Kota Medan, Sejarah Jakarta, Sejarah Bogor, Sejarah Bandung, Sejarah Depok, Sejarah Tapanoeli dan Sejarah Padang Sidempuan. Oleh karerna itu tidak semua sumber disebut lagi. Mari kita mulai dengan sub judul: Radja Boerhanoedin di Siak Indrapoera.  

Sejarah Kota Padang (43): Promosi Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Indonesia Bermula di Pantai Barat Sumatra; Peran Awal Guru-Guru Asal Padang Sidempuan

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia tidak dibangun dalam tempo singkat. Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia mengikuti jalan evolusi. Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia diproklamasikan pada tanggal 28 Oktober 1928 yang dinyatakan sebagai hasil keputusan Kongres Pemuda. Meski Bahasa Indonesia sudah dinyatakan sebagai bahasa persatuan (nasional) orang Indonesia, tetapi dalam kenyataannnya di awal proklamasi Bahasa Indonesia belum diterima sepenuhnya dalam kehidupan nyata. Kini, Bahasa Indonesia tidak terbantahkan lagi. Bahasa Indonesia tidak hanya sebagai bahasa nasional Republik Indonesia tetapi juga telah menjadi bahasa internasional.

Sekolah guru (Kweekschool) Padang Sidempoean (sejak 1879)
Pada bulan Oktober setiap tahun dijadikan sebagai bulan bahasa (Indonesia) secara nasional. Penetapan bulan Oktober sebagai bulan bahasa di Indonesia mengacu pada Proklamasi Bahasa Indonesia tanggal 28 Oktober 1928.

Lantas bagaimana awal mula pembentukan Bahasa Melayu sehingga pada akhirnya terbentuk Bahasa Indonesia. Sudah barang tentu, dinamika penggunaan Bahasa Melayu di Kota Padang memainkan peran penting dalam mewujudkan promosi Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia. Namun satu hal, ternyata orang Mandailing dan Angkola (Padang Sidempoean) tidak sedikit perannya dalam mempromosikan Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional dan Bahasa Melayu (daerah) menjadi Bahasa Indonesia (Nasional). Bagaimana itu terjadi? Mari kita telusuri. Kronologis ringkasnya sebagai berikut:

Sejarah Kota Padang (42): Nama-Nama Jalan Tempo Doeloe di Kota Padang; Jalan Tertua Nipah laan, Djati laan dan Hospital weg (1879)

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Kota Padang sudah lama terbentuk. Di Kota Padang terdapat sejumlah nama kampong yang sudah terhubung oleh jalan kota. Berdasarkan peta Kota Padang 1879 hanya ada tiga jalan yang secara teknis sudah memiliki nama, yakni: Nipah laan (Jalan Nipah), Djati laan (Jalan Djati) dan Hospital weg (Jalan Hospital/Rumah Sakit) . Ruas-ruas jalan lainnya belum diberi nama atau belum memiliki nama. Meski demikian, di ruas-ruas jalan tersebut teridentifikasi nama-nama kampung/area.

Peta Kota Padang, 1879
Nama-nama kampung adalah Kampong Berok, Kampong Sablah, Kampong Djawa dan Kampong Oedjoeng Pandang. Nama-nama area adalah Zeestrand, Goeroeng, Poelo Karam, Pasar Ambatjang, Pondok, Pasar Gadang, Alang Lawas, Hiligoo,  Pingir Kollang, Olo, Belantong, Kandang, Dammar, Poeroes dan Rimbo Kloeang.

Pada peta Kota Padang tahun 1915 jumlah nama jalan semakin banyak. Tiga nama jalan yang pertama, Nipah laan, Djati laan dan Hospital weg masih eksis. Nama-nama baru jalan adalah Chinese Kerk straat, Belakang Pondok weg, Oude Cantine weg, Oedjoeng Bandar straat, Prins straat, Nieuwe weg, Zee straat, Kerk straat, Strand weg, Wilhelmina straat, School straat, Societeits weg, Djawa Dalam straat, Slinger laan, Paper laan, Willem III straat, Depot weg, Van Bosse straat, Benteng weg dan Justitie laan.

Sejarah Kota Padang (41): Egon Hakim Menyelamatkan Soekarno dari Pihak Belanda di Padang (1942); Parada Harahap dan Mohammad Hatta ke Jepang 1933

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Pada permulaan pendudukan militer Jepang di Indonesia, Soekarno berada di Bengkulu sebagai tahanan politik yang diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Soekarno berada di Bengkulu sejak 1938 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-03-1941), tepatnya bulan Mei 1938 (lihat De Indische courant, 31-03-1941). Pada bulan Februari 1942, setelah Palembang diduduki militer Jepang, Pemerintah Hindia Belanda di pantai barat Sumatra (Sumatra’s Westkust) seperti di Sibolga dan Bengkulu bergerak ke Kota Padang. Soekarno sebagai tahanan politik terpenting, Soekarno dan keluarga turut dievakuasi dan ikut ke Kota Padang.

Rumah kediaman Soekarno (diasingkan) di Bengkulu (1937)
Tanggal 8 Desember, Riau dibom oleh militer Jepang (De Indische Courant, 08-01-1942). Berita ini dikirim oleh putri Radjamin dari Tandjong Pinang yang diterima ayahnya di Soerabaja. Dr. Radjamin Nasution adalah anggota senior (wethouder) dewan kota (gemeenteraad) Soerabaja. Lalu, militer Jepang dengan cepat menduduki sejumlah kota yang dimulai Tarakan (11 Januari 1942) dan kemudian beberapa kota di Sumatra seperti Palembang (16 Februari 1942). Tanggal 3 Februari 1942 militer Jepang benar-benar melancarkan serangan di Kota Surabaya. Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang tepatnya pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati-Subang setelah sebelumnya militer Jepang melakukan pendaratan di timur Batavia. Sumatra Timur kemudian diduduki lalu Sumatra Barat yang berkedudukan di Fort de Kock (17 Maret 1942). Pemerintahan militer Jepang di Sumatra yang sebelumnya berpusat di Singapura kemudian dipindahkan tanggal 1 Mei 1943 ke Fort de Kock.

Di Kota Padang dalam situasi tidak menentu (akibat serangan militer Jepang), Pemerintah Hindia Belanda mulai secara bertahap dievakuasi dengan kapal ke Australia. Situasi yang semakin membuat panik, orang-orang Belanda tidak peduli lagi dengan siapa kecuali masing-masing ingin menyelamatkan dirinya. Soekarno di Kota Padang dengan sendirinya terlepas dari ikatan politik dengan Pemerintah Hindia Belanda (dibiarkan mengurus dirinya dan keluarganya sendiri). Saat situasi chaos inilah, Soekarno dan keluarga tinggal bersama di rumah Egon Hakim. Kelak orang Belanda sangat=sangat menyesalinya karena di Bengkoeloe ada kans untuk membunuh Soekarno (De Telegraaf, 21-03-1966). Dan, sebagaimana akan dideskripsikan secara panjang lebar di bawah ini, lolosnya Soekarno di Padang menjadi faktor terpenting berubahnya jalan sejarah Belanda di Indonesia (setelah 350 tahun).

Sejarah Kota Padang (40): Dr. Hazairin, Menteri Dalam Negeri; Lahir di Fort de Kock, Ahli Hukum Adat di Padang Sidempoean

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Prof. Mr. Dr. Hazairin adalah orang hebat. Ahli hukum adat dan juga ahli hukum Islam. Hazairin memulai pendidikan hukum di Rechthoogeschool Batavia dan meraih gelar doktor. Kepintaran Hazairin menarik pertahatian Prof. Ter Har dan mengangkatnya menjadi sebagai asisten dosen dan asisten peneliti. Lalu kemudian pada tahun 1938 pemerintah mengangkat Dr. Hazairin untuk bertugas sebagai Ketua Pengadilan Landraad di Padang Sidempoean.

Dr. Hazairin (foto saat promosi doktor, 1936)
Pada masa pendudukan Jepang, Pemerintah Militer Jepang mengangkat Abdul Hakim, Kepala Kantor Ekonomi Indonesia Timur di Makassar menjadi Ketua Dewan Adat di Residen Tapanoeli yang berkedudukan di Tarutung. Untuk Ketua Dewan Adat di Tapanuli Selatan yang berkedudukan di Padang Sidempoean diangkat Dr. Hazairin (Ketua Pengadilan di Landraad Padang Sidempoean). Dua tokoh inilah, orang yang paling berpengaruh di Tapanoeli pada era pendudukan Jepang (Abdul Hakim, kelahiran Sarolangoen, Djambi 1907 dan Hazairin, kelahiran Padang, 1906). Pada bulan Oktober 1945, Mr. Amir Sjarifoeddin menunjuk Dr. Hazairin sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia di Padang Sidempuan dan Mohammad Nawi Harahap di Sibolga. Lalu kemudian Amir Sharifoeddin mengangkat FL. Tobing sebagai Residen dan Abdul Hakim sebagai Wakil Residen Tapanoeli. Dr. Hazairin diangkat menjadi Bupati Tapanuli Tengah menggantikan Zainal Abidin gelar Soetan Koemala Pontas dan di Tapanuli Selatan diangkat Muda Siregar. Oleh karena kekosongan pemerintahan di Bengkulu lalu Dr. Hazairin diangkat menjadi Residen Bengkulu (posisinya di Sibolga digantikan AM Djalaloeddin). Ketika Hazairin dipromosikan menjadi Residen Bengkulu, pada kurun waktu yang bersamaan Mr. Abdul Abbas (Siregar) selesai bertugas sebagai Residen Lampung (yang pertama). Pada masa agresi militer Belanda Menteri Pertahanan RI mengangkat Dr. Gindo Siregar sebagai Gubernur Militer Sumatra (bagian) Utara dan wakilnya Abdul Hakim Harahap dan Hazairin (Harahap) diangkat sebagai Wakil Gubernur Militer Sumatra (bagian) Selatan (yang mana Gubernur Militer adalah AK Gani). Untuk Residen Lampung sendiri diangkat Gele Haroen (Nasution). Pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda (1950) Abdul Hakim dan Hazairin sudah berada di Djakarta.

Pertanyaannya: Bagaimana Dr. Hazairin menjadi tokoh dua disiplin ilmu yang berbeda, ahli hukum adat dan juga ahli hukum Islam? Fakta bahwa Dr. Hazairin cukup lama di Tapanoeli dari tahun 1938 hingga tahun 1946 (era Belanda, era pendudukan Jepang dan era kemerdekaan). Lantas mengapa Dr. Hazirin terjun ke dunia politik dengan ikut mendirikan Partai Persatuan Indonesia Raya (PIR) sementara Dr, Hazairirn sendiri masih tetap sebagai akademisi? Last but not least: Siapa sesungguhnya Prof. Mr. Dr. Hazairin? Kita memerlukan jawaban. Mari kita telusuri.

Sejarah Kota Padang (39): Asal Usul Nama Kota Padang, Mangacu pada Nama Gunung Padang; Kota Bermula Muaro Sungai Arau

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Padang adalah nama kota. Suatu kota yang sudah dikenal sejak lama. Nama Padang, sebagai suatu nama tempat sudah diberitakan dalam surat kabar tahun 1744 (lihat Amsterdamse courant, 11-02-1744). Sejak itu, nama Padang kerap muncul dan nama itu tidak pernah berubah hingga kini.

Peta kuno, 1619 (buatan Portugis)
Ada nama kota yang dapat ditelusuri dan ada juga nama kota yang sulit/tidak diketahui. Beberapa kota mengadopsi nama kampong lama, beberapa kota namanya diperkenalkan oleh orang Eropa/Belanda.

Namun yang tetap menjadi pertanyaan kapan nama Padang diadopsi sebagai nama tempat utama (hoofdplaats) yang menjadi Kota Padang? Lantas, apa arti nama Padang, bagaimana asal-usulnya. Meski pertanyaan ini tidak terlalu penting, tetapi menelusuri asal-usul nama Kota Padang tentu menarik. Mari kita lacak! 

Sejarah Kota Padang (38): Riwayat Banjir di Kota Padang, Dari Tsunami hingga Banjir Kanal (Banda Bakali)

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Kota Padang, selain rawan gempa, sesungguhnya rawan banjir. Dampak gempa terbesar yang dialami Kota Padang akibat gempa adalah munculnya tsunami pada tahun 1797. Sedangkan banjir sendiri di Kota Padang dikhawatirkan dapat muncul kapan saja. Curah hujan yang tinggi dengan Kota Padang yang relatif datar, kapan saja bisa muncul banjir Bandang dari hulu yang memiliki kemeringan yang tajam. Kota Padang memiliki riwayat banjir yang cukup panjang.


Peta Kota Padang (kanal), 1929
Kota Padang pada tahun 2012 dan 2016 terjadi banjir besar: genangan air tinggi dan cakupan wilayah banjir sangat luas. Peristiwa itu begitu dekat, tapi sesungguhnya Kota Padang sendiri memiliki riwayat banjir yang cukup panjang. Kanalisasi (pembuatan kanal di Kota Padang) di era Belanda adalah upaya menangkal banjir. Namun mengapa banjir terus menghantui Kota Padang hingga kini?

Untuk memahami banjir di Kota Padang, mari kita telusuri riwayat banjir yang pernah terjadi di Kota Padang. Catatan banjir di Kota Padang sesungguhnya cukup tersedia, namun sejauh ini belum pernah dikompilasi. Upaya pengumpulan data banjir ini diperlukan untuk memahami pola-pola banjir di Kota Padang dan bagaimana solusi-solusi yang pernah diterapkan. Pola-pola banjir dan solusi yang pernah ada di masa lampau dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam perencanaan penanggulangan bahaya banjir di Kota Padang. Mari kita lacak!

Sejarah Kota Padang (37): Daftar Panjang Gempa di Kota Padang; Tercatat Sejak 1797 (Tsunami) dan Gempa Besar 1926 (Bencana)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Kota Padang sudah sedari dulu kerap gempa. Dari tahun ke tahun jaraknya sangat pendek. Gempa pertama yang tercatat terjadi pada tahun 1822. Sejak itu tahun-tahun kejadian gempa di Kota Padang terbilang tercatat dengan baik. Daftar panjang gempa bumi di Kota Padang berikut ini untuk melengkapi catatan gempa di Kota Padang yang selama ini masih minim.

Reruntuhan gempa 1926.
Riwayat pencatatan gempa di Kota Padang terlaporkan secara baik terkait dengan kehadiran Pemerintah Hindia Belanda yang dimulai sejak tahun 1819. Pada era sebelumnya (VOC) dan era Inggris kurang terlaporkan. Gempa dalam bahasa Belanda adalah aardbeving atau aardschok.

Peristiwa gempa terbesar sejauh ini di Kota Padang adalah gempa yang terjadi pada tahun 1797 dan 2009. Dengan membandingkan kota-kota lain, Kota Padang terbilang cukup sering peristiwa gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi tahun 28 Juni 1926 juga terbilang sangat luas dan memakan banyak korban dan kerugian materi yang sangat besar. Kejadian gempa bumi 1926 ini dianggap sebagai bencana.

Sejarah Kota Padang (36): Upaya Transfer Kualitas Pendidikan di Padang ke Fort de Kock; Willem Iskander, Pionir Pendidikan Modern Indonesia

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Introduksi pendidikan aksara latin di Sumatra dimulai di Kota Padang. Ini sehubungan dengan pengadaan guru di Kota Padang tahun 1822, dua tahun setelah Pemerintah Hindia Belanda di mulai (lihat Almanak 1822). Namun introduksi ini tidak berkembang karena situasi dan kondisi diliputi suasana perang. Pengiriman guru terhenti.

Pionir Pendidikan Indonesia
Setelah usai perang (1837), program pendidikan dimulai lagi. Asisten Residen Agam. Steinmez mulai mendirikan sekolah tahun 1842 (lihat TJ Willer, 1846). Di Mandailing dan Angkola, yang baru memulai pemerintahan sipil pada tahun 1840, TJ Willer (Asisten Residen) menganjurkan perlunya diselenggarakan pendidikan bagi penduduk.

Kweekschool Fort de Kock Didirikan

Tidak diketahui kapan pendidikan dimulai di Afdeeling Mandailing dan Angkola, tetapi pada tahun 1854 sudah ada dua siswa asal Afdeeling Mandailing dan Angkola yang tiba di Batavia untuk mengikuti studi kedokteran (Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855). Dua siswa ini merupakan dua siswa pertama yang diterima di sekolah kedokteran tersebut yang berasal dari luar Djawa. Sekolah kedokteran di Batavia ini kemudian dikenal sebagai Docter Djawa School (cikal bakal STOVIA).

Sejarah Kota Padang (35): Mohamad Sjafei, Tokoh Pendidikan di Sumatera Barat; Soetan Goenoeng Moelia, Guru Bergelar Doktor

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Mohamad Sjafei dan Soetan Goenoeng Moelia dua tokoh pendidikan Indonesia satu generasi: lahir tahun 1896 dan meninggal 1966. Mohamad Sjafei lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, Soetan Goenoeng Moelia lahir di Padang Sidempuan, Tapanuli. Masa hidup keduanya sama-sama 70 tahun. Mereka berdua sama-sama aktif di bidang pendidikan, sama-sama pernah studi di Belanda dan sama-sama bergelar Doktor. Keduanya juga sama-sama mantan Menteri Pendidikan.

Soetan Goenoeng Moelia dan Mohamad Sjafei (foto Wikipedia)
Soetan Goenoeng Moelia adalah Menteri Pendidikan yang kedua menggantikan Menteri Pendidikan yang pertama, Ki Hadjar Dewantara. Soetan Goenoeng Moelia lalu digantikan Mohamad Sjafei sebagai Menteri Pendidikan yang ketiga.

Mohamad Sjafei adalah pendiri INS (Indonesisch-Nederlandse School) Kajoetanam (1926). Mohamad Sjafei mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari IKIP Padang (1968). Soetan Goenoeng Moelia adalah pendiri UKI (Universitas Kristen Indonesia) Jakarta (1954). Soetan Goenoeng Moelia meraih gelar Doktor (Ph.D) dari Universiteit Leiden tahun 1933.

Sejarah Kota Padang (34): Aboe Bakar Djaar, Wali Kota Padang Pertama; Ahli Hukum Pribumi Pertama di Kota Padang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Aboe Bakar Djaar, kisahnya kurang diketahui karena tidak ada yang pernah menulisnya. Padahal Aboe Bakar Djaar adalah Wali Kota Padang Pertama. Aboe Bakar Djaar menjadi wali kota di Kota Padang segera setelah Indonesia Merdeka. Padahal orang pertama segera setelah merdeka adalah orang Indonesia yang paling kapabel dan sesuai saat itu untuk memimpin Kota Padang. Aboe Bakar Djaar adalah bagian dari sejumlah orang-orang Indonesia terbaik yang memulai negara Indonesia, yakni negara Indonesia yang sekarang.

Aboe Bakar Djaar di Kota Padang ternyata tidak sendiri. Masih banyak nama-nama orang Indonesia pertama di kota lainnya yang memulai negara tidak terinformasikan dengan baik (lengkap dan akurat), seperti Mr. Loeat Siregar (wali kota Medan pertama), Dr. Radjamin Nasoetion (wali kota Surabaya pertama), Mr. Abdoel Abbas Siregar (residen Lampung pertama) dan lainnya.

Pendidikan dan Awal Karir

Bataviaasch nieuwsblad, 15-05-1925
Aboe Bakar Djaar memulai pendidikan tinggi pada sekolah hukum di Rechtschool di Batavia. Pada tahun 1925 sejumlah mahasiswa ditempatkan di berbagai kota untuk magang sebagai panitera di kantor pengadilan. Mereka itu antara lain, Aboe Bakar Djaar di Landraad Kota Padang dan Soetan Mangasa Pintor di Landraad Kota Medan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 15-05-1925). Penempatan ini juga menjadi proyeksi untuk bekerja di kantor-kantor pengadilan tersebut setelah mereka lulus kuliah. Aboe Bakar Djaar dinyatakan lulus di Rechtschool Batavia pada bulan November tahun 1926 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-11-1926).

Sejarah Kota Padang (33): Edward Douwes Dekker di Kota Padang; Controleur Natal, Dibuang di Tengah Bangsanya Sendiri

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Edward Douwes Dekker atau Multatuli pada tahun 1843 dipecat dari jabatannya sebagai Controleur di Afdeeling Natal lalu ditelantarkan (dibuang) di Kota Padang. Edward Douwes Dekker yang dalam status dibuang tidak diizinkan bertemu dengan istri yang tinggal di Kota Batavia. Selama hampir setahun, Edward Douwes Dekker terlunta-lunta di Kota Padang, di tengah-tengah bangsanya sendiri. Sangat tragis dan itu terjadi di era kolonial Belanda.
 
Het vrije volk, 28-03-1956
Afdeeling Natal, Residentie Air Bangies, Province Sumatra’s Westkust. Pada tahun 1846 Residentie Air Bangies dihapus, lalu afdeeling Natal dimasukkan ke Residentie Tapanoeli menyusul afdeeling Mandailing en Angkola yang dimasukkan ke Residentie Tapanoeli tahun sebelumnya.

Apa pasal? Edward Douwes Dekker respek terhadap perlawanan yang dilakukan oleh sebagian penduduk Mandailing en Angkola terhadap kebijakan koffiestelsel. Soetan Mangkoetoer di Mandailing dan Ranggar Laoet di Angkola memimpin perlawanan terhadap Belanda. Sebagian penduduk melarikan diri ke Sumatra’s Oostkust dan Semenandjong Malaya. Dalam situasi kondisi serupa inilah Edward Douwes Dekker melihat penderitaan rakyat dan simpati terhadap pemimpin pribumi yang memimpin perlawanan.

Sejarah Kota Padang (32): Soepoetro Brotodihardjo, Gubernur Sumatera Barat 1965-1967; Wali Kota Tegal

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Soepoetro Brotodihardjo pernah menjabat Gubernur Sumatera Barat yang berkedudukan di Kota Padang selama tiga tahun dari 1965 hingga 1967. Soepoetro Brotodihardjo menggantikan Gubernur Sumatera Barat pertama Kaharudin Datuk Rangkayo Basa (1958-1965), berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 191 Tahun 1965 yang ditetapkan di Djakarta 23 Djuni 1965 oleh Soekarno. Dalam keputusan ini, Soepoetro Brotodihardjo mendjabat djuga sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Gotong Rojong tingkat I Sumatera Barat.

Gubernur Sumatera Barat dalam Wikipedia
Pasca kemerdekaaan RI Sumatra terdiri dari tiga provinsi: Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1956 Provinsi Sumatera Utara dimekarkan dengan membentuk Provinsi Aceh. Pasca PRRI, Provinsi Sumatera Tengah dibubarkan dan kemudian dibentuk tiga provinsi, yang terdiri dari Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau dan Provinsi Djambi. Gubernur pertama Provinsi Sumatera Barat diangkat Kaharudin Datuk Rangkayo Basa. Sementara gubernur di Provinsi Riau diangkat SM Amin Nasoetion (1958-1960) dan dilanjutkan Kaharoeddin Nasoetion (1960-1966).

Soepoetro Brotodihardjo dan Kota Tegal

Soepoetro Brotodihardjo adalah Pegawai Tinggi Ketatapradjaan tingkat I diperbantukan pada Gubernur Kepala Daerah Djawa Tengah di Pekalongan. Soepoetro Brotodihardjo adalah seorang pejabat berprestasi yang kali pertama menjabat sebagai Wali Kota Tegal tahun 1948.

Sejarah Kota Padang (31): Parada Harahap, From Zero to Hero; Radja Delik Pers yang Menjadi The King of Java Press

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Parada Harahap tidak asing dengan Kota Padang. Parada Harahap kerap berurusan ke kota terbesar ketiga di Sumatra ini, Urusan pertama soal delik pers dan urusan kedua soal Sumatranen Bond. Itu dulu, ketika baru memulai merintis kegiatan di bidang pers dan ketika baru memulai aktif di bidang organisasi kebangkitan bangsa. Kini, Parada Harahap telah menjadi The King of Java Press.

Het nieuws van den dag voor NI, 02-09-1919
Dulu, jauh sebelumnya, di Kota Padang terkenal seorang yang kini dijuluki sebagai Radja Persoeratkabaran Sumatra. Orang tersebut bernama Dja Endar Moeda, mantan guru yang memulai karir di bidang jurnalistik di ibukota Province Sumatra’s Westkust ini. Dja Endar Moeda kali pertama dikenakan pasal delik pers tahun 1907 dengan hukuman cambuk dan diusir dari Kota Padang. Dja Endar Moeda, orang pribumi pertama yang menjadi editor surat kabar adalah orang pertama di Hindia Belanda pasal delik pers diterapkan.

Parada Harahap datang kali pertama ke Kota Padang pada tahun 1919, tidak lama setelah mendirikan surat kabar bernama Sinar Merdeka di Kota Padang Sidempuan (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-09-1919). Parada Harahap datang ke Kota Padang tidak dalam urusan melancong tetapi dalam status terdakwa karena tengah berurusan dengan hukum dalam soal pengenaan pasal delik pers kepada dirinya sebagai editor Sinar Merdeka. Akhirnya keputusan pengadilan ingkrah dan harus dibui di penjara Kota Padang Sidempoean (kelak di penjara yang sama Adam Malik yang masih berusia 17 tahun pernah menjadi penghuni karena urusan politik). Untuk kasus hukum yang dianggap besar kala itu pengadilannya di Kota Padang (belum ke Kota Medan).

Sejarah Kota Padang (30): Ragam Monumen di Padang, Medan dan Batavia; Michiels, Greve, Minangkabau, Sumatranen Bond

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Kota Padang terkenal dengan banyak monument. Di Kota Medan hanya terdapat satu monument yakni Monumen Tamiang. Di Batavia terdapat dua monumen terkenal: Monumen Atjeh dan Monumen Michiels. Monumen-monumen tersebut sebagai peringatan di era kolonial Belanda telah dihancurkan pada era pendudukan Jepang dan era pasca kedaulatan RI oleh Belanda.

Monumen di Kota Medan

Monumen Greve di Kota Padang
Monumen Tamiang hanya terdapat di Kota Medan. Monumen ini dibangun di Esplanade (kini Lapangan Merdeka) tahun 1894. Monumen ini dibangun untuk mengenang Perang Tamiang yang telah membawa korban banyak diantara tentara Belanda dan para hulubalangan Kesultanan Deli.

Pada April 1893 suatu ekspedisi militer dikirim ke Tamiang melalui jalur sungai Tamiang. Ekspedisi ini datang dengan kapal besar yang di dalamnya juga terdapat para hulubalang Kesultanan Deli.

Hal ini boleh jadi karena militer Belanda kekurangan balabantuan dari Jawa dan Ambon yang masih terkonsentrasi di Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dan Bataklanden. Jika di wilayah DOM lainnya jarang terjadi tetapi di pantai timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust) benar-benar terjadi. Boleh jadi Sultan Deli dan parahulubalang Kesultanan Deli memiliki dendam terhadap para hulubalang dari Atjeh.

Sejarah Kota Padang (29): Sejarah Kesusasteraan Indonesia di Kota Padang; Willem Iskander, Sastrawan Pejuang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Kesusasteraan Indonesia sesungguhnya adalah terdiri dari kesusateraan berbahasa daerah seperti berbahasa Melayu, berbahasa Jawa, berbahasa Sunda, berbahasa Minangkabau, berbahasa Batak dan lain sebagainya. Namun karena para pemuda sudah menetapkan Bahasa Indonesia pada Kongres 1928, maka Kesusasteraan Indonesia seharusnya kesusasteraan berbahasa Indonesia. Kesusasteraan Indonesia berbahasa daerah dengan sendirinya tamat.

Dja Endar Moeda, Sastrawan
Tentu saja pemenggalan serupa itu akan membuat HB Jassin marah, sebab periodisasi kesusasteraan sudah dipatenkan oleh HB Jassin (yang terus kita ikuti hingga sekarang). HB Jassin membuat kategori kesusasteraan Indonesia berdasarkan angkatan: Angkatan Balai Pustaka (1920-an); Angkatan Pujangga Baru (setelah 1933); Angkatan 1945 (Pendobrak), dan Angakatn 1966 (Orde Lama). Periodisasi serupa itu, HB Jassin menganggap karya-karya Balai Pustaka (1920an) adalah titik tolak ‘sastra Indonesia modern’. Sedangkan karya-karya sastra sebelum itu dikategorikannya sebagai ‘sastra Melayu lama’. Pertanyaannya: sastra berbahasa daerah masuk kategori yang mana, bukankah sastra bahasa daerah adalah bagian dari Sastra Indonesia?

Akibat dari periodisasi ala HB Jassin tersebut, menempatkan roman berjudul Sitti Nurbaya karya Marah Roesli keluaran Balai Poestaka, secara psikologi sebagai roman pertama Indonesia (modern). Walau mungkin bukan yang pertama, tetapi dalam periode Angkatan Balai Pustaka tersebut, roman Sitti Nurbaya yang paling terkenal.