Tampilkan posting dengan label Sejarah Kota Padang. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Sejarah Kota Padang. Tampilkan semua posting

Sejarah Kota Padang (39): Asal Usul Nama Kota Padang, Mangacu pada Nama Gunung Padang; Kota Bermula Muaro Sungai Arau

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Padang adalah nama kota. Suatu kota yang sudah dikenal sejak lama. Nama Padang, sebagai suatu nama tempat sudah diberitakan dalam surat kabar tahun 1744 (lihat Amsterdamse courant, 11-02-1744). Sejak itu, nama Padang kerap muncul dan nama itu tidak pernah berubah hingga kini.

Peta kuno, 1619 (buatan Portugis)
Ada nama kota yang dapat ditelusuri dan ada juga nama kota yang sulit/tidak diketahui. Beberapa kota mengadopsi nama kampong lama, beberapa kota namanya diperkenalkan oleh orang Eropa/Belanda.

Namun yang tetap menjadi pertanyaan kapan nama Padang diadopsi sebagai nama tempat utama (hoofdplaats) yang menjadi Kota Padang? Lantas, apa arti nama Padang, bagaimana asal-usulnya. Meski pertanyaan ini tidak terlalu penting, tetapi menelusuri asal-usul nama Kota Padang tentu menarik. Mari kita lacak! 

Sejarah Kota Padang (38): Riwayat Banjir di Kota Padang, Dari Tsunami hingga Banjir Kanal (Banda Bakali)

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Kota Padang, selain rawan gempa, sesungguhnya rawan banjir. Dampak gempa terbesar yang dialami Kota Padang akibat gempa adalah munculnya tsunami pada tahun 1797. Sedangkan banjir sendiri di Kota Padang dikhawatirkan dapat muncul kapan saja. Curah hujan yang tinggi dengan Kota Padang yang relatif datar, kapan saja bisa muncul banjir Bandang dari hulu yang memiliki kemeringan yang tajam. Kota Padang memiliki riwayat banjir yang cukup panjang.


Peta Kota Padang (kanal), 1929
Kota Padang pada tahun 2012 dan 2016 terjadi banjir besar: genangan air tinggi dan cakupan wilayah banjir sangat luas. Peristiwa itu begitu dekat, tapi sesungguhnya Kota Padang sendiri memiliki riwayat banjir yang cukup panjang. Kanalisasi (pembuatan kanal di Kota Padang) di era Belanda adalah upaya menangkal banjir. Namun mengapa banjir terus menghantui Kota Padang hingga kini?

Untuk memahami banjir di Kota Padang, mari kita telusuri riwayat banjir yang pernah terjadi di Kota Padang. Catatan banjir di Kota Padang sesungguhnya cukup tersedia, namun sejauh ini belum pernah dikompilasi. Upaya pengumpulan data banjir ini diperlukan untuk memahami pola-pola banjir di Kota Padang dan bagaimana solusi-solusi yang pernah diterapkan. Pola-pola banjir dan solusi yang pernah ada di masa lampau dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam perencanaan penanggulangan bahaya banjir di Kota Padang. Mari kita lacak!

Sejarah Kota Padang (37): Daftar Panjang Gempa di Kota Padang; Tercatat Sejak 1797 (Tsunami) dan Gempa Besar 1926 (Bencana)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Kota Padang sudah sedari dulu kerap gempa. Dari tahun ke tahun jaraknya sangat pendek. Gempa pertama yang tercatat terjadi pada tahun 1822. Sejak itu tahun-tahun kejadian gempa di Kota Padang terbilang tercatat dengan baik. Daftar panjang gempa bumi di Kota Padang berikut ini untuk melengkapi catatan gempa di Kota Padang yang selama ini masih minim.

Reruntuhan gempa 1926.
Riwayat pencatatan gempa di Kota Padang terlaporkan secara baik terkait dengan kehadiran Pemerintah Hindia Belanda yang dimulai sejak tahun 1819. Pada era sebelumnya (VOC) dan era Inggris kurang terlaporkan. Gempa dalam bahasa Belanda adalah aardbeving atau aardschok.

Peristiwa gempa terbesar sejauh ini di Kota Padang adalah gempa yang terjadi pada tahun 1797 dan 2009. Dengan membandingkan kota-kota lain, Kota Padang terbilang cukup sering peristiwa gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi tahun 28 Juni 1926 juga terbilang sangat luas dan memakan banyak korban dan kerugian materi yang sangat besar. Kejadian gempa bumi 1926 ini dianggap sebagai bencana.

Sejarah Kota Padang (36): Upaya Transfer Kualitas Pendidikan di Padang ke Fort de Kock; Willem Iskander, Pionir Pendidikan Modern Indonesia

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Introduksi pendidikan aksara latin di Sumatra dimulai di Kota Padang. Ini sehubungan dengan pengadaan guru di Kota Padang tahun 1822, dua tahun setelah Pemerintah Hindia Belanda di mulai (lihat Almanak 1822). Namun introduksi ini tidak berkembang karena situasi dan kondisi diliputi suasana perang. Pengiriman guru terhenti.

Pionir Pendidikan Indonesia
Setelah usai perang (1837), program pendidikan dimulai lagi. Asisten Residen Agam. Steinmez mulai mendirikan sekolah tahun 1842 (lihat TJ Willer, 1846). Di Mandailing dan Angkola, yang baru memulai pemerintahan sipil pada tahun 1840, TJ Willer (Asisten Residen) menganjurkan perlunya diselenggarakan pendidikan bagi penduduk.

Kweekschool Fort de Kock Didirikan

Tidak diketahui kapan pendidikan dimulai di Afdeeling Mandailing dan Angkola, tetapi pada tahun 1854 sudah ada dua siswa asal Afdeeling Mandailing dan Angkola yang tiba di Batavia untuk mengikuti studi kedokteran (Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855). Dua siswa ini merupakan dua siswa pertama yang diterima di sekolah kedokteran tersebut yang berasal dari luar Djawa. Sekolah kedokteran di Batavia ini kemudian dikenal sebagai Docter Djawa School (cikal bakal STOVIA).

Sejarah Kota Padang (35): Mohamad Sjafei, Tokoh Pendidikan di Sumatera Barat; Soetan Goenoeng Moelia, Guru Bergelar Doktor

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Mohamad Sjafei dan Soetan Goenoeng Moelia dua tokoh pendidikan Indonesia satu generasi: lahir tahun 1896 dan meninggal 1966. Mohamad Sjafei lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, Soetan Goenoeng Moelia lahir di Padang Sidempuan, Tapanuli. Masa hidup keduanya sama-sama 70 tahun. Mereka berdua sama-sama aktif di bidang pendidikan, sama-sama pernah studi di Belanda dan sama-sama bergelar Doktor. Keduanya juga sama-sama mantan Menteri Pendidikan.

Soetan Goenoeng Moelia dan Mohamad Sjafei (foto Wikipedia)
Soetan Goenoeng Moelia adalah Menteri Pendidikan yang kedua menggantikan Menteri Pendidikan yang pertama, Ki Hadjar Dewantara. Soetan Goenoeng Moelia lalu digantikan Mohamad Sjafei sebagai Menteri Pendidikan yang ketiga.

Mohamad Sjafei adalah pendiri INS (Indonesisch-Nederlandse School) Kajoetanam (1926). Mohamad Sjafei mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari IKIP Padang (1968). Soetan Goenoeng Moelia adalah pendiri UKI (Universitas Kristen Indonesia) Jakarta (1954). Soetan Goenoeng Moelia meraih gelar Doktor (Ph.D) dari Universiteit Leiden tahun 1933.

Sejarah Kota Padang (34): Aboe Bakar Djaar, Wali Kota Padang Pertama; Ahli Hukum Pribumi Pertama di Kota Padang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Aboe Bakar Djaar, kisahnya kurang diketahui karena tidak ada yang pernah menulisnya. Padahal Aboe Bakar Djaar adalah Wali Kota Padang Pertama. Aboe Bakar Djaar menjadi wali kota di Kota Padang segera setelah Indonesia Merdeka. Padahal orang pertama segera setelah merdeka adalah orang Indonesia yang paling kapabel dan sesuai saat itu untuk memimpin Kota Padang. Aboe Bakar Djaar adalah bagian dari sejumlah orang-orang Indonesia terbaik yang memulai negara Indonesia, yakni negara Indonesia yang sekarang.

Aboe Bakar Djaar di Kota Padang ternyata tidak sendiri. Masih banyak nama-nama orang Indonesia pertama di kota lainnya yang memulai negara tidak terinformasikan dengan baik (lengkap dan akurat), seperti Mr. Loeat Siregar (wali kota Medan pertama), Dr. Radjamin Nasoetion (wali kota Surabaya pertama), Mr. Abdoel Abbas Siregar (residen Lampung pertama) dan lainnya.

Pendidikan dan Awal Karir

Bataviaasch nieuwsblad, 15-05-1925
Aboe Bakar Djaar memulai pendidikan tinggi pada sekolah hukum di Rechtschool di Batavia. Pada tahun 1925 sejumlah mahasiswa ditempatkan di berbagai kota untuk magang sebagai panitera di kantor pengadilan. Mereka itu antara lain, Aboe Bakar Djaar di Landraad Kota Padang dan Soetan Mangasa Pintor di Landraad Kota Medan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 15-05-1925). Penempatan ini juga menjadi proyeksi untuk bekerja di kantor-kantor pengadilan tersebut setelah mereka lulus kuliah. Aboe Bakar Djaar dinyatakan lulus di Rechtschool Batavia pada bulan November tahun 1926 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-11-1926).

Sejarah Kota Padang (33): Edward Douwes Dekker di Kota Padang; Controleur Natal, Dibuang di Tengah Bangsanya Sendiri

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Edward Douwes Dekker atau Multatuli pada tahun 1843 dipecat dari jabatannya sebagai Controleur di Afdeeling Natal lalu ditelantarkan (dibuang) di Kota Padang. Edward Douwes Dekker yang dalam status dibuang tidak diizinkan bertemu dengan istri yang tinggal di Kota Batavia. Selama hampir setahun, Edward Douwes Dekker terlunta-lunta di Kota Padang, di tengah-tengah bangsanya sendiri. Sangat tragis dan itu terjadi di era kolonial Belanda.
 
Het vrije volk, 28-03-1956
Afdeeling Natal, Residentie Air Bangies, Province Sumatra’s Westkust. Pada tahun 1846 Residentie Air Bangies dihapus, lalu afdeeling Natal dimasukkan ke Residentie Tapanoeli menyusul afdeeling Mandailing en Angkola yang dimasukkan ke Residentie Tapanoeli tahun sebelumnya.

Apa pasal? Edward Douwes Dekker respek terhadap perlawanan yang dilakukan oleh sebagian penduduk Mandailing en Angkola terhadap kebijakan koffiestelsel. Soetan Mangkoetoer di Mandailing dan Ranggar Laoet di Angkola memimpin perlawanan terhadap Belanda. Sebagian penduduk melarikan diri ke Sumatra’s Oostkust dan Semenandjong Malaya. Dalam situasi kondisi serupa inilah Edward Douwes Dekker melihat penderitaan rakyat dan simpati terhadap pemimpin pribumi yang memimpin perlawanan.

Sejarah Kota Padang (32): Soepoetro Brotodihardjo, Gubernur Sumatera Barat 1965-1967; Wali Kota Tegal

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Soepoetro Brotodihardjo pernah menjabat Gubernur Sumatera Barat yang berkedudukan di Kota Padang selama tiga tahun dari 1965 hingga 1967. Soepoetro Brotodihardjo menggantikan Gubernur Sumatera Barat pertama Kaharudin Datuk Rangkayo Basa (1958-1965), berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 191 Tahun 1965 yang ditetapkan di Djakarta 23 Djuni 1965 oleh Soekarno. Dalam keputusan ini, Soepoetro Brotodihardjo mendjabat djuga sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Gotong Rojong tingkat I Sumatera Barat.

Gubernur Sumatera Barat dalam Wikipedia
Pasca kemerdekaaan RI Sumatra terdiri dari tiga provinsi: Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1956 Provinsi Sumatera Utara dimekarkan dengan membentuk Provinsi Aceh. Pasca PRRI, Provinsi Sumatera Tengah dibubarkan dan kemudian dibentuk tiga provinsi, yang terdiri dari Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau dan Provinsi Djambi. Gubernur pertama Provinsi Sumatera Barat diangkat Kaharudin Datuk Rangkayo Basa. Sementara gubernur di Provinsi Riau diangkat SM Amin Nasoetion (1958-1960) dan dilanjutkan Kaharoeddin Nasoetion (1960-1966).

Soepoetro Brotodihardjo dan Kota Tegal

Soepoetro Brotodihardjo adalah Pegawai Tinggi Ketatapradjaan tingkat I diperbantukan pada Gubernur Kepala Daerah Djawa Tengah di Pekalongan. Soepoetro Brotodihardjo adalah seorang pejabat berprestasi yang kali pertama menjabat sebagai Wali Kota Tegal tahun 1948.

Sejarah Kota Padang (31): Parada Harahap, From Zero to Hero; Radja Delik Pers yang Menjadi The King of Java Press

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Parada Harahap tidak asing dengan Kota Padang. Parada Harahap kerap berurusan ke kota terbesar ketiga di Sumatra ini, Urusan pertama soal delik pers dan urusan kedua soal Sumatranen Bond. Itu dulu, ketika baru memulai merintis kegiatan di bidang pers dan ketika baru memulai aktif di bidang organisasi kebangkitan bangsa. Kini, Parada Harahap telah menjadi The King of Java Press.

Het nieuws van den dag voor NI, 02-09-1919
Dulu, jauh sebelumnya, di Kota Padang terkenal seorang yang kini dijuluki sebagai Radja Persoeratkabaran Sumatra. Orang tersebut bernama Dja Endar Moeda, mantan guru yang memulai karir di bidang jurnalistik di ibukota Province Sumatra’s Westkust ini. Dja Endar Moeda kali pertama dikenakan pasal delik pers tahun 1907 dengan hukuman cambuk dan diusir dari Kota Padang. Dja Endar Moeda, orang pribumi pertama yang menjadi editor surat kabar adalah orang pertama di Hindia Belanda pasal delik pers diterapkan.

Parada Harahap datang kali pertama ke Kota Padang pada tahun 1919, tidak lama setelah mendirikan surat kabar bernama Sinar Merdeka di Kota Padang Sidempuan (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-09-1919). Parada Harahap datang ke Kota Padang tidak dalam urusan melancong tetapi dalam status terdakwa karena tengah berurusan dengan hukum dalam soal pengenaan pasal delik pers kepada dirinya sebagai editor Sinar Merdeka. Akhirnya keputusan pengadilan ingkrah dan harus dibui di penjara Kota Padang Sidempoean (kelak di penjara yang sama Adam Malik yang masih berusia 17 tahun pernah menjadi penghuni karena urusan politik). Untuk kasus hukum yang dianggap besar kala itu pengadilannya di Kota Padang (belum ke Kota Medan).

Sejarah Kota Padang (30): Ragam Monumen di Padang, Medan dan Batavia; Michiels, Greve, Minangkabau, Sumatranen Bond

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Kota Padang terkenal dengan banyak monument. Di Kota Medan hanya terdapat satu monument yakni Monumen Tamiang. Di Batavia terdapat dua monumen terkenal: Monumen Atjeh dan Monumen Michiels. Monumen-monumen tersebut sebagai peringatan di era kolonial Belanda telah dihancurkan pada era pendudukan Jepang dan era pasca kedaulatan RI oleh Belanda.

Monumen di Kota Medan

Monumen Greve di Kota Padang
Monumen Tamiang hanya terdapat di Kota Medan. Monumen ini dibangun di Esplanade (kini Lapangan Merdeka) tahun 1894. Monumen ini dibangun untuk mengenang Perang Tamiang yang telah membawa korban banyak diantara tentara Belanda dan para hulubalangan Kesultanan Deli.

Pada April 1893 suatu ekspedisi militer dikirim ke Tamiang melalui jalur sungai Tamiang. Ekspedisi ini datang dengan kapal besar yang di dalamnya juga terdapat para hulubalang Kesultanan Deli.

Hal ini boleh jadi karena militer Belanda kekurangan balabantuan dari Jawa dan Ambon yang masih terkonsentrasi di Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dan Bataklanden. Jika di wilayah DOM lainnya jarang terjadi tetapi di pantai timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust) benar-benar terjadi. Boleh jadi Sultan Deli dan parahulubalang Kesultanan Deli memiliki dendam terhadap para hulubalang dari Atjeh.

Sejarah Kota Padang (29): Sejarah Kesusasteraan Indonesia di Kota Padang; Willem Iskander, Sastrawan Pejuang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Kesusasteraan Indonesia sesungguhnya adalah terdiri dari kesusateraan berbahasa daerah seperti berbahasa Melayu, berbahasa Jawa, berbahasa Sunda, berbahasa Minangkabau, berbahasa Batak dan lain sebagainya. Namun karena para pemuda sudah menetapkan Bahasa Indonesia pada Kongres 1928, maka Kesusasteraan Indonesia seharusnya kesusasteraan berbahasa Indonesia. Kesusasteraan Indonesia berbahasa daerah dengan sendirinya tamat.

Dja Endar Moeda, Sastrawan
Tentu saja pemenggalan serupa itu akan membuat HB Jassin marah, sebab periodisasi kesusasteraan sudah dipatenkan oleh HB Jassin (yang terus kita ikuti hingga sekarang). HB Jassin membuat kategori kesusasteraan Indonesia berdasarkan angkatan: Angkatan Balai Pustaka (1920-an); Angkatan Pujangga Baru (setelah 1933); Angkatan 1945 (Pendobrak), dan Angakatn 1966 (Orde Lama). Periodisasi serupa itu, HB Jassin menganggap karya-karya Balai Pustaka (1920an) adalah titik tolak ‘sastra Indonesia modern’. Sedangkan karya-karya sastra sebelum itu dikategorikannya sebagai ‘sastra Melayu lama’. Pertanyaannya: sastra berbahasa daerah masuk kategori yang mana, bukankah sastra bahasa daerah adalah bagian dari Sastra Indonesia?

Akibat dari periodisasi ala HB Jassin tersebut, menempatkan roman berjudul Sitti Nurbaya karya Marah Roesli keluaran Balai Poestaka, secara psikologi sebagai roman pertama Indonesia (modern). Walau mungkin bukan yang pertama, tetapi dalam periode Angkatan Balai Pustaka tersebut, roman Sitti Nurbaya yang paling terkenal.

Sejarah Kota Padang (28): Volksraad dan Mangaradja Soangkoepon; Sumatra, Pintu Gerbang Indonesia, Bukan Pintu Belakang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Mangaradja Soangkoepon protes keras. Mangaradja Soangkoepon melakukan protes keras karena punya alasan yang kuat untuk menyatakan secara terbuka bahwa Sumatra adalah ‘pintu gerbang Indonesia’ dan bukan pintu belakang. Statement ini dikemukakan  Mangaradja Soangkoepon di parlemen pusat (Volksraad) tahun 1931 untuk menyindir pemerintah Hindia Belanda dan anggota Volksraad yang berasal dari Jawa yang membangun Indonesia hanya terkonsentrasi di Jawa dan mengabaikan pulau-pulau besar lainnya.

Volksraad, 1930
Protes Mangaradja Soangkoepon muncul seiring dengan semakin seringnya istilah ‘orang seberang’ untuk memperkuat eksklusivitas mainstream pembangunan berada di Jawa, dan luar Jawa sebagai pelengkap. Kota-kota besar di Sumatra seperti Medan, Padang dan Sibolga adalah muara ekspor utama ke Eropa. Namun kenyataannya hanya prinsip ‘trickle down effect’ yang dilestarikan: Luar Jawa hanya kebagian jika di Jawa sudah meluber.

Mangaradja Soangkoepon

Mangaradja Soangkoepon dan Mohammad Hoesni Thamrin adalah ‘duo vokalis’ terpenting di Pedjambon, tempat anggota dewan Volksraad bersidang (kini di Senayan). Mangaradja Soangkoepon memiliki koneksi yang baik dengan semua anggota dewan dari Sumatra dan M. Hoesni Thamrin dari Betawi. MH Thamrin yang merupakan anggota dewan dari Kaoem Betawi tampaknya mendukung statement Mangaradja Soangkoepon.

Sejarah Kota Padang (27): Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan Mohamad Hatta di Belanda; Parada Harahap dan PPPKI

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Sejarah Mohammad Hatta sudah ditulis seluruhnya. Namun masih ada catatan yang tercecer yang kiranya perlu diungkapkan. Ini soal organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia. Organisasi-organisasi yang selalu berkaitan dengan tokoh-tokoh muda dari Pantai Barat Sumatra. Sebagaimana diketahui, organisasi pemuda (pelajar) di Belanda yang diberi nama baru tahun 1921 Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) diketuai oleh Mohammad Hatta adalah transformasi Indisch Vereeniging yang didirikan oleh Soetan Casajangan tahun 1908.

Trio Revolusioner: Parada Harahap, Soekarno dan Moh. Hatta
Perhimpunan Pelajar Indonesia adalah transformasi Indisch Vereeniging yang sempat disela oleh kelahiran Sumatrane Bond di Belanda. Indisch Vereeniging dan Sumatranen Bond didirikan sebagai respon terhadap Jawa sentris yang diusung oleh Boedi Oetomo. Sedangkan Perhimpunan Pelajar Indonesia didirikan untuk merekatkan kembali anak bangsa yang memicu lahirnya Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Integrasi vs Disintegrasi

Dalam awal pembentukan bangsa Indonesia sesungguhnya sudah ada soal disintegrasi. Perhimpunan Hindia (Indsich Vereeniging) yang didirikan tahun 1908 di Belanda secara terbuka adalah awal untuk merekat bangsa yang terpisah-pisah dan tempat-tempatnya satu sama lain berjauhan. Indsich Vereeniging didirikan di satu sisi untuk merespon Boedi Oetomo (bersifat kedaerahan) dan di sisi lain untuk meluruskan kembali peran Medan Perdamaian (bersifat nasional) yang didirikan Dja Endar Moeda tahun 1900 di Kota Padang.

Sejarah Kota Padang (26): Jong Sumatranen Bond Didirikan di Belanda (1917); Kongres Sumatranen Bond Pertama di Kota Padang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Jong Sumatranen Bond adalah nama pop perserikatan pemuda Sumatra. Pada awal pendirian perserikatan pemuda Sumatra ini di Batavia hanya disebut Sumatranen Bond. Oleh karena pendiri, pengurus dan anggotanya adalah para pemuda (yang berkembang di kalangan mahasiswa dan pelajar) yang berasal dari (pulau) Sumatra maka nama publiknya ke permukaan disesuaikan dengan nama Jong Sumatranen Bond agar setara dengan Jong Java yang sudah lebih awal didirikan.

De Sumatra post, 17-01-1918
Jong Sumatranen Bond adalah semacam sayap (pemuda) Sumatranen Bond, seperti halnya Jong Java sayap (pemuda) dari Boedi Oetomo. Dalam perkembangannya dua perserikatan pemuda ini muncul Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Islamieten Bond dan sebagainya. Selain menggunakan terminologi (bahasa) Belanda ada (kalan) juga menggunakan terminology (bahasa) Melayu: jong=pemuda dan bond=sarikat.

Sumatra Sepakat

Perserikatan pemuda asal (pulau) Sumatra pertama kali diproklamirkan di Belanda pada tanggal 1 Januari 1917. Ide perserikatan pemuda asal Sumatra ini timbul sebagai respon terhadap munculnya Jong Java seiring dengan semakin menguatnya Boedi Oetomo (yang disokong pemerintah). Pendirian perserikatan pemuda asal Sumatra di Belanda ini diberi nama Sumatra Sepakat yang mana ketuanya adalah Sorip Tagor (kelak lebih dikenal sebagai ompung dari Inez/Risty Tagor).

Sejarah Kota Padang (25): Organisasi Sosial Pribumi Pertama di Kota Padang; ‘Medan Perdamaian’ Lebih Tua dari ‘Boedi Oetomo’

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia, bukanlah ‘Boedi Oetomo’ (yang didirikan tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta). Organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia justru dimulai pendiriannya di Kota Padang yang diberi nama ‘Medan Perdamaian’. Organisasi 'Medan Perdamaian' bersifat nasional (multi etnik) ini didirikan bahkan jauh sebelum adanya organisasi Boedi Oetomo yang bersifat kedaerahan (Jawa).

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900
Sebagaimana diketahui hari lahir organisasi Boedi Oetomo bahkan kemudian dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional: 20 Mei. Pada hari lahir Boedi Oetomo diperingati setiap tahun sebagai Hari Kebangkitan Nasional padahal kenyataannya lebih tepat sebagai Hari Kebangkitan Nasional di (pulau) Jawa. Memang Boedi Oetomo kemudian mengusung kebangkitan nasional, namun itu setelah organisasi-organisasi kebangkitan nasional daerah lain lebih dulu menyatakan partisipasinya. Organisasi kebangkitan nasional seluruh daerah ini ditandai dengan didirikannnya supra organisasi tahun 1927 yang dikenal sebagai (organisasi) PPPKI (Pemoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangkitan Indonesia).

Bukti Medan Perdamaian lebih tua dari Boedi Oetomo dipertegas seorang pejabat pemerintah ketika Boedi Oetomo akan mengadakan Kongres Boedi Oetomo yang pertama. Disebutkan bahwa di luar Djawa sudah ada asosiasi sejenis. (seperti misalnya) Medan Perdamaian di Fort de Kock yang didirikan tanggal 17 Oktober 1907. Sementara asosiasi (organisasi) Boedi Oetomo baru didirikan tanggal 20 Mei 1908 di Batavia

Sejarah Kota Padang (24): Pers Pribumi Bermula di Kota Padang; Dja Endar Moeda, Raja Persuratkabaran di Sumatera

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Hari ini, tanggal 3 Mei diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day 2017). Tahun ini yang menjadi tuan rumah adalah Indonesia.  Peringatan Kebebasan Pers sedunia ini dari tanggal 1-4 Mei dipusatkan di JCC, Senayan, Jakarta. Jumlah delegasi yang hadir hampir 1.000 insan pers dari lebih 100 negara.

Surat kabar 'Pertja Barat' di Kota Padang
Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa tahun 1993 menetapkan 3 Mei sebagai hari untuk memeringati prinsip dasar kemerdekaan pers. Sejak itu, 3 Mei diperingati. Kebebasan pers di Indonesia dimulai tanggal 23 September 1999 sehubungan dengan pengesahan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers yang didalamnya mencabut wewenang pemerintah untuk menyensor dan membredel pers.

Pers pribumi (baca: Pers Indonesia) dimulai di Kota Padang (1897). Ini bermula ketika kali pertama orang pribumi menjabat sebagai editor surat kabar. Pers internasional Indonesia juga juga dimulai di Kota Padang (1905). Ini bermula ketika orang pribumi menerbitkan surat kabar berbahasa Belanda agar bisa dibaca oleh orang asing (Eropa) di Kota di Kota Padang.

Sejarah Kota Padang (23): PRRI, ‘Pertarungan Pemimpin Republik Indonesia’; Soekarno vs Hatta, Nasution vs Lubis

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Soekarno dan Hatta (Java-bode, 16-09-1957)
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) vs Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah sepenggal kisah buruk dalam perjalanan RI. PRRI boleh jadi mungkin tidak sungguh-sungguh ingin berperang secara revolusioner, karena bukan itu tujuannya. NKRI juga boleh jadi mungkin tidak sungguh-sungguh ingin menyerang kubu PRRI secara membabi buta, karena bukan itu misinya. Pemerintah RI mengutus tiga delegasi: Delegasi pertama dipimpin oleh Abdoel Haris Nasution. Delegasi kedua dipimpin oleh Eny Karim. Delegasi ketiga oleh Djoeanda dan Sanusi. Pemimpin PRRI 'kurang sepakat' dengan hasil perundingan tiga delegasi. Ultimatum RI juga tidak digubris PRRI. Presiden Soekarno ingin melakukan penyerangan. Pertama, Soekarno meminta M. Hatta persetujuan, M. Hatta menolak. Kedua, Soekarno memerintah Abdoel Haris Nasoetion menyerang, Abdoel Haris Nasoetion mendelegasikan kepada Achmad Yani. Foto Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-09-1957

Sejarah Kota Padang (22): Eny Karim, Tokoh Berasal dari Tapanuli? Lika Liku Menelusuri Sejarah Masa Lampau

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Eny Karim adalah tokoh penting di Sumatera Barat maupun di Sumatera Utara. Namun, sejauh ini sangat sulit mendapatkan data dan informasi tentang Eny Karim. Informasi tentang Eny Karim yang ada di Wikipedia terbilang minim jika dibandingkan dengan kiprahnya. Adakah data dan informasi tentang Eny Karim terjadi missing link?

Eny Karim (wikipedia_
Menelusuri data dan informasi tentang Eny Karim sangat melelahkan. Petunjuk bahwa Eny Karim berasal dari Tapanuli sudah saya temukan beberapa tahun yang lalu ketika menulis serial artikel Kota Medan. Petunjuk ini juga muncul ketika menulis serial artikel Kota Bandung. Lantas apakah dalam serial artikel Kota Padang ini dapat menambah keterangan siapa dan bagaimana Eny Karim?

Di dalam Wikipedia, dengan melihat sepintas namanya, Eny Karim disebut seorang putri padahal Eny Karim adalah putra. Ini menunjukkan bahwa mengidentifikasi siapa Eny Karim memang tidak mudah. Suatu teka-teki. Untuk kelengkapan sejarah nasional, tantangan untuk menjawab teka-teki tersebut masih menggoda meski penelusurannya terbilang cukup berlika-liku.

Sejarah Kota Padang (21): Abdoel Hakim, Satu-Satunya Orang Pribumi yang Menjadi Wakil Wali Kota di Era Belanda (1931-1942)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Jabatan wali kota (Burgemeester) sesungguhnya baru diadakan pada tahun1916 di Kota Batavia dan Kota Soerabaja. Kemudian menyusul di Kota Medan (1918) dan Kota Bandung (1920). Di Kota Padang sendiri jabatan wali kota kali pertama diadakan tahun 1928. Tidak semua kota di Hindia Belanda memiliki walikota. Fungsi pemerintahan di kota-kota lainnya dilaksanakan oleh Asisten Residen. Namun tidak semua wali kota didampingi oleh wakil wali kota (Loco Burgemeester).

Dr. Abdoel Hakim (1949)
Kota Padang diubah statusnya menjadi kota (gemeente) pada tanggal 1 April 1906 (Kota Medan pada tahun 1909). Suatu kota dibentuk menjadi gemeente karena hal khusus: kepadatan penduduk yang tinggi dan keragaman suku bangsa, dan yang lebih penting kota dinominasikan untuk mampu membiayai sendiri (dalam arti ekstensifikasi dan intensifikasi pajak). Untuk perencanaan dan pengawasan dibentuk dewan kota (gemeenteraad) yang melibatkan orang-orang non Eropa/Belanda untuk fungsi legislatif. Pimpinan dewan berada di tangan Asistem Residen. Setelah adanya wali kota (Burgemeester) fungsi eksekutif dan legislatif berada di tangan wali kota.

Dalam sejarah Hindia Belanda (baca: Indonesia), hanya ada dua kota (gemeente) yang pernah memiliki wakil wali kota (loco burgemeester) yang berasal dari orang pribumi. Dua wakil wali kota tersebut adalah M. Husni Thamrin di Kota Batavia dan Abdoel Hakim di Kota Padang. Menariknya, jabatan wakil wali kota Kota Padang ini dipegang Abdoel Hakim selama 11 tahun (1931-1942). Suatu waktu yang terbilang sangat lama bagi seorang wakil wali kota, apalagi pribumi.

Sejarah Kota Padang (20): Sejarah Sepakbola Kota Padang, Ini Faktanya; Bermula di Plein van Rome

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Sepakbola bermula dari orang-orang Eropa. Itu yang ditemukan di berbagai kota seperti di Medan (1891), Batavia (1894), Soerabaja (1889), Semarang dan Bandoeng (1903). Ini berarti sepakbola kali pertama ditemukan di Medan. Meski demikian adanya, namun kompetisi sepakbola kali pertama dilaksanakan di Batavia (1904). Lapangan yang digunakan untuk sepakbola di Medan adalah Esplanade (aloon-aloon), di Batavia adalah Koningsplein (kini lapangan Monas) dan di Bandoeng adalah Pieters Park (kini taman Balai Kota). Sementara di Kota Padang adalah Plein van Rome (kini Lapangan Imam Bonjol).

Plein van Rome, Alang Lawas Padang (1930)
Salah satu klub yang berkompetisi di Batavia (Bataviasch Voetbal Bond) adalah Docter Djawa Voetbalclub. Klub ini pemainnya adalah mahasiswa Docter Djawa School/STOVIA. Secara teknis klub ini adalah klub orang-orang pribumi. Di Medan sudah ada klub orang-orang pribumi, seperti Sultan dan Tapanoeli Voetbalclub. Pada tahun 1907 Docter Djawa VC melakukan pertandingan persahabatan dengan Tapanoeli VC di Medan. Salah satu pemainnya adalah Radjamin Nasoetion. (kelak diketahui Radjamin Nasution adalah pendiri perserikatan Medan dan perserikatan Soerabaja).

Sepakbola di Padang

Sepakbola sendiri di Kota Padang tentu saja sudah dikenal. Siapa yang memperkenalkan sepakbola sudah barang tentu orang-orang Eropa sebagaimana di kota-kota lain. Pada tahun 1908 di Padang dilaporkan terdapat sebanyak 17 klub sepakbola (Soerabaijasch handelsblad, 04-01-1908). Jumlah ini bukan sedikit. Klub-klub tersebut terdiri dari klub orang-orang Eropa/Belanda (sipil dan militer) dan klub-klub orang Melayu, Kling, Arab dan Tionghoa. Klub-klub itu menggunakan lapangan Plein van Rome (Gereja Katolik Roma) yang memiliki empat lapangan sepakbola yang berdampingan yang kualitasnya terbilang baik. Lapangan sepakbola ini berada di Alang Lawas.