Tampilkan postingan dengan label Willem Iskander. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Willem Iskander. Tampilkan semua postingan

Willem Iskander (3): ‘Iskander Effect’, Mengubah Pandangan Pemerintah tentang Pendidikan Pribumi di Jawa

*Untuk melihat semua artikel Willem Iskander dalam blog ini Klik Disini

Pro-kontra tentang pendidikan pribumi di Hindia Belanda telah mencapai puncaknya. Untuk pengembangan pendidikan pribumi, orang Belanda banyak yang setuju tetapi juga banyak yang tidak setuju karena alasan yang berbeda-beda.

Willem Iskander
Dikotomi pendidikan di Hindia Belanda umumnya dialamatkan pada pengembangan pendidikan ETI (Eropa/Belanda) di satu pihak dan pendidikan pribumi di pihak lain. Pendidikan orang-orang Tionghoa dan timur asing lainnya kurang disorot.

Pandangan orang Belanda terhadap pendidikan pribumi di Jawa semakin mendapat tempat setelah adanya laporan Chijs tentang kemajuan pendidikan di Mandailing dan Angkola. Kebijakan pemerintah selama ini telah mendapat perhatian dewan. Argumennya dimulai dari alokasi anggaran yang ada selama ini:

Arnhemsche courant, 13-11-1869: ‘…Hanya ada 7.000 siswa dari jumlah populasi pribumi yang banyaknya 15 juta jiwa. Anggaran yang dialokasikan untuk itu kurang dari tiga ton emas. Hal ini sangat kontras alokasi yang digunakan sebanyak 6 ton emas hanya dikhususkan untuk pendidikan 28.000 orang Eropa… lalu stadblad diamandemen untuk mengadopsi perubahan yang dimenangkan oleh 38 melawan 26 orang yang tidak setuju’.

Setelah adanya perubahan dan kemenangan di parlemen (dewan) oleh yang pro, diantara yang pro ada yang mengungkapkan kekecewaannya selama ini sebagaimana dilaporkan oleh Algemeen Handelsblad, 26-11-1869: ‘…kondisi pendidikan pribumi di Java adalah rasa malu untuk bangsa kita (Belanda). Dua atau tiga abad mengisap bangsa ini, berjuta-juta sumber daya penghasilan telah ditransfer ke ibu pertiwi (Kerajan Belanda), tapi hampir tidak ada hubungannya untuk peradaban pribumi di sini (Hindia Belanda)…’.

Willem Iskander (2): Mendirikan Kweekschool Tanobato (1862), Sekolah Guru Terbaik di Hindia Belanda

*Untuk melihat semua artikel Willem Iskander dalam blog ini Klik Disini

Ketika Willem Iskander berangkat ke Belanda bersama AP Godon, namanya hanya disebut di dalam manifest kapal sebagai juru tulis (bediende). Setelah selesai studi, Willem Iskander telah mengganti namanya menjadi Willem Iskander. Di dalam manifest kapal Petronella Catharina yang membawanya pulang dari Amsterdam disebut W. Iskander (Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 27-07-1861).

Nieuwe Rotterdamsche courant:, 27-07-1861
Kapal yang ditumpangi Willem Iskander langsung ke Batavia. Besar kemungkinan Willem Iskander ingin bertemu dengan pejabat pemerintah di Batavia sebelum pulang kampong di Mandailing en Angkola.

Willem Iskander di Batavia terbilang cukup lama sejak tiba pada bulan Juli 1861. Willem Iskander baru kembali ke Mandailing en Angkola dan tiba dengan kapal Batavia di Padang pada akhir Desember 1861. Dalam manifest kapal namanya hanya disebut Iskander (Bataviaasch handelsblad, 24-12-1861).

Willem Iskander (1): Pionir Pendidikan Indonesia; Pribumi Pertama Studi ke Belanda (1857)

*Untuk melihat semua artikel Willem Iskander dalam blog ini Klik Disini

Willem Iskander adalah pionir pendidikan Indonesia. Willem Iskander tidak hanya orang Indonesia satu-satunya yang memiliki guru berlisensi Eropa tetapi juga mampu mendirikan sekolah guru (kweekschool) terbaik pada era Hindia Belanda di kampungnya di Tanobato, afdeeling Mandailing en Angkola. Willem Iskander meminta perhatian pemerintah untuk mengirim guru studi ke Belanda agar pendidikan di Jawa yang jauh tertinggal dapat lebih berkembang.

Pemerintah mengabulkannya. Namun pemerintah hanya mampu memberi beasiswa kepada tiga guru: Adi Sasminta dari Majalengka, Raden Soerono dari Solo dan Barnas dari Tapanoeli. Namun sebaliknya pemerintah meminta dan memberikan beasiswa kepada Willem Iskander untuk menjadi mentor mereka sambil melanjutkan studi untuk mendapatkan akte kepala sekolah (berlisensi Eropa/Belanda). Selama Willem Iskander di Belanda, Kweekschool Tanobato ditutup dan sebagai gantinya akan didirikan sekolah guru yang lebih besar di Padang Sidempuan yang mana Willem Iskander akan menjadi direkturnya.

Siapa dan bagaimana Willem Iskander sudah pernah ditulis Basyral Hamidy Harahap. Kita sudah cukup puas apa yang kita baca selama ini. Dan kita juga percaya apa yang ditulis tentang Willem Iskander sudah cukup lengkap dan akurat. Akan tetapi, saya baru menyadari ketika seorang kawan mengharapkan saya untuk mendalami kembali dengan lebih cermat dan komprehensif tentang Willem Iskander. Saya juga tergoda untuk membuka kembali data dan informasi yang telah saya miliki tentang Willem Iskander sejak awal hingga akhir.

Serial artikel ini adalah sejumlah artikel yang akan memperkuat tulisan Basyral Hamidy Harahap berdasarkan hasil penelusuran yang telah saya lakukan lima tahun yang lalu. Dalam artikel-artikel berikut, saya melengkapai data dan informasi secara detail dan juga saya pandang perlu untuk menambahkan situasi dan kondisi setiap tahapan perjalanan Willem Iskander. Dengan menyusun urutan waktu pelaporannya dibuat secara kronologis maka secara kontekstual akan lebih jelas. Semua data dan informasi disebut sumbernya agar pihak lain dapat menelusuri kembali. Beberapa temuan di dalam tulisan Basyral Hamidy Harahap akan terkoreksi dan sejumlah fakta (baru) yang terabaikan akan ditampilkan.   

Mari kita mulai dengan artikel pertama. Pembaca harap bersabar, sebab serial artikel Willem Iskander ini saya tulis diantara dua serial artikel yang lain, yakni: Sejarah Kota Medan (baru 54 artikel) dan Sejarah Jakarta (baru 12 artikel).